Hijrah Nabi: Makna serta Pencapaiannya

Oleh: Prof. As’ad Manshur

Hijrah Nabi merupakan sebuah peristiwa yang sangat agung dilihat dari skala manapun. Hijrah telah mengubah alur sejarah juga membentuk situasi global dan internasional yang baru. Hijrah telah menghasilkan salah satu umat yang mulia, bahkan umat paling mulia yang diutus pada manusia.

Peristiwa ini telah mengumpulkan berbagai bangsa dan suku dari seluruh dunia, dengan segala perbedaan warna kulit, bahasa, dan tradisi, juga menyatukan mereka dalam satu ikatan yang kuat. Setiap bangsa menjadi mulia dengan keislaman mereka dan berpegang teguh padanya. Keistimewaan yang diberikan pada mereka akan terwujud dengan mengemban panji Islam atau memberikan pengorbanan yang besar untuknya.

Hijrah Nabi saw. merupakan wahyu dari Allah untuk mendirikan negara yang berlandaskan fikrah yang ia seru (Islam). Dalil atas pernyataan ini adalah bahwa Rasulullah melakukan hijrah setelah mengambil baiat dari para penguasa Madinah pada peristiwa Baiat Aqabah yang kedua. Mereka berjanji untuk patuh dan taat kepada Nabi saw., berjanji bahwa mereka tidak akan bertengkar pada suatu perkara, dan berjanji untuk melindungi Rasulullah saw. melebihi perlindungan mereka terhadap diri mereka sendiri ataupun keluarga mereka. Dapat disimpulkan bahwa pembaiatan yang terjadi saat itu merupakan bentuk pernyataan sumpah setia kepada seorang pemimpin.

Mereka telah membaiat Rasulullah saw. untuk memimpin mereka. Dari pembaiatan itu, Rasulullah membentuk sebuah susunan pengurus yang terdiri dari 12 laki-laki untuk menjadi wakil, yang dengan ini menunjukkan bahwa Rasul saw. telah menjadi pemimpin atas mereka. Maka ketika Rasulullah saw. sampai di Madinah, mereka menyerahkan kepemimpinan kepadanya. Penduduk Madinah berdatangan, mereka berbaiat untuk patuh dan taat kepada Rasulullah saw..

Rasulullah mulai menyusun urusan-urusan pemerintahan, membangun sebuah masjid yang menjadi tempat untuk mengurusi kepentingan negara dari segi ibadah, juga menulis sebuah kitab yang membahas politik dalam negeri, yang berisi perihal hubungan kelompok-kelompok yang ada di dalamnya. Rasul juga mulai mengatur politik luar negeri dengan membangun hubungan multilateral yang baik bersama negara-negara yang berada di sekitar Madinah.

Telah terkumpul ayat dan hadis-hadis yang berkaitan tentang Hijrah, para Muhajirin, dan Anshar. Kumpulan ayat dan hadis yang menarik perhatian ini penting untuk dipelajari dan diterapkan. Hal ini menunjukkan bahwa pendirian negara Islam adalah salah satu kewajiban dan prioritas paling utama. Mereka, para pendahulu yang telah terinternalisasi fikrah Islam, telah menanggung semua resiko dalam perjuangan, menjalani hidup karenanya, dan siap untuk mati di jalannya. Mereka meninggalkan semua yang mereka miliki di Makkah, dan berhijrah untuk membangun negara bersama Rasulullah.

Allah Swt. telah memuji mereka dalam banyak firman-Nya, sebagai para pendukung, pemberi pertolongan (Anshar), dan pelindung karena mereka menyerahkan kekuasaan kepada Rasulullah saw. dan menjalin persaudaraan dengan kaum Muhajirin. Allah Swt. telah memuji keduanya (Muhajirin dan Anshar) karena peran mereka dalam mendirikan daulah, mendukungnya, memperkuatnya, dan berjihad di jalan Allah untuk meninggikan kalimat-Nya. Keduanya berada di garis terdepan dalam pertempuran, juga dalam mengemban dakwah baik secara intelektual dan politik. Mereka adalah orang-orang yang menjaga Kekhalifahan setelah Rasulullah saw., memerangi orang-orang murtad dan orang-orang yang tidak mau membayar zakat, juga melanjutkan langkahnya untuk memperkuat dan memperluas Kekhalifahan sampai menguasai seluruh dunia.

Tujuan sebenarnya dari Hijrah Nabi adalah untuk membangun sebuah negara. Bukan sekedar membangun sembarang negara, melainkan sebuah negara besar yang panjang dan lebar akarnya tertancap di kedalaman bumi, ranting-rantingnya mencapai langit dan memberikan bebuahan yang baik di semua tempat. Ia menanamkan konsep-konsep yang lurus serta mencabut konsep-konsep buruk, membangkitkan umat dengan kebangkitan yang benar, yang mengarah pada kemajuan di seluruh aspek kehidupan. Ia mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya, menebarkan nilai-nilai yang tinggi dan akhlak mulia, juga menerapkan peraturan yang benar, sehingga mampu menciptakan masyarakat kelas atas. Negara ini memerintah dengan adil, maka tercapailah kebahagiaan dunia bagi orang-orang yang bernaung di bawah daunnya yang subur, dan kebahagiaan dunia akhirat bagi orang-orang yang beriman dan melakukan amal saleh.

Sesungguhnya peristiwa Hijrah Nabi adalah peringatan yang luar biasa, bukan sekedar hari raya yang diperingati sebagaimana Hari Raya Idulfitri dan Iduladha. Peringatan ini adalah momen untuk mengambil pelajaran dan ibrah agar diamalkan sesuai dengan apa yang diperintahkan. Adapun sejarah kita penuh dengan kenangan agung. Hijrah bukan hanya ingatan yang berlalu begitu saja tanpa memusatkan perhatian padanya, memperingati urgensinya, dan tanpa beramal untuk menghidupkan kembali tujuan dari hijrah tersebut—yaitu penegakan daulah bagi siapa yang mencitai dan mengikuti Nabi saw.—. Maka peringatannya tidaklah dihidupkan dengan cara berpesta, membagikan permen dan sesuatu yang manis lainnya, melakukan tarian Mevlevi, atau pertukaran ucapan selamat. Peringatannya patutlah diwujudkan dengan bersungguh-sungguh dalam beramal untuk mencapai tujuan dari Hijrah tersebut.

Orang-orang kafir menyadari bahwa Islam mulia dan tersebar luas karena sebuah negara, akhirnya mereka memutuskan untuk menghancurkannya, bahkan mereka mulai beraksi untuk menghancurkan Islam. Mereka mendirikan negara-negara di atas reruntuhan Kekhalifahannya, diatur dengan sistem kufur yang dibalut dengan hal-hal dari Islam untuk mengelabui umat bahwa bangsa-bangsa yang korup dan menjunjung tinggi nasionalisme yang busuk ini merupakan negara-negara Islam, karena mereka menyadari bahwa kaum muslimin tidak mampu hidup tanpa negara yang diatur oleh aturan yang berasal dari Islam dan akan berusaha untuk mendirikannya.

Orang-orang kafir menggunakan metode keji yang muncul dari sudut pandang mereka yang sekuler, mereka memisahkan pemikiran Islam dari metode penerapannya dan hanya menyisakan aspek spiritual dan ibadah agar dapat menyesatkan kaum muslimin. Kemudian mereka menjauhkan semua hal yang berhubungan dengan negara beserta perannya, juga menjadikan sistem pendidikan, kebudayaan, dan medianya terfokus pada aspek spiritual dan ibadah. Mereka mengabaikan aspek politik dan penerapan Islam dalam realitas kehidupan, masyarakat, dan hubungan internasional. Sebagian umat Islam mengikutinya, entah karena ketidaktahuan, kesengajaan, kepengecutan, atau cinta pada dunia, agar tidak mengganggu rezim antek yang bekerja untuk Barat, menerapkan politik serta aturannya, dan agar tidak dihukum olehnya (Barat) seperti ia menghukum berat setiap orang yang menonjolkan aspek politik dalam Islam serta mengaitkan pemikiran dan metode penerapannya dengan ikatan yang solid.

Lihatlah bangsa Arab sebelum berdirinya daulah atau bahkan seluruh bangsa yang masuk Islam dan melebur ke dalam wadahnya! Dahulu mereka hidup dalam gelap gulita, dalam kebodohan, dan dalam kefanatikan yang membutakan. Lalu Islam datang, membangkitkan mereka, dan menaikkannya sampai ke martabat umat-umat yang agung.

Makna kebangkitan sesungguhnya adalah meningkatnya taraf berpikir. Hal ini tidak akan terjadi kecuali dengan pemikiran menyeluruh terkait alam semesta, manusia, dan kehidupan. Begitupun kebangkitan praktis tidak dapat terealisasikan kecuali dengan mendirikan negara yang berasaskan pemikiran ini. Islamlah pemilik pemikiran ini, bahkan pemilik pemikiran menyeluruh yang benar.

Maka wajar jika Islam dapat mencapai kebangkitannya. Manusia mulai memikirkan dan mengembangkan segala sesuatu yang akhirnya menciptakan peningkatan taraf berpikir, terjadinya kemajuan dalam masalah fiqh, politik, serta ilmu pengetahuan dengan segala bentuknya seperti kedokteran, farmakologi, astronomi, matematika, perindustrian, arsitektur, dan pertanian. Tercipta juga kemajuan dengan berbagai sarana dan metode.

Islam dapat mewujudkan kebangkitan hakiki, sehingga masyarakat didominasi oleh empat nilai kehidupan yakni nilai spiritual, moral, kemanusiaan, dan materi. Semua itu dapat terealisasi di dalam daulah Islam. Kebangkitan tersebut juga merupakan tujuan para penuntut ilmu. Berbagai perhatian tertuju padanya untuk melihat ragam inovasi. Oleh karena itu, keberhasilan qiyadah fikriyah (kepemimpinan berfikir) dalam Islam ini tidak ada bandingannya.

Peristiwa Hijrah Nabi berhasil mendirikan negara besar yang berlangsung selama 13 abad, di mana tidak ditemukan satupun perselisihan pada sembilan abad pertamanya. Meski orang-orang kafir menghancurkan institusinya, idenya tidak akan mati, umatnya akan berusaha untuk mengembalikannya lagi. Karena inilah, muncul kelompok-kelompok untuk membangkitkannya kembali, terutama mereka yang tulus beramal untuk mendirikan Khilafah dengan metode kenabian. Apabila telah didirikan, maka itu akan mencapai keberhasilan sebelumnya dalam menyatukan umat dalam bingkai Khilafah, yang tidak dapat dicapai oleh kapitalisme serta sosialisme komunis. Kemajuan ilmiah akan terealisasi dan unggul dibanding yang lain. Ini akan segera terjadi dengan izin Allah, sekalipun orang-orang kafir membencinya.

 

Diterjemahkan dari Surat Kabar Al-Rayah edisi 402, terbit pada Rabu, 5 Muharam 1444 H/3 Agustus 2022 M

Klik di sini untuk mengakses sumber

Hits: 7

Tags

Bagikan tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code