Antara Taliban, Afganistan, dan Revolusi Umat di Syam

Oleh: Ustaz Syadi al-‘Abbud

Pada Oktober 2001, Amerika menginvasi Afganistan untuk menggulingkan Taliban, yang dituduh menyembunyikan Osama bin Laden dan tokoh Al-Qaeda lainnya yang diduga terkait dengan serangan 11 September.

Dua puluh tahun kemudian, Amerika menarik diri dari Afganistan melalui perjanjian dengan Taliban—seperti yang dilaporkan—. Di bawah kepemimpinan Akhundzada, Taliban menandatangani perjanjian damai bersejarah dengan Amerika di Qatar pada 29/2/2020. Akhundzada menggambarkan perjanjian itu sebagai “kemenangan besar” bagi kelompok tersebut.

Presiden Amerika Joe Biden menyatakan telah meminta Taliban melakukan hal yang penting untuk bisa mendapatkan pengakuan. Biden menegaskan bahwa bahaya di Suriah jauh lebih besar dari yang terjadi di Afganistan. Sebagaimana dikatakan Biden, “Saya tidak meyakini bahwa Taliban telah berubah, tetapi bahaya di Suriah jauh lebih besar.” (Russia Today)

Memang benar bahwa Syam jauh lebih berbahaya daripada Afganistan, karena di Syam terjadi revolusi, masyarakat keluar sambil berseru, “Ini untuk Allah, ini untuk Allah!” Juga, “Kita tidak akan berlutut kecuali pada Allah!”

Terlepas dari itu, wilayah tersebut dianggap wilayah terpenting di dunia dari segi politik, ekonomi, posisi strategis, kenegaraan, dan keislaman. Habib al-Mushtafa ‘alaihissalam mendeskripsikan Syam sebagai pusat Darul Islam, serta ada banyak bukti mengenai pentingnya wilayah ini di hati kaum muslimin.

Secara politik, Syam diliputi entitas serta sistem yang lemah dan terguncang, yang penduduknya sudah muak dengan penguasanya. Oleh karenanya, tidak heran jika perang sengit ini dilancarkan terhadap penduduk kita di Syam, dari jauh maupun dekat.

Dengan demikian, keberhasilan Syam adalah dengan jatuhnya sistem yang sempoyongan ini bersamaan dengan perubahan yang mulai terjadi secara global. Inilah yang Senator AS Richard Black singgung dan jelaskan pada pernyataannya di sebuah stasiun televisi, “Sebab-sebab sesungguhnya untuk menolak Barat yaitu dengan jatuhnya Bashar al-Assad dan sistemnya di Suriah, yang menggambarkan ketakutannya akan berkibarnya bendera yang mengkhawatirkan yang berwarna hitam dan putih, yang merupakan milik Daulah Islamiah di atas ibu kota Suriah, yaitu Damaskus.” Itulah yang akan menggambarkan ancaman bagi keamanan Eropa. (Arabi21)

Sebaliknya, Afganistan dikelilingi banyak negara, seperti Cina, Rusia, Iran, dan Pakistan, serta negara lainnya. Ini merupakan suatu kesulitan—secara geografis—untuk membentuk ancaman yang nyata bagi Barat.

Walaupun Taliban telah memegang tampuk kekuasaan atas Afganistan dan mendirikan pemerintahan Islamiah; tetapi blokade, pengendalian, serta penekanan atasnya merupakan perkara yang sangat mudah. Dalam hal ini, Menteri Luar Negeri Jerman berkomentar, “Apabila Taliban berkuasa dan menerapkan syariat Islam, kami tidak akan memberikan sepeser pun untuk Afganistan.” (Russia Today)

Selain perbedaan yang jelas di antara kedua negara—di Afganistan terdlapat pergerakan militer jihad yang memerangi Amerika layaknya musuh yang nyata, sementara di Syam terdapat pemuda-pemuda yang bangkit dan menginginkan perubahan serta ingin berhukum dengan Islam—, di sana juga terdapat faksi-faksi militer yang memerangi rezim yang dinanti keruntuhannya, yang didukung oleh semua rezim dunia untuk mencegah Revolusi Syam mencapai tujuannya.

Kita telah melihat bagaimana pertempuran faksi-faksi ini sebelum tangan-tangan pendukung menangkap mereka. Banyak pertempuran saat kaum revolusioner meraih kemenangan telak. Namun, ketika faksi-faksi militer ini meninggalkan misi utama mereka—yaitu jihad dan mengobarkan perang melawan rezim kriminal bersamaan dengan relasi dan pengikutnya, kemudian pergi untuk memerintah suatu daerah—, mereka gagal total pada hal tersebut. Semuanya tanpa terkecuali.

Memang benar, faksi militer dengan kekuatannya berbeda dengan kepemimpinan, manajemen, dan politik. Kekuatannya adalah satu hal, sementara kepemimpinan dan mengurusi urusan adalah hal lain yang benar-benar berbeda.

Ketika para mujahid maupun faksi ini mudah untuk memenangi peperangan, tetapi sulit sekali bagi mereka untuk memimpin suatu negeri tertentu atau mengurusi urusannya, karena hal itu hanya akan melanggar hukum syarak, bahkan hukum alam yang sudah ditetapkan Allah Sang Rabbul ‘Izzah untuk dijalankan manusia di bumi ini.

Kekuatan ada di tangan penguasa, yang terkadang mengharuskannya untuk mampu melaksanakan rancangannya, visinya, juga konstitusinya. Akan tetapi, jika kekuatan ini menggantikan posisi penguasa, ia akan berubah menjadi diktator dan penindasan bagi rakyat.

Kesadaran politik serta peraturan yang jelas dan terperinci di semua aspek kehidupan, hingga pengetahuan tentang aturan-aturan politik internasional, serta yang mengendalikannya dan hal-hal lainnya, adalah sesuatu yang diperlukan, bahkan termasuk hal fundamental bagi seorang pemimpin dan penguasa yang mengurusi urusan rakyat. Ini sesuatu yang tidak kita dapati di sisi para pejuang dan mujahidin, sebagaimana yang terjadi pada Revolusi Syam.

Bagaimana menurut Anda dengan kepemimpinan yang diproduksi atau terikat dengan negara-negara dan menjadi “alat yang lentur” bagi mereka?

Mereka adalah saudara-saudara kita di Taliban. Allah telah memberikan kepada mereka kemenangan besar atas pemimpin kufur dan kriminal—Amerika—yang digambarkan dalam jihad yang berlangsung sekitar 20 tahun, saat Amerika merasakan kehinaan dan kekalahan. Amerika dikalahkan dan ia merupakan negara pertama di dunia secara militer yang terjun di arena jihad dan pertempuran.

Akan tetapi, kita harus menyadari bahwa konflik Amerika—pemimpin kufur beserta sekutunya—dengan Islam dan kaum muslimin, adalah konflik yang abadi. Mereka akan berusaha mentransfer konflik ke arena politiknya yang mereka ungguli dari segi kelicikan, kejahatan, dan tipu daya.

Pada tahun ini, tepatnya Februari lalu, mereka membuat kesepakatan dengan Taliban untuk menjaga muka dan pintu konflik mereka di tingkat politik yang terbuka.

Oleh karena itu, kurangnya kesadaran politik dalam menguasai hukum dan tidak bertindak untuk mengubah aturan politik yang berlaku, akan menyebabkannya jatuh ke dalam banyak perangkap yang diatur oleh musuh Islam dan umat Islam, yaitu Amerika.

Awalnya, gerakan Taliban membakar rakyat melalui partisipasinya dalam pemerintahan, serta mengambil alih kekuasaan Afganistan melalui partisipasi agen-agennya, mulai dari Hamid Karzai hingga Ketua Rekonsiliasi Abdullah Abdullah dan Hekmatyar, juga tokoh lainnya yang akan menjadi agen Amerika untuk menjebak saudara-saudara kita di Taliban, dalam jaring dan konspirasi mereka. Hal ini pula yang akan terjadi pada faksi-faksi Syam!

Memang benar bahwa Suriah lebih berbahaya daripada Afganistan, karena Amerika sedang menghadapi rakyat, bukan faksi yang dapat dikhianati dan ditipu. Amerika telah berusaha selama 10 tahun revolusi untuk menipu dan mengkhianati rakyat ini, tetapi semua intrik dan konspirasinya akan dipatahkan di atas batu kesadaran yang makin hari makin kokoh, dengan izin Allah.

Sungguh, kepemimpinan politik dan militernya yang bertujuan untuk mengakhiri revolusi atau mengalihkan jalannya, akan jatuh. Dengan demikian, akan tersisa penantang yang luhur, yang bersikeras maju berjalan di atas bara api menuju penggulingan rezim kriminal dan penegakan aturan Islam di atas reruntuhannya.

Hal ini hanya akan terwujud melalui kepemimpinan politik yang tulus yang memiliki undang-undang Islam yang jelas, bersumber dari Kitab Allah dan Sunah Rasul-Nya, sehingga kepemimpinan ini dapat mengarahkan semua kapasitas dan kemampuannya menuju Damaskus untuk menjatuhkan rezim kriminal dan menegakkan aturan Islam untuk kaum muslimin.

Sungguh, perkara ini pasti akan terjadi dan bukanlah suatu kemustahilan. Kita akan melihatnya dengan mata kepala kita.

“Mereka berkata, ‘Kapan itu (akan terjadi)?’ Katakanlah, ‘Mudah-mudahan waktu berbangkit itu dekat.'” (QS Al-Isra: 51).[]

Diterjemahkan dari Surat Kabar Ar-Rayah edisi 357, terbit pada Rabu, 15 Safar 1443 H/22 September 2021 M

Klik di sini untuk mengakses sumber

Hits: 7

Tags

Bagikan tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code