Ramadan adalah Bulan Suksesi dan Bulan Pengokohan


Oleh: Ustadz Ghadah Muhammad Humaidiy, Sudan

Siapa saja yang membaca Al-Qur’an, membaca sirah baginda Rasulullah Saw. juga tentang perjalanan dan sejarah Islam mengenai bulan suci Ramadhan pada masa Rasulullah Saw. beserta para sahabatnya (semoga Allah meridhoi mereka), dan masa kekhalifahan serta jalan yang ditempuh para khalifah umat Islam setelahnya, akan dapat memahami bahwa dirinya saat ini sedang hidup pada zaman kejahiliyahan kafir Quraisy episode kedua.

Ramadhan saat ini telah berubah menjadi seperti bulan-bulan lainnya di mana para pedagang mengeksploitasinya untuk menaikkan harga barang, media memanfaatkannya untuk mengalihkan perhatian masyarakat dari ibadah dengan drama sinetron, dan para politisi menggunakannya untuk menabur perselisihan di antara umat Islam juga membingungkan mereka dengan perbedaan dan perselisihan dalam memasuki hari pertama bulan puasa. Padahal seharusnya di awal puasa mereka memperkuat persatuan umat Islam, bukan malah sebaliknya. Kenyataannya, perselisihan terus berlanjut bahkan dalam hal penentuan hari pertama Idul Fitri di antara negeri-negeri kaum Muslimin.

Lalu bagaimanakah kondisi bulan Ramadhan dahulu, apa yang kemudian terjadi padanya, bagaimana cara kita mengembalikan keagungannya serta mengembalikan sejarah pertamanya untuk Islam?!

Dahulu bulan suci Ramadhan adalah bulan yang istimewa tatkala umat Islam memiliki seorang penguasa Muslim yang menerapkan kepada mereka hukum-hukum Islam dalam satu negara kekhalifahan dengan wilayah yang luas dan kekayaan yang tidak ada habisnya. Perintah seorang khalifah umat Islam saat itu selalu berhasil menghilangkan perselisihan antara umat Islam, menyatukan (waktu) puasa, hari raya, dan haji mereka. Penguasa umat muslim bekerja untuk mengurusi semua urusan warga negara (bersesuaian) dengan apa yang membuat Allah ridha, yaitu dengan menerapkan Syariah dalam sistem pemerintahan. Ia menyiapkan untuk masyarakat atmosfir politik, ekonomi, pergaulan, pendidikan yang menakjubkan dalam negara, tercakup di dalamnya segala pelayanan di mana tidak ada lagi orang fakir, miskin, atau anak yatim, kecuali (dalam kasus dan keadaan) genting.

Atmosfir Ramadhan adalah suasana pesta, atmosfir keagungan dan kebanggaan yang dipenuhi keimanan, diliputi keadilan, kedamaian, dan kebahagiaan dalam naungan sistem Islam. Semua itu adalah nikmat yang telah Allah sempurnakan kepada umat Islam sehingga menjadikannya sebaik-baik umat; menjadi pusat kepeloporan, kepemimpinan, dan persaksian atas umat manusia. Ini adalah titik pembeda berupa kemuliaan, kekhidmatan, dan pesona yang telah dihilangkan dari bulan suci Ramadhan hingga ia menjadi tidak seperti hakikatnya.

Tiada lain yang menjadikan bulan Quran ini istimewa adalah bahwa ia menjadi salah satu fenomena menonjol bagi pemerintahan Islam, persatuan umat Islam, dan kemuliaan Islam di seluruh dunia. Sebab al-Quran adalah undang-undang dan kekuasaan bagi umat yang tidak bisa dipisahkan.

Dahulu para pemimpin kaum muslimin sepanjang tujuh abad lamanya, selama pemerintahan Islam, menunggu peluang kemenangan di bulan Ramadhan dan membawa umat Islam ke tahap yang paling kuat dan solid untuk merealisasikan kebangkitan dan menyebarkan dakwah dengan jihad.

Ramadhan al-‘Izzah adalah bulan yang mencetak para komandan dan pahlawan yang memiliki kedudukan terbaik sepanjang sejarah umat Islam. Mereka melakukannya dalam keadaan berpuasa. Puasa itu sendiri adalah latihan jihad.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. pernah mengirim sekelompok sahabatnya untuk berperang. Terjadi perselisihan di antara mereka dan mereka kembali sebelum berperang. Ketika Nabi melihat mereka, Nabi marah dan berkata:

“Kalian semua pergi dari sisiku, kemudian kalian kembali dalam keadaan terpecah-belah. Sesungguhnya binasanya kaum sebelum kalian adalah karena perpecahan. Sungguh aku akan mengutus untuk kalian seseorang yang bukan terbaik di antara kalian, namun paling sabar di antara kalian dalam menahan diri dari lapar dan haus.”

(Mereka yang mengikuti jejak tauladan kita, baginda Muhammad Saw., beserta para sahabatnya yang mulia, para khalifah, dan para penguasa di negara kekhalifahan misalnya adalah Umar bin Abdul Aziz, Harun ar-Rasyid, Qutuz, Sultan Abdul Hamid, dan Sulaiman al Qanuni. Semoga Allah merahmati mereka. Bulan suci Ramadhan telah dikaitkan dengan jihad dan peperangan di bawah kepemimpinan khalifah kaum Muslimin. Ia adalah bulan kemenangan dan pengokohan kaum mukminin dan bulan penyelamat manusia dari cengkeraman kuku orang-orang kafir dan antek-anteknya)

Ramadhan adalah bulan pembebasan Islam dan bulan masuknya orang secara berbondong-bondong ke dalam Islam. Sejarah menjadi saksi masa keemasan pada saat itu, masa yang tidak pernah disaksikan oleh siapapun sejak umat Islam menjadi umat terbelakang karena tidak adanya pemerintah dan khalifah.

Berikut adalah kemenangan-kemenangan besar kaum muslimin di bulan Ramadhan yang membawa perubahan pada sejarah: Perang Badar Kubro, Perang Khondaq, Fathu Makkah (hari dimana patung-patung dihancurkan dan simbol-simbol syirik disingkirkan), kemudian penaklukkan Mesir, penaklukkan Amuriyah dan Konstantinopel, Perang ‘Ain Jalut, menangnya Sholahuddin Al-Ayyubi dalam perang Hiththin, dan sebagainya.

Saat ini pemimpin umat muslim telah hilang, Daulah Islamiyyah pun telah tiada, maka sirnalah kemenangan-kemenangan dan perlindungan bagi orang-orang muslim. Yang tersisa hanyalah Islam sebagai tawanan perbatasan buatan di negara-negara kecil, melayani pemerintah bodoh yang tidak bertakwa kepada Allah dan melayani maslahat-maslahat Barat kafir penjajah.

Umat muslim dalam keadaan takut mati karena bahaya korona dan penyakit-penyakit mematikan lainnya. Mereka menjalani bulan Ramadhan yang penuh berkah dengan rasa khawatir terhadap kematian sebab kelaparan dan kemiskinan. Mereka menghadapinya dengan rasa panik takut mati dikarenakan bahayanya yang melanglang. Atau mereka terjebak di perbatasan untuk melarikan diri dari penguasa yang membunuh pemuda-pemuda di negeri mereka. Mereka menjalaninya tanpa rasa aman disebabkan adanya kezaliman, penganiayaan, dan perang melawan Islam serta kaum muslimin oleh rezim kafir yang membakar umat Islam, membunuh anak-anak mereka, dan memperkosa wanita-wanita mereka bahkan sampai ke dalam rumah-rumah mereka, seperti yang terjadi di India, Kashmir, Myanmar dan Turkistan Timur.

Di antara mereka juga ada yang menyambutnya dalam kondisi keluarga mereka telah dihabisi oleh orang-orang Yahudi, Sisi Mesir, dan oleh kekuatan Amerika, Rusia, juga pasukan PBB serta Eropa, Britania dan Perancis, seperti yang terjadi di Uzbekistan, Afganistan, Irak, Suriah, Yaman, Palestina yang terjajah, Sudan Utara dan Selatan. Beberapa dari mereka menyambut Ramadhan dengan menjadi syahid, dibunuh oleh raja-raja keluarga Sa’ud di dua tanah masjid suci yang mulia.

Begitu setiap tahunnya, kaum muslimin menghadapi bulan Ramadhan setelah 99 tahun runtuhnya Khilafah pada tahun 1924 dalam keadaan sulit, hina, dan tertekan. Mereka tidak bisa merasakan manisnya keimanan dan tidak pula hidup dalam kemuliaan Islam serta menikmati indahnya penerapan Al-Quran dan sistem Islam dalam berbagai sisi kehidupan.

Rezim yang sedang berkuasa di dunia telah sengaja merusak bulan Ramadhan yang berkah dan merusak suasana iman yang harum di antara kaum muslimin dengan menciptakan masalah sehari-hari yang tidak bisa dipecahkan. Pada masa berkuasanya para ruwaibidhah dan tiran, dunia ini hidup dengan masalah yang tidak berkesudahan.

Neraca telah berubah. Memang, kenyataan hari ini adalah
kenyataan yang suram karena umat Islam hidup dalam sejarah terburuk yang disebabkan oleh hukum sekuler kapitalisme yang diktator. Demi mengembalikan kemuliaan serta kekuatan Islam dan umat Islam, kaum muslimin harus memperjuangkan tegaknya Khilafah Rasyidah Kedua yang menggunakan manhaj kenabian, untuk mengembalikan bulan Ramadhan yang diberkahi sebagaimana mestinya; bulan kemenangan dan pembebasan kaum muslimin, bulan perlindungan, kebaikan, dan kemuliaan, bulan kesatuan, kekuatan, juga keperkasaan.

Satu-satunya harapan untuk keluar dari koridor sempit kekuasaan diktator ialah berjuang bersama para pejuang yang ikhlas, bersama Hizbut Tahrir untuk membinasakan para diktator juga membelegu setan-setan kafir di bulan Ramadhan serta menjadikan bulan Ramadhan sebagai titik awal perubahan; bekerja dengan keras dan bersungguh-sungguh untuk mewujudkan kemenangan juga mengembalikan keagungan Islam dan kemuliaan Ramadhan yang tidak akan kembali kecuali dengan kembalinya Khilafah Rasyidah yang bermanhaj kenabian.

Sumber : Surat Kabar Ar Rayah, edisi 284, terbit hari Rabu 6 Ramadhan 1441 H/ 29 April 2020 M

Tautan Link asli : https://bit.ly/2KIsEU5

Hits: 3

Tags

Bagikan tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code