Pembunuhan Mohsen Zadeh, Antara Klaim Hak Asasi Manusia dan Kegagalan Pemerintah Iran

Oleh: Ustadz Abu Hamzah Al-Khuthwany

Meskipun Yahudi Israel enggan mengakui pembunuhan ilmuwan nuklir Iran, Mohsen Fakhrizadeh, yang terjadi beberapa hari lalu di Teheran. Namun, semua indikasi mengkonfirmasi peran Yahudi Israel dalam pembunuhan tersebut.

Staf administrasi Trump mengakui hal tersebut secara terang-terangan dari seorang pejabat administratif CNN, kemudian wakil Amerika –yang tidak ingin diungkap identitasnya– mengutip perkataannya yang berbunyi, ” Israel berada di balik tindak pembunuhan ilmuwan Iran yang sejak lama telah menjadi targetnya”. Kabar ini pun telah dikonfirmasi oleh surat kabar New York Times .

Tindak pembunuhan ini membuktikan hakikat sebenarnya atas apa yang selama ini digaungkan Barat terkait hak asasi manusia, yang tidak lain hanyalah dusta dan sia-sia. Ia pun merupakan masalah selektivitas hak asasi manusia yang berada di luar negara-negara Barat, ia berlaku sesuai dengan kepentingan-kepentingan Barat. Contohnya, bisa kita temui bahwa seluruh negara-negara Barat tidak berhenti menyuarakan hak-hak wanita di negeri-negeri Arab, khususnya jika tahanan-tahanan wanita di penjara Saudi misalnya, berpergian tanpa penutup kepala seperti Loujain AlHathloul yang pemberitaannya tidak pernah surut oleh media dari negara-negara ini. Sementara di saat yang bersamaan media-media tersebut pura-pura bodoh terhadap tragedi penangkapan puluhan ulama yang telah mendekam di penjara Saudi selama puluhan tahun hanya karena mereka menentang pandangan pemerintah!

Seminggu yang lalu tujuh orang Duta Besar Eropa secara serentak bergegas menyampaikan penolakan mereka atas penyerahan Al-Hathloul ke pengadilan, begitupula Kementrian Luar Negri Amerika mengungkapkan kecemasannya atas pengadilan Al-Hathloul.

Bagi mereka, hak asasi manusia itu selektif, sesuai kepentingan dan raib seketika ketika berhubungan dengan entitas Yahudi. Jika benar mereka netral, pastilah mereka akan menuntut entitas Yahudi ke pengadilan atas kejahatannya pada hak warga sipil. Atau setidaknya mereka memprotes pembunuhan Zadeh sebagai pembunuhan yang termasuk dalam butir larangan membunuh warga sipil, yang telah diatur dalam undang-undang munafik mereka.

Hal ini dari segi dusta dan kerancuan seruan hak asasi manusia. Adapun dari segi respon Iran sebagai negara dan penguasa, terhadap tindak kriminal pembunuhan Zadeh merupakan respon yang memalukan dan sangat mengecewakan. Di saat keterlibatan entitas Yahudi atas tindak pembunuhan telah dikonfirmasi, Iran tidak melakukan sesuatu pun kecuali ancaman tak berarti sebagai sebuah respon atas peristiwa tersebut. Presiden Iran, Hassan Rouhani mengatakan, “Kami akan membalas di waktu yang tepat”, yang mana respon ini mirip dengan respon Presiden Suriah Bashar Al-Assad atas serangan berulang dari entitas Yahudi di Suriah yang berbunyi, “Kami akan menahan hak balas dendam!” Adapun Menteri Pertahanan Iran berkata, “Kejahatan ini tidak akan dibiarkan begitu saja tanpa hukuman”. Respon-respon seperti inilah yang terbaik yang diharapkan Amerika dan entitas Yahudi untuk mengalihkan tindak kriminal mereka.

Yang menimbulkan lebih banyak keheranan dan kecaman terkait respon Iran atas pembunuhan ini adalah ucapan juru bicara pemerintah Iran, Ali Rabiei, “Intelijen Iran telah memperingatkan pemerintah Iran beberapa bulan dan beberapa hari sebelumnya terkait pembunuhan itu”. Intelijen dan pemerintah Iran telah mengetahui niat entitas Yahudi untuk membunuh Zadeh, namun mereka tetap tidak mencegah pembunuhan ini!

Lembaga Keamanan Negara di Iran telah gagal memberikan penjelasan mengenai proses terjadinya tragedi pembunuhan di atas. Bermacam-macam skenario pembunuhan telah dikemukakan, di antaranya ada yang menyebut penggunaan senjata satelit dalam operasi pembunuhan, ada pula yang menuturkan penggunaan 30-150 unsur kimia. Yang ketiga, menuturkan penggunaan senapan canggih yang pelurunya bisa dikendalikan dari jarak berkilo-kilo meter dan mengenai sasaran dengan tepat. Yang keempat menuturkan adanya ledakan dan pembegalan yang telah mengikuti kendaraan (korban), beserta motor yang dipergunakan untuk melancarkan aksi pembunuhan. Adapun Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, Ali Shamkhani menyimpulkan tragedi tersebut adalah tragedi kebakaran.

Penjelasan-penjelasan bertolak belakang atas tindak pembunuhan ini menunjukkan dua kenyataan:

Pertama: Kegagalan Keamanan Iran dalam menjaga ilmuwan dan instalasi sensitifnya.

Kedua: Pengakuan gagal dalam menghadapi serangan musuh dengan dikemukakannya kemampuan-kemampuan sangat canggih yang dimiliki musuh, sebagaimana yang digunakan dalam tindak pembunuhan tersebut, yang membuat Iran lemah dalam menghadapinya.

Akan tetapi kelemahan dan pengakuan yang terjadi seperti ini, yang selalu terulang dalam setiap  respon Iran saat menghadapi berbagai serangan, sebenanya semakin menunjukkan lemahnya Pemerintah Iran di hadapan serangan Amerika dan entitas Yahudi atasnya, karena penyerangan seperti ini bukan yang pertama kali dan tidak akan menjadi yang terakhir, sebagaimana Yahudi pernah melancarkan pembunuhan pada dua ilmuwan nuklir Iran tahun 2010, namun Iran tidak membalasnya. Hal ini membuat entitas Yahudi terus-menerus melakukan serangan, ia pun melakukan serangan yang bertubi-tubi setelahnya, di antaranya menghancurkan salah satu Instalasi nuklir dan mengambil setengah ton lembaran dan catatan rahasia didalammya, serta menggunakan informasi yang terkumpul dari sana untuk menghujat Iran di PBB, Yahudi juga melakukan berbagai kejahatan baru melawan Iran.

Termasuk ledakan salah satu Reaktor Natanz melalui agen-agennya di jantung instalasi sensitif Iran, namun Iran lagi-lagi tidak berkutik atas peledakan berbahaya tersebut. Hal itu membuat Yahudi semakin lebih berani sampai membunuh para militer Iran di Suriah dan perbatasan Irak-Suriah dengan bom-bom yang diluncurkan pesawat.

Maka, kapan balasan nyata dari Iran atas semua kejahatan yang dilakukan Yahudi ini akan tiba?

Iran telah membuat kita terbiasa dengan istilah “penangguhan hak balas dendam sampai waktu yang tepat”, yang sepertinya tidak akan tiba .

Tidak adanya respon dari Iran bukanlah timbul karena kelemahan militernya, namun hasil dari pengkhianatan pemerintah dan ketundukan mereka pada Amerika. Mereka telah berhasil bekerja sama dengan Amerika dalam aksi genosida kaum muslimin di Afghanistan, Suriah, Irak dan Yaman. Tapi mereka terkulai lemah ketika membalas kejahatan Yahudi yang tiada henti, juga kejahatan Amerika yang telah membunuh salah seorang kaki tangan tertingginya, Qassem Soleimani, hanya karena keterlibatan Soleimani dalam memihak kelompok yang tidak diinginkan Amerika di Irak.

Diterjemahkan dari Surat Kabar Ar-Rayah edisi 316, terbit pada Rabu, 24 Rabi’ul Akhir 1442 H/9 Desember 2020 M

Klik di sini untuk mengakses sumber

Visits: 0

Tags

Bagikan tulisan ini

Tulisan menarik lainnya...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Category

Gabung Channel Telegram