Eksekusi Tahanan dan Pembunuhan Orang Tak Berdaya di Mesir, Atau Upaya untuk Menghilangkan Revolusi?

Beberapa eksekusi telah dilakukan, yang lainnya menunggu proses, (juga tindak) pembunuhan dan penembakan di luar aturan undang-undang yang mereka tetapkan untuk mengendalikan rakyat. Tidak ada seorang pun yang selamat dari kezaliman rezim ini. Bahkan para nelayan dari Gaza yang dikepung pun tidak ada yang lolos dari peluru rezim dan kebrutalannya. Inilah rezim yang mendapatkan hadiah revolusi baru, hasil dari berbagai kebijakannya yang destruktif. Seolah ia enggan (tidak tertarik dengan apapun) kecuali membangkitkan perasaan rakyat dengan menghancurkan masjid-masjid di depan mata mereka dan menghancurkan rumah mereka di atas kepala mereka!

Akan tetapi ketika rezim ini ingin menghadapi perasaan rakyatnya dengan berusaha membunuhnya ketika masih dalam buaian, dia tidak bisa. Maka ia berbalik (pergi) sampai rakyat merasa tenang, kemudian kembali menyerang mereka. Ketika dia sudah melihat sebagian ketenangan, ia akan kembali menyerang ditandai dengan mengeksekusi para tahanan, setelah ia menjadikan setiap orang di Mesir sebagai tahanan potensial jika mereka memprotes tingginya harga-harga, kehidupan yang sempit, atau kebijakan negara yang benar-benar zalim. Soal tahanan maupun eksekusi sepertinya tak lebih dari sekadar permainan pena dan obrolan ringan terhadap hakim.

Eksekusi tersebut seperti pepatah Mesir: “Pukullah yang terikat, maka yang terlepas akan takut”. Kenyataannya, menakut-nakuti rakyat dan berlebih-lebihan dalam menindas serta menghinakan mereka akan membuat mereka sadar, bahwa saat itu diri mereka sedang tertindas tak berdaya dan tidak memiliki tempat berlindung untuk membantu mereka dan memalingkan mereka dari kezaliman kelompok yang berkuasa. Seolah-olah kita berada di zaman penjajahan dan Insiden Dinshaway yang baru, yang berulang lagi dan lagi untuk mematahkan kehendak rakyat, membuat mereka berlutut, dan memaksa mereka untuk tunduk dan patuh kepada rezim yang rusak.

Rezim pembunuh ini tidak akan ragu untuk menumpahkan darah-darah yang suci. Ia (rezim) tak peduli (pada apapun) kecuali kepentingan tuannya di Gedung Putih dan memastikan bahwa ia tetap menjadi pelayan yang patuh dan tunduk kepada mereka, bahkan jika perlu, rezim akan membunuh para pemuda Kinanah dan menghancurkan rumah mereka di atas kepala mereka.

Sebagaimana yang telah kami katakan, bahwa eksekusi-eksekusi ini bukanlah yang pertama dan terakhir. Setiap tahanan akan menghadapinya tanpa terkecuali. Merekalah yang menetapkan undang-undang, kriminal dan tuduhan serta melekatkannya kepada para pemuda Kinanah yang tak bersalah. Berapa banyak orang yang tidak bersalah dibunuh. Mereka yang belum dieksekusi tidak akan lolos dari peluru pengkhianatan mereka. Cukuplah bagi kami Allah terhadap mereka dan Dialah sebaik-baik penolong.

Namun, upaya mereka untuk mengembalikan dinding ketakutan tidak akan bertahan lama dalam menghadapi momok yang diderita rakyat dan bencana yang dibawa rezim. Karena sistem kapitalisme sendiri tidak memiliki solusi untuk permasalahan rakyat. Bahkan setiap solusi yang muncul darinya hanya akan menempatkan negara pada krisis baru yang terus berlanjut. Terlebih lagi kelompok penguasa tidak mencari pemecahan dan solusi yang nyata untuk permasalahan Mesir, mereka hanya menjanjikan rakyat solusi-solusi dan angan-angan palsu yang fatamorgana dan menipu mereka sampai saat ini. Rezim ini mengayunkan tongkatnya yang keras dan membebaskan anjing-anjing mereka di hadapan orang-orang yang marah. Maka tidak ada lagi di hadapan mereka kecuali solusi mencari aman saja dalam menghadapi bencana saat ini dan yang akan datang di Mesir, sebagai akibat keputusan rezim yang destruktif secara terus-menerus.

Oleh karena itu, rezim memberi harta yang melimpah kepada para pendukungnya, agen-agennya, orang-orang yang ada disekitarnya, orang-orang yang menjadi alat penghancurnya, dan orang-orang yang membeli hutang, agar keloyalan mereka terjamin sekalipun keadaan memburuk. Akan tetapi jauh dari itu semua, rakyat yang memberontak tidak mati dan tidak akan mati. Api revolusi akan tetap menyala sekalipun nyala apinya telah hilang, hingga rakyat memiliki pemikiran yang sama, kesadaran mereka berkembang dan mereka menyadari realitas; bahwa keselamatan mereka berada pada negara yang sesuai dengan fitrah mereka. Negara yang seluruh hukumnya, perundang-undangnya, dan undang-undang dasarnya terpancar dari akidah mereka, yaitu Khilafah Rasyidah yang sesuai dengan metode kenabian.

Akan tetapi, menariknya, (orang yang dijadikan) alat pembunuhan, penindasan, dan kekerasan adalah penduduk Kinanah (itu sendiri), (bahkan) beberapa di antara mereka adalah orang-orang tertindas, yang telah lama mengalami kezaliman, kebrutalan dan penindasan rezim! Anehnya lagi, mereka justru membentangkan tangannya kepada keluarga, saudara, dan kerabat mereka yang terluka (karena rezim)! Bisa jadi mereka telah tertipu oleh sejumlah fatwa yang menyesatkan dan deskripsi (pensifatan) yang dilekatkan kepada mereka sebagai para penentang rezim, juga mensifati mereka sebagai pengikut khawarij, pengkhianat, penyusup dan pemberi dana (kepada khawarij). Kemudian menjadikan penyerangan dan pembunuhan terhadap mereka sebagai kewajiban syar’i sebagaimana fatwa ulama-ulama rezim.

Lalu mereka menyebarkan informasi bahwa setiap penentang (rezim) adalah sel-sel mati di dalam tubuh masyarakat, yang mereka posisikan sebagai musuh kemudian memeranginya, dan memerangi agama serta akidah mereka sebagai kewajiban bagi masyarakat mesir melalui (fatwa tersebut). Serta menjadikannya (tergabung dalam kelompok terlarang) sebagai dakwaan pertama yang disematkan kepada mereka yang ditangkap.

Meski (sebenarnya) kejahatan rezim kepada rakyat Mesirlah yang membuat batu* memberontak lebih dulu dari masyarakat, ‘hadiah’ terakhir justru berasal dari orang-orang yang jauh dari kelompok yang dicap musuh, gerakannya bersifat spontan dan merupakan reaksi alami atas kebijakan rezim yang destruktif.

Mundurnya rezim relatif wajar, agar ia mampu menenangkan masyarakat hingga ia dapat memasang perangkap lain yang dapat mengembalikan mereka pada kurungan dan menutup sangkarnya. Ya, inilah realitas Mesir, yaitu adalah kurungan dan sangkar! Namun penghuninya adalah manusia yang telah dijadikan budak oleh rezim secara paksa dan penuh kehinaan. Mereka tidak bisa menerobos keluar dari kurungan, padahal sipirnya dari kalangan mereka sendiri.

Akan tetapi selama Barat menjadi tangan yang memegang kendali negeri kita, ia akan meletakkan sosok terburuk di antara kita untuk dijadikan penguasa. Penguasa yang tidak memiliki jiwa kesatria dan wibawa, beperangai rendah dan hina, dan berperangai seperti hiena.

Menerkam dan menindas orang yang tak berdaya bukanlah bukti dari keberanian dan kekuatan, melainkan ciri dari kepengecutan dan kelemahan dari orang yang menindas mereka. Maka kecaman yang paling keras adalah bagi mereka (kalangan militer/tentara) yang rela menjadi alat yang mudah dipermainkan oleh tangan para penindas. Padahal para penindas itu tak memiliki kekuatan tanpa adanya mereka, merekalah yang memiliki kekuatan serta kesanggupan untuk memberi pertolongan.

Kapankah jiwa kesatria mereka bangkit dan bergerak, memihak kepada umat, sehingga mereka meneror rezim bukan meneror rakyat, memberi pertolongan kepada umat bukan melindungi dan menolong musuh agama dan umat mereka?!

Wahai para tentara Kinanah yang ikhlas, aib dan kehinaan apalagi yang ada pada kalian, di tangan kalianlah keluarga kalian dikorbankan untuk rezim, darah mereka ditumpahkan di hadapan kalian, (di tangan kalian pulalah) rakyat mesir yang lemah ditindas?!

Sesungguhnya rezim, harta dan senjatanya tidak akan dapat menghalangi kalian dari kematian, serta tidak akan mampu menjaga kalian dari sanksi dan siksa-Nya. Maka apabila kalian sanggup, maka bertahanlah pada posisi tersebut dan teruslah dalam kesesatan, ambillah bagian dari dunia ini sebagaimana yang kalian inginkan, karena itulah surga kalian.

Namun, jika kalian tidak sanggup, maka bersegeralah bertaubat yang sebenar-benarnya serta berpihaklah kepada umat, agama dan akidahanya secara utuh, yang ditunjukkan dengan aktivitas yang tulus, menjawab keluhan masyarakat, mengejar keridhaan Rabb kalian dengan mencabut sistem dan kelompok penguasa dari akarnya, mengadili mereka di hadapan masyarakat atas kejahatan yang mereka lakukan, dan menerapkan hukum Allah. Sehingga dengan begitu dapat menenangkan hati yang tertindas dan jiwa yang terzalimi, dan menyempurnakan amalan orang-orang yang ikhlas dengan melanjutkan kehidupan Islam serta menerapkannya melalui Khilafah Rasyidah yang sesuai dengan metode kenabian, yang akan menerapkan Islam dan mengakhiri kontrak subordinasi dengan Barat, serta memotong tangan-tangannya yang telah mengacaukan negara kita dan mendudukkan sosok terburuk di antara kita sebagai penguasa.

Kemudian mengembalikan kemuliaan dan kehormatan kita yang telah dirampas oleh Barat dan kapitalismenya yang busuk. Demi Allah, jika kalian melakukan itu, maka kalianlah sebaik-baiknya pasukan, dan Allah akan menggantikan keburukan-keburukan kalian dengan kebaikan-kebaikan sebagaimana yang telah Allah janjikan.

“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al-Furqan: 70)

Catatan kaki:

*Sebuah kiasan yang mengungkapkan betapa zalimnya pemerintah namun rakyatnya tetap diam, sampai-sampai bebatuan pun lebih dulu memberontak.

Diterjemahkan dari Surat Kabar Ar-Rayah edisi 309, terbit pada Rabu, 4 Rabi’ul Awwal 1442 H/21 Oktober 2020 M

Klik disini untuk mengakses sumber

Hits: 0

Tags

Bagikan tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *