Wahai Muslim Afganistan, Jadikan Kemenanganmu sebagai Kemenangan Islam, Bukan untuk Afganistan Semata

Tidak ada keraguan bahwa Amerika (AS)—negara pertama di dunia—memiliki urusan dan kepentingan internasionalnya sendiri ketika menjajah Afganistan dan Irak. Demikian juga ketika AS menarik diri dari keduanya. Jadi, ada urusan dan kepentingan apa hari ini?

Pertama-tama, kami katakan bahwa penarikan AS dari Afganistan telah membongkar niatnya untuk meninggalkan pendekatan penjajahan negara lain, intervensi militer secara langsung, serta penggunaan kekuatan militernya yang kukuh.

Pendekatan ini merupakan proyek abad ini yang AS adopsi selama era George Bush dan kegubernuran baru. Kemudian, AS kembali ke pendekatan yang berbasis penahanan, aktivitas intelijen dalam pembelian utang piutang, memproduksi penguasa boneka, serta aksi kudeta. Selanjutnya masuk dalam berbagai perjanjian, lalu menjadi pemimpinnya. AS lebih berpegang pada metode perang politik dibandingkan fisik, melakukan pemerasan ekonomi, dan menggunakan berbagai sarananya berbentuk peraturan-peraturan negara.

Negara-negara pun tunduk dan pasrah pada AS tanpa ada perlawanan dan penyerangan, juga tidak menimbulkan kerugian jiwa maupun materi, serta tidak ada orang-orang yang bersedih. Dalam hal ini, Biden berjanji akan menarik mundur negaranya dari Irak dan menjadikan akhir tahun ini sebagai tenggat perjanjiannya.

Sebenarnya, AS telah menyadari—sejak 20 tahun pendudukan di Afganistan—bahwa ia tidak akan mampu menghancurkan dan mengalahkan kekuatan kaum muslim di sana, baik lewat perang pemikiran maupun fisik. Dengan demikian, sesungguhnya agenda umat untuk menegakkan Khilafahlah yang menyebabkan terjadinya penjajahan guna mencegah hal tersebut terealisasi.

Meskipun begitu, ide (agenda) tadi masih terus ada dan tidak tergoyahkan, terlepas dari setiap makar dan tindak kriminal terhadap mereka melalui peperangan dunia. Akan tetapi, semua itu justru dianggap sebagai upaya perang melawan terorisme, yang hal ini merupakan kebohongan dan rekayasa belaka karena yang terjadi adalah sebaliknya.

Sesungguhnya, tindakan AS yang menjadikan kapitalisme global sebagai sistem yang mereka anggap pemimpin, telah terguncang pada 2008 lalu. Tatkala AS mengabarkan penarikan pasukannya dari Afganistan, sebenarnya ia seakan mendeklarasikan kegagalan dalam perang pemikiran dan nilai-nilai kehidupan ini.

Di sisi lain, AS memandang Cina adalah negara yang paling besar memperoleh keuntungan dari peperangan ini dalam mengonsolidasikan posisi internasionalnya, yaitu dengan mengorbankan posisi internasional AS. Seperti laporan para analis dan pengamat internasional bahwa Cina telah menjadi bengkel manufaktur dunia dan mitra dagang pertama dari sebagian besar perekonomian yang memimpin sejak krisis moneter hingga hari ini.

Inilah dorongan utama pertumbuhan ekonomi global. Analis politik setuju betapa mengerikannya tantangan yang ditimbulkan Cina terhadap AS, bahwa persaingan di antara mereka akan mengambil bentuk “persaingan ekstrem”.

Direktur Intelijen Nasional Avril Haynes menyatakan AS harus mengambil sikap berani terhadap ancaman yang ditimbulkan Cina. Di mata Amerika, Cina adalah ‘jin yang sulit dihitung ketika keluar dari botolnya’. Laju pertumbuhan ekonomi Cina yang meningkat memungkinkannya untuk mematahkan kerah komitmen Hukum Moneter Internasional, juga dominasi dan kendali dolar atas pergerakan perdagangan global dan semua pertukaran komersial.

Sementara itu, kondisi peperangan di Afganistan yang berkelanjutan dan terus menguras AS, yang bahkan tidak terlihat celah kemenangan di dalamnya, justru membukakan jalan lebar bagi Cina untuk bersaing memperebutkan posisi negara pertama di dunia. Oleh karenanya, perlu adanya penarikan diri dari kondisi ini.

Meskipun demikian, penarikan diri AS dari Afganistan tampaknya bagian dari rencana yang diharapkan mampu memutarbalikkan keadaan. Rencana tersebut bersandar pada penyibukan Cina dengan permasalahan internalnya yang akan menghabiskan tenaga, seperti penyorotan masalah hak asasi manusia berupa penganiayaan terhadap muslim Uyghur dan upaya terus-terusan untuk menghapus identitas dan tsaqafah Islam mereka. Contoh lainnya adalah perlawanan terhadap perilaku yang melewati batas dengan tekanan koersif di India, tindakan keras di Hong Kong, juga berbagai ancaman di Taiwan.

Ditambah, AS berupaya membangun kompleks Indo-Pasifik, seperti pakta baru AUKUS (Australia, Inggris, AS, ed.) yang diumumkan Presiden Biden bersama Australia dan Inggris, serta memungkinkan Australia memiliki kapal selam bertenaga nuklir untuk menjamin keamanan Indo-Pasifik. Menteri Luar Negeri AS Anthony Blinken baru-baru ini mengatakan, “Bahwasanya aliansi antara AS dan Australia tidak pernah lebih penting dan kuat daripada sekarang.”

Inilah pandangan umum AS di balik penarikannya. Sekarang, rencana baru apa yang diharapkan dapat memerangi kaum muslimin dan menghalangi mereka dari berdirinya negara mereka yang inklusif—yang menyibukkan AS sejak 20 tahun lalu tetapi gagal itu? AS tentu tidak akan membiarkan kaum muslimin mendirikan negara inklusif mereka akibat kegagalannya.

Saat ini, AS menghadapi dua persaingan. Pertama, sesungguhnya AS gagal menghancurkan politik Islam beserta segala syariatnya dalam upaya mendirikan negara saingan AS (Khilafah). Kedua, bahwasanya Cina telah membuat langkah besar di kancah persaingan internasional atas kepemimpinan dunia, sehingga AS harus memperbaikinya dengan membalikkan badan dan terpaksa bekerja sama dengan Cina.

Jadi, apa rencana yang diharapkan AS untuk menghadapi mereka? Yakni, bahwasanya AS ingin menyerang mereka berdua (Cina dan kaum muslimin, ed.) untuk melemahkan keduanya, karena tidak ada jalan lain kecuali ini, karenanya AS mulai menggunakan cara ini.

Pada saat AS mengepung dan membatasi Cina, serta mengelilinginya dengan negara-negara musuh, AS mulai membangun aliansi untuk melawannya. Secara saksama kita perhatikan bahwa AS mencoba membuat “angin kaum muslimin” terbatas pada arah anti-Cina, mengambil keuntungan dari pemusnahan etnis Uyghur, serta berupaya memberi mereka uang dan senjata untuk menghadapinya.

Seperti yang terjadi dengan Uni Soviet ketika memasok senjata yang mematikan dan efektif kepada para pejuang Afganistan. Apa yang memaksa Uni Soviet untuk mundur yang menyeret pada ujung kekalahannya? Singkatnya, AS ingin Cina jatuh sebagaimana jatuhnya Uni Soviet sebelumnya, yang menyebabkan runtuhnya sistem pemikiran dan politiknya.

Dengan yang terjadi saat ini, AS ingin mengantisipasi hilangnya posisi internasionalnya dengan penarikan dirinya. AS berpikir bahwa rencana itu akan berhasil, apalagi jumlah muslim di Cina mencapai puluhan juta. Cina juga dikelilingi negara-negara Islam, berdekatan dan berbatasan dengan perbatasannya. Ini memungkinkan AS untuk mudah menyulut konflik seperti itu, terutama karena telah berkonflik hebat pada jenis konflik ini daripada konflik-konflik lainnya.

Negara-negara Teluk siap untuk patuh dan mempercepat pelaksanaan rencana semacam itu dan berpengalaman dalam hal tersebut—di Bosnia, Herzegovina, Kosovo, dan Afganistan sebelum melawan Uni Soviet, dan sekarang Irak dan Suriah. AS juga memasukkan Turki dan Iran berada di garis intervensi, Suriah dan Irak menjadi saksi terbesar pada hari itu.

AS juga mencoba menetralisasi Rusia dan mengambil manfaat darinya sebagai imbalan atas harga yang harus dibayarkan di suatu tempat di dunia, seperti biasa. Inilah yang diharapkan dan ditunjukkan oleh tindakan dan pernyataan para pejabat Amerika.

Jadi, apa yang harus kaum muslimin di sana lakukan terhadap rencana yang ini? Oleh sebab itu, kaum muslimin tidak boleh terbawa rencana AS, tidak boleh menjadi alat di tangan negara-negara kafir kriminal dan para penguasa negara-negara pengkhianat, agen-agen yang setia kepada Barat dan kebijakannya.

Bahwa tidak ada keselamatan bagi kaum muslimin kecuali dengan agama mereka, khususnya dengan Khilafah yang akan menyatukan kaum muslimin dari kondisi terendah hingga tertinggi, sebagai satu tubuh dalam menghadapi segala rencana terhadap mereka.

Pada saat yang tepat, sesungguhnya penegakan negara Islam merupakan jalan keluar dari setiap makar atau rencana, seberapa tersembunyi atau liciknya rencana itu. Dengan kata lain, rencana ini dari AS atau yang lain, semuanya memungkinkan untuk membawa umat ​​Islam bersatu dalam posisi yang satu, yaitu rida Allah Swt. dengan tegaknya syariat berdasarkan apa yang diturunkan Allah Swt..

Bukankah ini yang AS perangi bersama seluruh masyarakat internasional, termasuk Cina? Mereka tahu betapa berbahayanya seruan ini. AS ingin muslim memerangi Cina dari sudut pandang etnis atau nasional, atau masalah HAM dan hak untuk menentukan nasib sendiri. Akan tetapi, Allah Yang Mahakuasa ingin itu karena keimanan hanya kepada-Nya dan keinginan mengharap rida-Nya yang mulia, serta untuk jihad fi sabilillah semata. Oleh karenanya, Allah adalah sekutu yang paling kaya bagi siapa pun yang menyekutui-Nya.

Merupakan kewajiban bagi kaum muslimin di Afganistan dan selainnya untuk menyadari bahwa Allah mewajibkan penegakan Khilafah kepada mereka. Menilik kembali perkataan para ulama terkait kesatuan pendapat mereka terhadap kewajiban ini, karena ini hanyalah persoalan waktu sampai waktunya tiba dan tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah Swt.

Oleh karena itu, wahai kaum muslimin Afganistan! Jadikanlah kemenanganmu ini kemenangan Islam, bukan bagi Afganistan. Untuk seluruh kaum muslimin, bukan untuk rakyat Afganistan semata. Seruan ini merupakan satu-satunya cara yang memungkinkan untuk menyatukan suku-suku dalam satu kalimat: Kita tidak menyembah selain Allah Swt., tidak menyekutukan-Nya, dan tidak memberdayakan musuh!

Karena itu, bukalah hati kalian, wahai orang-orang saleh yang ikhlas, dan taatilah perintah Allah Swt. sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, ‘Kami mendengar dan kami patuh.’ Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS An-Nur: 59).

Sesungguhnya, upaya penegakan Khilafah merupakan satu-satunya hal yang dapat menyelamatkan kaum muslimin dari setiap krisis yang terjadi atas mereka. Ketika ada Khilafah, semua krisis itu akan terselesaikan. Konspirasi internasional, tipu daya, bahkan kejahatan yang tidak dapat dihentikan.

Karenanya, kaum muslimin harus menyadari fakta ini dan berupaya berdasarkan kesadaran itu. Sekarang butuh adanya ahlu nushrah (para penolong) yang akan mengulurkan tangan kepada para penyeru syariat ini untuk membangunnya secara bersama-sama. Biarkan kaum revolusioner Afganistan dan lainnya layak mendapatkan kehormatan ini.

Allah Swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia, ‘Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?’ Pengikut-pengikut yang setia itu berkata, ‘Kamilah penolong-penolong agama Allah.’ Lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir; maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang.” (QS Ash-Shaf: 14).[]

Diterjemahkan dari Majalah Al-Waie edisi 421 tahun ke-36, terbit pada bulan Safar 1443 H/September 2021 M

Klik di sini untuk mengakses sumber 

Hits: 0

Tags

Bagikan tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code