Revolusi Baru di Mesir dan Pergerakan untuk Masa Depan Dengan Izin Allah

Oleh: Ustaz Said Fadhl, Mesir

Akhir-akhir ini Mesir menyaksikan gerakan revolusioner baru yang tidak stabil, spontan, dan tak terorganisir, merata dari utara hingga selatan Mesir. Gerakan ini tidak dimulai sebagai (sebuah) tanggapan atas seruan siapapun, melainkan murni hasil kemarahan terpendam dalam jiwa rakyat yang dipicu oleh kebijakan rezim destruktif dan kekerasannya dalam menerapkan kebijakan. Terutama kebijakannya belakangan ini berupa penghancuran masjid-masjid dan rumah-rumah dengan dalih penertiban bangunan ilegal.

Kebijakan penghancuran (bangunan) baru-baru ini telah menimpa sekelompok masyarakat yang mungkin tidak menyaksikan kanal Al-Jazeera maupun kanal milik oposisi, bahkan mungkin mereka yang menerima kanal dan media pemerintah. Saat ini mereka menghadapi peristiwa tersebut dan menyadari kebohongan rezim yang tidak mereka sadari sebelumnya. Mereka melihat dengan kedua mata mereka hasil dari kebijakan rezim yang menempatkan seluruh masyarakat dalam krisis nyata yang tak terhindarkan, bahkan propaganda bahwa Ikhwanul Muslimin sebagai penghasut yang berada di balik gerakan tersebut gagal dan tak ada gaungnya. Masyarakat di jalanan justru menyerukan Ikhwanul Muslimin untuk turun (ke jalan), dan bahkan laporan bocor yang dinisbahkan kepada dinas intelijen mengakui bahwa Ikhwanul Muslimin tidak berpartisipasi dan takut akan partisipasi mereka.

Sehingga media pemerintah berupaya abai terhadap peristiwa tersebut seperti yang dilakukan sebelumnya pada awal revolusi Januari. Ini merupakan upaya mencolok yang tersingkap dengan penarikan kembali kebijakan-kebijakan pemerintah meski hanya di permukaan dan mengulur waktu penerapannya demi meredam amarah masyarakat yang turun ke jalan.

Namun, bagaimana dengan orang-orang yang rumahnya dihancurkan di atas kepala mereka, dan bagaimana dengan masjid-masjid yang ditutup dan dibongkar padahal masyarakat telah bekerja keras untuk membangunnya? Sungguh rakyat Mesir telah keluar dengan yel-yel baru: “Laa ilaaha illallah, as-sisi ‘aduwwullah” (Tiada Tuhan selain Allah, Al-Sisi musuh Allah). Dan kami lihat gadis-gadis kecil mengoyak-ngoyak spanduk bergambarkan Sisi, yang mengekspresikan dengan jelas apa yang ditanggung oleh jiwa rakyat dalam menghadapi rezim yang memperlakukan mereka dan menangani urusan dan masalah mereka dengan tongkat keras tanpa belas kasih maupun kemurahan hati, menghukum berat siapapun yang menentang kebijakannya, bahkan menjadi kemalangan yang membayangi kepala mereka, karena percaya dengan ketakutan yang ditanamkan ke dalam jiwa mereka dengan mesin penindasnya.

Hanya saja, perkara Mesir adalah bencana atau pertanda bencana nyata yang mungkin mengakibatkan kekosongan politik. Itu berarti rakyat tidak akan menerima solusi apapun dan batas tuntutan mereka akan terus meningkat, terutama dengan penghinaan yang mereka alami di tangan pemerintah yang diktator. Keyakinan mereka bahwa rezim adalah pendusta, tidak menepati janji-janjinya yang palsu, hanya mundur karena takut akan pergerakan mereka (masyarakat). Jika masyarakat yang mundur, rezim tidak akan mengasihani mereka seperti yang dilakukan sebelumnya, bahkan kebijakannya yang destruktif akan semakin meningkat.

Oleh karena itu segala upaya penambalan tidak akan berhasil karena pakaiannya telah benar-benar usang, dan ketika pakaian telah usang tidak ada jalan keluar untuk mengubahnya. Setiap tambalan kebijakan tidak akan berhasil, sebaliknya justru akan berakibat lebih buruk dan konsekuensinya lebih parah. Bahkan jika situasi dan gerakan revolusioner terus berlanjut selama bertahun-tahun, api akan tertinggal di bawah abu yang suatu saat akan membakar tangan-tangan mereka sebelum (membakar) pakaian itu sendiri.

Pakaian usang disini adalah kapitalisme yang telah memerintah Mesir selama beberapa dekade, yang telah memakan kekayaan alamnya tanpa menyisakan apapun bagi penduduk Mesir. Bahkan dia (kapitalisme) mewariskan kepada mereka (penduduk Mesir) beban-beban utang untuk ditanggung. Dia tidak memiliki solusi untuk segala permasalahan dan krisis, karena ialah penyebab utama segala penderitaan yang dialami negeri ini berupa kemiskinan, kelaparan, dan penyakit. Selain itu, sudah menjadi hal yang wajar bagi rezim penghisap mengosongkan kantong rakyatnya dari sisa tabungan mereka untuk melunasi tagihan utang dan riba yang harus dibayarnya. Sementara dengan sangat anehnya, pemerintah malah menyerahkan mega proyek kepada perusahaan Barat dan menghabiskan uang hasil utang yang dibebankan kepada rakyatnya.

Pergerakan rakyat ini bukanlah yang pertama kalinya, juga tidak akan menjadi yang terakhir kalinya selama Mesir masih dikuasai oleh kapitalisme dan berbagai perangkatnya. Dengan keberadaan mereka (para kapitalis), krisis akan tetap ada dan semakin genting. Masyarakat tak lagi memiliki kesabaran selama beberapa dekade yang akan datang dengan janji-janji palsu dan penjarahan terus-menerus atas kekayaan, simpanan, dan bahkan usaha keras mereka. Oleh karena itu gerakan ini akan terus terjadi dan akan terus ada setelahnya, sekalipun gerakan tersebut tidak memiliki suatu rancangan peradaban yang dibutuhkan dan alternatif dari sistem ini. Revolusi ini akan terus bergerak di antara fase-fase kesadaran, hingga mereka menyadari jalan keberhasilan serta meletakkan tangan mereka pada pada satu-satunya alternatif hakiki.

Sesungguhnya solusi hakiki bagi permasalahan Mesir merupakan suatu hal yang mudah dan dapat diraih. Karena dengan apa yang dimilikinya, berupa sumber daya, kekayaan, energi serta wilayah yang luas yang memungkinkan untuk dihuni dan dihidupkan kembali, membuatnya mampu untuk menjadi negara besar, jika bukan yang pertama. Namun, ini tidak mungkin terwujud di bawah naungan kapitalisme dan segala perangkatnya, serta para pasukan jenderal berkuasa yang menganggap kewajibannya adalah menyerahkan kekayaan negeri kepada Barat dan mengurusi kepentingannya di Mesir dan daerahnya, berapa pun biayanya sebagai imbalan untuk tetap berkuasa.

Oleh karena itu, perubahan apapun itu harus dengan (cara) menumbangkan sistem (kapitalisme) ini beserta alat dan atributnya, juga harus memiliki rancangan pengganti sistem kapitalisme yang mencakup konsep yang jelas tentang pengelolaan berbagai sumber daya alam, produksi kekayaan darinya, serta mendistribusikannya kembali kepada masyarakat dengan adil.

Sesungguhnya alternatif hakiki yang dibutuhkan rakyat adalah penerapan Islam secara sempurna dan menyeluruh, dan ini (telah) berada di tangan mereka meski mereka tidak menyadarinya. Ialah satu-satunya yang dapat menjaga martabat mereka yang telah dihilangkan oleh sistem (kapitalisme). Ia jugalah satu-satunya yang mampu menjadi solusi berbagai problematika yang terjadi di Mesir, serta menjaga kekayaannya. Sistem yang berlandaskan wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang tidak ada kekurangan apapun selain pertolongan yang tulus dan ikhlas dari para tentara Bumi Kinanah (Mesir), yang memungkinkan bagi orang-orang yang ikhlas serta memiliki kesadaran akan hal ini dapat menerapkan Islam, mengatur masyarakat serta mengurusi kemaslahatan mereka sesegera mungkin.

Wahai para tentara Bumi Kinanah yang ikhlas, sesungguhnya kalian menghadapi revolusi umat yang tidak akan pernah reda dan surut hingga kalian menyaksikan bendera Islam berkibar, negaranya ditegakkan dan syariatnya diterapkan. Maka tentukanlah prioritas kalian dan lihatlah kepada siapa keberpihakan kalian, apakah kepada umat dan agama kalian, atau justru kepada pengkhianat yang menjual umat dan negeri kalian, serta memusuhi agama kalian, juga menghancurkan masjid-masjid dan rumah kalian?

Dan ketika tiba saatnya kematian, maka hisab tak akan berguna bagi kalian bahkan berlepas diri dari kalian!

“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti berlepas tangan dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat azab; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus. Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti, “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami”. Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatan mereka yang menjadi penyesalan bagi mereka. Dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.” (Q.S. Al-Baqarah: 166-167)

Apapun yang rezim berikan dan limpahkan kepada kalian berupa upah, kekayaan, dan keistimewaan sebagai suap untuk membeli diamnya kalian atas kejahatan mereka, itu (hanyalah setara dengan) sebagian kecil dari hak-hak kalian yang akan dijamin Islam dalam negaranya. Oleh karena itu janganlah kalian mengambil hak kalian melalui jalan yang haram, dan janganlah mencemari roti kalian dengan darah keluarga kalian yang tertindas di Bumi Kinanah. Sungguh tidak ada keselamatan bagi kalian kecuali dengan keberpihakan kalian pada umat serta agama kalian, juga dengan menolong orang-orang ikhlas yang berjuang untuk menerapkannya. (Yaitu dengan) pertolongan yang penuh keikhlasan karena ingin meninggikan kalimat Allah, serta mengharapkan ampunan-Nya. Semoga Allah Swt. menerima amal kalian dan membukakan jalan-Nya. Kemudian berdirilah negara yang akan memuliakan Islam dan para pengikutnya, yaitu Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah. Ya Allah, percepatlah tegaknya dan jadikanlah Mesir sebagai ibu kotanya, dan jadikanlah kami bagian dari para tentara serta orang-orang yang menyaksikannya.

“Wahai orang-orang yang beriman! penuhilah seruan Allah dan Rasul, apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu….” (Q.S. Al-Anfal: 24)

Diterjemahkan dari Surat Kabar Ar-Rayah edisi 306, terbit pada Rabu, 13 Safar 1442 H/30 September 2020 M

Klik disini untuk mengakses sumber

Visits: 0

Tags

Bagikan tulisan ini

Tulisan menarik lainnya...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Category

Gabung Channel Telegram