Mesir: Negeri Kinanah dan Berbagai Konspirasi untuk Membunuh Gerakan Islam

Oleh: Prof. Hamad Tabib

Pada episode sebelumnya, kita telah membahas tentang keutamaan Mesir, negeri Kinanah, sejarahnya yang mulia selama berabad-abad, juga tentang kebaikan Mesir dan orang-orangnya yang tertera dalam hadis Nabi saw.. Sekarang kami sampai pada pembahasan sains dan ilmuwan dalam sejarah Mesir selama berabad-abad hingga zaman kita hidup saat ini.

Mesir Al-Kinanah telah dibanjiri dengan ulama terkemuka—sepanjang sejarah Islam yang panjang dari penaklukan hingga hari ini—dan telah menjadi kiblat ilmu pengetahuan dan ulama. Di mana Mesir menjadi salah satu dari empat inkubator yang terkenal merangkul ilmu dan ulama dalam sejarah kegemilangan umat Islam (mereka adalah Irak, Mesir, Syam, dan Andalusia). Beberapa ulama bahkan memiliki dua pendapat tentang mazhab fikih sebagai hasil dari perluasan ilmu mereka di bumi Kinanah. Kedua mazhab itu adalah mazhab Mesir dan mazhab Irak, seperti yang berlaku pada Imam Syafi’i—semoga Allah merahmatinya—.

Telah banyak ulama Mesir di segala bidang, dalam kedokteran, optik, astronomi, fikih, hadis, tafsir, bahasa, dan banyak lagi. Salah seorang ulama Mesir pada abad kelima hijriah menyusun sebuah kitab di mana ia mengumpulkan biografi para ulama Mesir, mengklasifikasinya menurut abjad, dan mengumpulkan ratusan ulama sepanjang sejarah Islam di Mesir. Kitab yang berjudul Sejarah Ulama Mesir itu ditulis oleh Ibnu Thahhan Huyyai bin Ali bin Muhammad bin Ibrahim Al Hadromi (wafat tahun 416 H).

Di antara para ulama terkenal yang disebutkan dalam kitab itu adalah Imam Syafi’i, yang menggabungkan ma’qul (dalil berdasarkan akal) dan manqul (dalil yang tertera dalam nas-nas syara’) dalam fikih. Ia juga menulis sebuah kitab usul fikih yang berjudul Ar-Risalah. Dia menghabiskan sebagian besar hidupnya di Mesir, murid-muridnya tersebar, dan mazhabnya menjadi terkenal. Para ulama mazhab ini yang terkenal dan berasal dari Mesir adalah Buwaithi Abu Ya’qub Yusuf bin Yahya Al-Buwaithi, Al-Muzani Abu Ibrahim Ismail bin Yahya, Al-Rabi` bin Sulaiman Al-Muradi, dan Abu Hafs Harmala bin Abdullah Al-Tajbi.

Adapun ilmuwan mesir dalam bidang sains dan teknik sipil adalah Ibnu Al-Haitsam, seorang ahli optik dengan bukunya yang paling terkenal, Al-Manazhir, yang dijadikan dasar dalam ilmu fisika dan ilmu optik oleh para ilmuwan setelahnya.

Begitu pula Muhammad bin Mukrim bin Ali Abu al-Fadhl Jamaluddin Ibnu Manzhur (Ibnu Manzhur), seorang ilmuwan bahasa Arab dan penulis kitab Lisanul Arab, yang merupakan kamus bahasa Arab paling besar sepanjang sejarah.

Lalu seorang ilmuwan tafsir, Imam As-Suyuthi. Di mana terkumpul dalam uslubnya berbagai periwayatan dan pemahaman. Begitu pula Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, beliau adalah ulama yang paling terkenal dalam menjelaskan kitab Shahih Bukhari.

Di antara ulama-ulama terkenal di zaman sekarang, ada belasan orang yang berkontribusi dalam kekayaan intelektual di segala bidang (bidang keagamaan, ilmu sipil, dalam gerakan-gerakan perubahan juga kebangkitan, dan lainnya), di antaranya adalah Syekh Mostafa Saadeq Abdurrazaq Al-Rafei’i. Beliau merupakan penulis buku-buku kritis yang populer, seperti bukunya yang berjudul Di Bawah Panji Al-Qur’an dan Sejarah Sastra Arab.

Kemudian ada Abbas Mahmud Al-Aqqad, penulis dan penyair yang memiliki banyak buku, di antaranya Islam dan Peradaban Manusia, Manusia dalam Al-Qur’an, serta Berpikir: Kewajiban Dalam Islam.

Lalu ada juga Sayyid Qutb Ibrahim Husain Asy-Syadzili, seorang penulis buku Dalam Naungan Al-Qur’an dan salah satu pejuang untuk mengubah ketidakadilan dan penindasan, yang akhirnya dieksekusi karena keteguhan pendapatnya.

Kemudian ilmuwan-ilmuwan di bidang ilmu sipil, seperti Farouk El-Baz (ilmuwan luar angkasa terkenal), Zaghloul El-Naggar (ahli stratigrafi), Magdi Yacoub (spesialis bedah jantung dan paru-paru, yang merupakan salah satu dokter paling terkenal di dunia), Ahmed Zewail (ahli kimia terkenal), dan Sameera Moussa (ilmuwan atom Mesir yang dibunuh intelijen AS ketika ia menolak untuk tinggal di sana).

Banyak ulama yang menempuh kehidupan di Mesir, entah mereka yang dulu tinggal di Mesir kemudian melakukan perjalanan mencari ilmu ke kota-kota negeri Islam seperti Syam, Irak, dan Andalus; atau mereka yang belajar di Mesir pada zaman modern ini. Merekalah yang menyerukan kebangkitan kepada negeri-negeri Islam, seperti seorang alim yang mulia, Muhammad bin Ibrahim An-Nabhani (atau lebih dikenal dengan Taqiyuddin An-Nabhani). Ia menjalani periode pertama perjalanan keilmuannya di Mesir, berpindah dari Ma’had Tsanawi Al-Azhar (SMA Al-Azhar), Universitas Al-Azhar, dan Daar Uluum selama kurang lebih tujuh tahun. Ia memperoleh ilmu dari sumber-sumbernya; dari para ulama masyhur pada masa itu.

Mesir sangat beruntung dalam revolusi melawan kolonialisme Barat di era modern pada awal abad ke 18, yaitu pada masa invasi Prancis yang dipimpin oleh Napoleon, kemudian invasi Inggris setelahnya. Mesir juga memiliki sejarah berdiri melawan kolonialisme di awal dan pertengahan abad ke 20, yang sesudah itu para penjajah segera memecah negara-negara Islam setelah runtuhnya kekhilafahan pada tahun 1924. Mesir berada di bawah penjajahan Prancis pada masa serangan Napoleon tahun 1798, dan masa serangan Inggris pada tahun 1822.

Telah muncul para pemimpin yang berjuang melawan kolonialisme Prancis dan Inggris, termasuk para ulama Azhar yang pada tahun 1798 memberontak melawan penjajahan Prancis dan berujung dieksekusi di halaman kastil, di antaranya adalah Syekh Sulaiman Al-Jawsaki (syekh dari kalangan tunanetra), Syekh Ahmad Syarqawi, Syekh Abdul Wahab Al-Shabrawi, Syekh Yusuf Al-Mushailhi, dan Syekh Ismail Al-Barawi. Kemudian ada di antara ulama Azhar dan murid-muridnya yang dibunuh oleh Pimpinan Prancis Jean-Baptiste Kleber, seperti Syekh Sulaiman Al-Halabi.

Hal yang sama setelah perlawanan terhadap kolonialisme Prancis adalah perlawanan terhadap kolonialisme Inggris. Revolusi hebat yang melawan penjajahan Inggris berlangsung pada tahun 1919 hingga 1922, dan Al-Azhar memiliki peran penting di dalamnya.

Mesir telah menghadapi banyak konspirasi setelah orang-orang Yahudi menjajah Palestina. Dari konspirasi tersebut, tercetus beberapa peperangan yang dihadapi tentara Mesir, seperti perang 1948 dengan tentara gabungan untuk melawan milisi Yahudi di bawah perlindungan Inggris. Peristiwa ini adalah pembuka yang menyatakan berdirinya Israel, juga pengakuan dunia dan serangan tripartit atas Mesir pada tahun 1956, di mana Prancis, Inggris, dan Israel berpartisipasi di dalamnya. Kemudian peristiwa perang tahun 1967, di mana orang-orang Yahudi menjajah sebagian besar daerah Sinai, Jalur Gaza, Tepi Laut Barat, dan Golan.

Orang-orang Yahudi menghadapi serangan dahsyat tentara Mesir, terutama angkatan udara. Terjadinya perang tahun 1973—di mana kolonialisme dan antek-anteknya mengubah kemenangan yang semula diraih tentara Mesir menjadi kekalahan—merupakan tahap awal untuk memasuki proses rekonsiliasi antara Mesir dan Israel.

Perjanjian Camp David tahun 1973 adalah puncak dari rangkaian konspirasi melawan Mesir. Konspirasi itu terus melucuti bagian-bagian Mesir yang kemudian dianeksasi oleh Yahudi sang perampas.

Barat telah melirik Mesir dengan pandangan khusus yang berbeda dari beberapa negeri Islam lainnya. Mereka membuat rencana jangka panjang yang ditujukan kepada agama dan kelompok-kelompok Islam. Hal tersebut bertujuan untuk menciptakan adanya kelaparan, penghancuran penduduk Mesir, dan penguasaan kekayaan alam serta segala kelebihan yang mereka punya.

Tindakan keras terhadap penduduk Mesir pun meningkat setelah revolusi 2011. Peristiwa itu merupakan aksi pemberontakan publik sebagai bentuk kemarahan mereka untuk melawan para antek penjajah, menentang kampanye yang membuat Islam terasing, serta menentang berbagai kezaliman yang ada.

Peristiwa yang terjadi di Tahrir Square pada tahun 2012 telah mengejutkan Barat, membuat mereka memikirkan berbagai pertimbangan dan menyusun berbagai studi serta rencana terkait bumi Kinanah. Ketika masyarakat berkumpul menyerukan penerapan syariat, peristiwa itu hampir saja melepaskan mereka dari para antek penjajah. Revolusi tersebut sedang menuju arah yang benar kalau bukan karena adanya konspirasi besar yang terjadi serta penindasan yang mengerikan terhadap umat Islam setelahnya.

Barat saat ini sangat serius memandang segala perubahan yang terjadi di bumi Kinanah. Meluasnya kemiskinan dan kezaliman berupa penahanan, penyiksaan, dan penindasan adalah satu di antara berbagai konspirasi yang mereka lakukan terhadap Mesir.[]

Diterjemahkan dari Surat Kabar Al-Rayah edisi 410, terbit pada Rabu, 02 Rabiulawal 1444 H/28 September 2022 M

Klik di sini untuk mengakses sumber 

Visits: 22

Tags

Bagikan tulisan ini

Tulisan menarik lainnya...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Category

Gabung Channel Telegram