Wanita: Terjajah Kapitalisme, Dimuliakan Islam

Oleh: Dr. Abdul Khaliq ‘Abdun ‘Ali (Anggota Kantor Hizbut Tahrir Wilayah Sudan)

Seorang aktivis wanita dalam aksi duduk di Al-Jawda mengungkapkan melalui sebuah video mengenai tuntutan paling penting dari para peserta aksi di Rumah Sakit Al-Jawda, Selatan Khartoum. Ia mengatakan bahwa tujuan mereka adalah menuntut anti-kudeta demi menjamin terjaganya kebebasan yang mereka inginkan. Cukup hal itu saja yang mereka serukan, disamping juga menuntut kembalinya momentum revolusi. Dia mengatakan, “Kami turut dalam aksi hari ini sebagai kaum wanita agar kelak kami bisa hidup dan bergerak dengan aman hingga tidak ada lagi yang menganiaya kami. Kami di sini melawan sistem yang sangat besar, sistem patriarki, gaya kepemimpinan paternalistik, serta rezim diktator yang telah menindas kami sejak dahulu.”

Sesungguhnya gerakan pembebasan wanita merupakan gerakan sekularis. Gerakan ini pertama kali muncul di Mesir,  kemudian tersebar di berbagai penjuru negeri Islam. Di mana gerakan ini menyerukan pembebasan wanita dari berbagai adab dan hukum Islam yang berlaku khusus bagi kaum wanita. Mereka ingin terbebas dari aturan hijab, membatasi perceraian, melarang poligami, menyamakan jumlah hak waris, serta meniru wanita Barat dalam segala hal. Gerakan ini menyebarkan propagandanya melalui berbagai asosiasi dan organisasi perempuan di dunia Barat. Sebelum gerakan ini mengkristal dalam bentuk-bentuk propaganda yang terorganisir–dalam rangka pembebasan wanita dibawah sebuah asosiasi yang bernama Al-Ittihad An-Nisa`i—ada landasan teori yang muncul melalui tiga buku dan sebuah majalah yang diterbitkan di Mesir.

Kebebasan, kalimat yang menyilaukan hingga menipu jutaan manusia, termasuk perempuan. Kalimat yang disebarkan oleh Barat kepada kita selama beberapa dekade.

Jika diamati, pakaian terbuka yang mereka ingin kenakan tanpa diawasi ini bermula dari surat kabar dan majalah Arab pada tahun 1925 M. Yakni, hanya setahun setelah runtuhnya Khilafah. Ide ini muncul dengan sangat masif, berani, dan frontal di saat wanita muslimah masih berpegang teguh mengenakan hijab yang sempurna. Tetapi tekanan media, manipulasi, penggiringan opini untuk mengikuti tren mode, memaksa wanita untuk meninggalkan rasa malu, kemudian sedikit demi sedikit mulai meninggalkan hijab dan mengikuti tren. Aliran deras ‘ketelanjangan’ ini terus meningkat dari hari ke hari. Toko mode, majalah wanita Arab, dan kontes kecantikan yang ditayangkan di saluran TV adalah bukti paling nyata dari itu. Bentuk tekanan lainnya adalah mengisi pasar dengan ragam pakaian Barat yang menafikan agama, kesopanan, dan kesucian untuk memaksa wanita memakainya karena tiada atau sulitnya ketersediaan alternatif pengganti berupa hijab yang menjaga kehormatan.

Isu kebebasan perempuan adalah kebohongan tebesar yang dibuat oleh Barat untuk membodohi generasi umat yang lupa atau mengingkari identitas keislaman mereka, sehingga mereka membenarkan apa yang digaungkan Barat berupa slogan-slogan palsu dan menipu, yang menyerukan kebebasan, kesetaraan, dan pembebasan wanita dari belenggu (aturan) yang Islam tetapkan. Padahal, sejatinya kebebasan tidaklah pantas bagi manusia sebagai hakikat manusia, yaitu makhluk yang berfikir. Mereka membutuhkan batasan serta aturan yang benar untuk menjalani hidup mereka. Akan tetapi, Barat malah menyebarkan gagasan kebebasan dan menganggapnya sebagai keuntungan bagi manusia. Tentu saja, hal ini merupakan gagasan yang keluar dari pemikiran yang benar dan mendalam, yang mewajibkan manusia untuk bangkit.

Sebagaimana halnya semua perkara yang bertentangan dengan naluri, dan menyimpang dari jalan yang Allah tetapkan, hal itu tidak bertahan lama di hadapan tuntutan naluri yang kuat. Maka Allah Swt. menolaknya, malah Dia akan meperlihatkan cacat dari klaim-klaim tersebut, bahkan melalui sebagian wanita Barat yang berada dalam bayangan kebebasan sebagaimana klaimnya.

Seorang penulis Amerika yang bernama Phillips McKinley mengatakan dengan rasa kecewa,“Apakah kita wanita setelah mendapatkan kebebasan, akhirnya mengkhianati gender kita, jika kita kembali kepada peran lama kita di rumah? Saya memiliki pendapat yang final terkait hal ini, wanita lebih berhak berada di rumah sebagai ibu rumah tangga. Saya menghargai profesi kami dan pentingnya kami dalam berjalannya aktivitas umat manusia. Bahkan saya pikir posisinya cukup untuk mengisi kehidupan sehari-hari dan hati nurani.”

Marie de Klerk, istri dari mantan presiden Afrika Selatan, mengatakan, “Perempuan tidak dianggap penting dalam naungan kebebasan semu yang melenyapkan eksistensi dan kepribadiannya, serta menjadikannya sasaran empuk eksploitasi mengerikan dari pria dengan naluri menyimpang. Tempat alami bagi perempuan adalah rumah, yang mana di dalamnya ada keluarga, juga tempat mengasuh anak-anak sebagai generasi penerus serta harapan masyarakat akan hari esok yang diinginkan.” Di Swedia, sebanyak 100.000 wanita dari berbagai wilayah ikut serta dalam demonstrasi publik untuk memprotes kemutlakan kebebasan gender.

Orang-orang yang telah mempraktikkan kebebasan tersebut bersaksi, bahwa kebebasan hanya memberi kehinaan bagi seorang wanita. Celakanya, hal paling keliru dari “kebebasan wanita” adalah mengaitkannya dengan kebebasan ala wanita Barat yang serampangan. Bayangkan, berapa besar kehinaan dan kengerian dosa yang diperoleh wanita Barat malang itu. Kebebasan yang mereka yakini itu malah membuat mereka mempersembahkan dirinya ke pelukan kaum lelaki sekaligus menjadikan dirinya sebagai lahan eksperimen serta tujuan bagi orang-orang yang mencari kesenangan sesaat. Sayangnya, mereka masih yakin betul bahwa peradaban mereka telah menjunjung hak-hak perempuan secara sempurna, Sebab mereka kehilangan hak-hak wanita selama bertahun-tahun, dan tidak pernah menikmati rasa aman sekaligus keharmonisan keluarga, yang sebenarnya telah Islam jamin dan jaga bagi setiap wanita muslimah baik secara syar’i dan hukum.

Maka masa depan mayoritas perempuan Barat itu suram; mereka tertawan pada masa tuanya atau menjadi korban permerkosaan, kekerasan, atau bahkan menderita penyakit kronis. Sebagaimana yang telah dikabarkan oleh World Health Organization (WHO) bahwa sensus perkara tersebut sangat membludak. Hal itu akan terus membludak apabila kita mengetahui bahwa di AS saja lebih dari satu juta bayi terbunuh akibat aborsi per tahunnya menurut informasi dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC).

Herannya, orang yang mengaku bagian dari kita, berbicara dengan bahasa kita, malah ingin wanita muslimah—yang merupakan ibu dan saudara perempuannya—menjadi bahan tertawaan para pemuja nafsu yang tidak tahu malu. Ia ingin mereka menanggalkan pakaian dan cadarnya, seakan-akan untuk menjadi “wanita maju” harus telanjang dan berpindah-pindah dari satu pelukan ke pelukan lelaki lainnya.

Wanita muslimah harus sadar bahwa siapapun yang mengaku takut padanya malah harus ia takuti. Sebab, orang itu akan menjelma sebagai serigala yang akan memakan dagingnya; maka jangan pernah memasukkan ‘hewan buas’ ke rumah kalian. Tidak ada agama atau hukum perundang-undangan di muka bumi yang menjaga martabat wanita serta memberikan hak penuh tanpa kurang sedikit pun kecuali Islam.

Diterjemahkan dari Surat Kabar Al-Rayah edisi 402, terbit pada Rabu, 5 Muharram 1444 H/3 Agustus 2022 M

Klik disini untuk mengakses sumber

Hits: 24

Tags

Bagikan tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code