QS Al-Kahf: Kebenaran itu Datang dari Allah

Allah Swt. berfirman, “[Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang] Dan katakanlah (Muhammad), kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu. Barang siapa menghendaki (beriman), hendaklah ia beriman; dan barang siapa menghendaki (kafir), biarlah dia kafir.” (QS Al-Kahf: 29)

“Dan bacakanlah (Muhammad) apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab Tuhanmu (Al-Qur’an). Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya dan engkau tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain kepada-Nya.” (QS Al-Kahf: 27)

“Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan kehidupan dunia; dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas.” (QS Al-Kahf: 28)

“Dan katakanlah (Muhammad), kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; barang siapa menghendaki (beriman) hendaklah dia beriman, dan barang siapa menghendaki (kafir) biarlah dia kafir. Sesungguhnya, Kami telah menyediakan neraka bagi orang zalim yang gejolaknya mengepung mereka. Jika mereka meminta pertolongan (minum), mereka akan diberi air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan wajah. (Itulah) minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (QS Al-Kahf: 29)

Mengenai sebab turunnya ayat pertama, ayat tersebut diturunkan mengenai Salman, Abu Dzar, Shuhaib, Ammar, Habab, dan para sahabat Nabi lainnya yang tergolong fakir.

Itulah yang telah meneguhkan hati orang-orang untuk datang pada Rasulullah saw., di antaranya Uyainah bin Al-Hishn, Al-Aqra’ bin Habis, beserta kerabat atau orang-orang terkemuka lainnya. Kemudian mereka berkata, “Ya Rasulullah, jika Anda duduk di tengah-tengah majelis dan menyingkirkan bau busuk mereka dari kami, yang mana pada mereka terdapat butiran wol, kami duduk denganmu, dan kami menerima darimu.Ttidak ada yang mencegah kami untuk mengikutimu kecuali kehadiran mereka.”

Ketika ayat itu turun, Nabi pun mencari mereka, kemudian Nabi memukul mereka di belakang masjid, dan mengingat Allah Azza wa Jalla. Rasulullah saw. berkata, “Segala puji bagi Allah yang tidak mematikanku sampai Dia memerintahkanku untuk bersabar dalam menghadapi sebagian dari umatku. Bersama kalian kehidupan dan bersama kalian pula kematian .”

Sayyid Quthb menyebutkan dalam kitab tafsir Fi Zhilail Qur’an (في ظِلالِ القرآن), bahwa ayat “Dan bacakanlah (Muhammad) apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab Tuhanmu (Al-Qur’an). Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya dan engkau tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain kepada-Nya.” (QS Al-Kahf: 27) adalah petunjuk bagi Rasul saw. untuk membacakan apa saja yang telah Allah wahyukan kepadanya, yakni berupa penjelasan bahwa wahyu tersebut merupakan kebenaran yang tidak datang dari kebatilan, juga petunjuk untuk menjadikan Allah sebagai satu-satunya tempat kembali.

Dengan demikian, tidak ada perlindungan selain perlindungan-Nya. Ketika Ashabul Kahfi (para penghuni gua) lari kepada-Nya, Allah meliputi mereka dengan rahmat-Nya. “Dan bacakanlah (Muhammad) apa-apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab Tuhanmu (Al-Qur’an). Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya, dan engkau tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain kepada-Nya.” (QS Al-Kahf: 27)

Demikianlah kisah itu berakhir. Kisah yang didahului, diselingi, dan diikuti oleh petunjuk-petunjuk, yang karenanya kisah tersebut tersampaikan dalam Al-Qur’an—dengan konsistensi mutlak antara tuntunan agama dan penyajian artistik dalam konteksnya—.

(Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia.)

Semua pelajaran ini menyatakan nilai-nilai akidah bahwa nilai-nilai yang hakiki bukanlah harta, ketenaran, kekuasaan, serta bukan pula kenikmatan dan kesenangan dunia ini. Karena hal-hal tersebut merupakan nilai yang palsu dan fana.

Islam memang tidak mengharamkan kebaikan yang ada di dunia, tetapi Islam tidak menjadikan hal tersebut sebagai tujuan hidup seseorang. Barang siapa yang ingin menikmatinya, maka nikmatilah. Akan tetapi, Allah Swt. menyebutkan bahwa Allah telah memberi nikmat dan bersyukurlah atas nikmat-nikmat tersebut dengan beramal saleh, maka kebaikan yang terus-menerus akan lebih baik dan kekal. Dengan tuntunan Rasulullah saw. inilah orang-orang (yang ingin kembali kepada Allah) itu kembali, sedangkan orang-orang yang lalai dari mengingat Allah itu mengabaikannya.

Diriwayatkan bahwa hal itu diturunkan untuk para pemuka Quraisy ketika mereka meminta Rasul saw. untuk mengusir orang-orang beriman yang miskin, seperti Bilal, Shuhaib, Ammar, Khabbab, dan Ibnu Mas’ud jika Rasul menginginkan keimanan para pemuka Quraisy atau membuatkan mereka sebuah majelis—majelis yang khusus untuk mereka tanpa adanya orang-orang ini karena baju mereka bau keringat yang mengganggu para pemuka Quraisy.

Dikatakan bahwa Rasulullah saw. menginginkan keimanan mereka, mereka pun mengatakan kepada beliau permintaan mereka, maka Allah Swt. menurunkan ayat tersebut. Allah menurunkannya dengan mengumumkan nilai hakiki dan menetapkan timbangan yang tidak salah.

(Barang siapa menghendaki beriman, hendaklah ia beriman; dan barang siapa menghendaki kafir, biarlah ia kafir.)

Islam tidak memuji siapa pun dan tidak menimbang (amal) manusia atas ketidaktahuannya yang pertama, dan tidak ada kebodohan yang menetapkan timbangan bagi manusia selain timbangannya sendiri.

(Dan bersabarlah terhadap dirimu sendiri.)

Janganlah bosan dan jangan terburu-buru (dengan orang-orang yang mengharap kepada Rabb-nya pada waktu pagi dan malam hari), maka Rabb yang menjadi tujuan mereka, mereka kembali kepada-Nya pada pagi dan malam hari, mereka tidak berpaling dari-Nya, dan mereka hanya mencari keridaan-Nya.

Apa-apa yang mereka harapkan adalah kemuliaan dan lebih tinggi dari semua pengharapan duniawi. Bersabarlah kamu dengan mereka, temanilah, duduklah bersama mereka, dan ajarilah mereka karena pada mereka ada kebaikan dan ada dakwah bagi orang-orang seperti mereka.

Dakwah ini tidak didasarkan atas orang-orang yang memeluknya karena mereka mayoritas; yang memeluknya untuk memimpin pengikut mereka; yang memenuhi ambisi/ketamakan mereka; serta memperdagangkannya di pasar dakwah—membeli dari mereka dan menjualnya!—. Dakwah ini berdasarkan hati yang berharap pada Rabb-nya dengan penuh keikhlasan, tidak mengharapkan ketenaran, kesenangan, dan keuntungan. Melainkan hanya mengharap rida-Nya.

(Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia.)

Janganlah perhatianmu kepada mereka berubah kepada pandangan-pandangan dunia yang dinikmati oleh orang-orang yang memiliki perhiasan, karena ini merupakan perhiasan kehidupan (dunia), yakni orang yang senantiasa memohon kepada Rabb-nya pada waktu pagi dan malam. Tidaklah meninggikan diri ke arah yang tinggi itu.

(Dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginan dan keadaannya sudah melewati batas.)

Janganlah ikuti mereka beserta keinginan mereka, yaitu membeda-bedakan antara mereka dengan orang-orang fakir. Seandainya mereka mengingat Allah Swt., niscaya mereka akan mengurangi kesombongannya dan mengurangi sifat berlebihan yang ada pada mereka, juga menundukkan kepala mereka yang hina. Kemudian mereka merasakan keagungan Allah Swt. bahwa semua kepala akan sama saja di bawah naungan-Nya. Mereka pun merasakan ikatan akidah yang menjadikan umat manusia bersaudara, tetapi mereka justru mengikuti hawa nafsu mereka.

Mereka mengikuti hawa nafsu mereka, yaitu hawa nafsu jahiliah dan menjadikan hal itu sebagai standar dalam menilai seorang hamba. Mereka beserta ucapannya adalah kebodohan yang akan lenyap. Tidaklah mereka mendapatkan hak kecuali diabaikan—sebagai balasan karena mereka telah lalai dari mengingat Allah.

Sungguh, Islam datang untuk menyamakan seluruh manusia di hadapan Allah. Tidak ada keutamaan di antara mereka, baik dari harta, nasab, dan kedudukan. Karena seluruhnya adalah nilai yang palsu dan akan lenyap. Sedangkan keutamaan mereka itu hanyalah ditakar dari kedudukan mereka di sisi Allah, yang ditimbang dari kadar kecondongannya pada Allah dan keikhlasannya. Adapun selain dari timbangan ini, hanyalah sebuah nafsu, kebodohan, dan kebatilan.

(Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami.)

Kami lalaikan hatinya ketika ia condong pada dirinya sendiri, harta, anak-anak, perhiasan, berbagai kelezatan, dan nafsunya sehingga di dalam hatinya tidak ada lagi ruang untuk Allah.

Hati mereka tersibukkan dengan perkara-perkara tersebut dan menjadikan hal itu sebagai tujuan hidupnya. Mereka benar-benar lalai dari mengingat Allah, sehingga Allah menambah rasa lalai itu sampai tiba saat hari-hari meludah di hadapan mereka dan Allah melemparkan segala yang telah Dia sediakan bagi orang-orang seperti mereka—yang berbuat zalim terhadap diri sendiri dan orang lain.

(Dan katakanlah (Muhammad), “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu. Barang siapa menghendaki (beriman), hendaklah dia beriman; dan barang siapa menghendaki (kafir), biarlah dia kafir.)

Dengan keagungan dan ketegasan ini, kebenaran tidak bengkok ataupun bungkuk, melainkan berjalan di jalannya dengan tegak. Tidak ada kebengkokan di dalamnya, kuat tanpa ada kelemahan di dalamnya, terus terang dan tidak berputar-putar.

Barang siapa menghendaki (beriman) hendaklah ia beriman; dan barang siapa menghendaki (kafir), biarlah ia kafir; dan barang siapa yang tidak menyukai kebenaran, maka pergilah.

Barang siapa tidak menjadikan keinginannya menurut apa yang datang dari sisi Allah, maka tidak ada penghormatan atas akidahnya. Barang siapa yang tidak merendahkan diri dan tidak menundukkan keangkuhannya di hadapan keagungan Allah, maka akidah tidak membutuhkannya.

Sesungguhnya, akidah itu bukan milik siapa pun sampai ia diperlakukannya  dengan baik. Akidah itu milik Allah, dan Allah Mahakaya. Akidah tidak dibanggakan ataupun dimenangkan oleh mereka yang tidak menginginkannya demi mereka sendiri (ed. atas pilihan mereka sendiri), tidak juga dimenangkan oleh mereka yang tidak mengambil sebagaimana mestinya (tanpa adanya perubahan).

(Dan barang siapa meremehkan kaum muslimin—yang menyeru Tuhannya pada pagi dan sore hari dengan mengharap rida-Nya–maka tidak ada kebaikan yang diharapkan darinya bagi Islam atau kaum muslimin.)

Kemudian Allah menerangkan apa saja yang Allah persiapkan bagi orang-orang kafir dan apa yang Allah persiapkan bagi kaum muslimin dalam berbagai pembahasan tentang hari kiamat.

(Sesungguhnya, Kami telah menyediakan neraka bagi orang zalim; kami telah menyiapkannya dan telah menyediakannya.)

Neraka tidak memerlukan usaha untuk menyalakan apinya dan tidak memakan waktu untuk mempersiapkannya! Meskipun penciptaan sesuatu tidak memerlukan apa-apa selain kalimat kehendak-Nya, yakni “Jadilah, maka terjadilah!” tetapi pernyataan, “Kami telah menyiapkan…,” memberi gambaran kecepatan, persiapan, kesediaan, dan memasukkan orang-orang zalim secara langsung ke dalam api neraka yang telah disiapkan.

Itulah neraka yang gejolaknya mengepung orang-orang zalim. Tiada jalan melarikan diri, tiada peluang untuk selamat dan lolos (dari gejolaknya), dan tiada harapan tentang angin bertiup atau istirahat di dalamnya!

Jika mereka meminta minum karena panasnya api dan kehausan, mereka diberi minum dengan air seperti minyak mendidih dan seperti nanah panas—sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qu’ran—yang panasnya mampu memanggang wajah di dekatnya.

Jadi, bagaimana dengan tenggorokan dan perut yang akan menelannya? Sebagaimana firman Allah Swt., “Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” Mereka ditimpa kesengsaraan karena meminta minum dari air yang membakar!

Betapa api neraka dan gejolaknya adalah seburuk-buruk tempat untuk bersantai dan berbaring. Penyebutan kemudahan di dalam gejolak api neraka hanyalah olok-olokan yang pahit. Tidaklah ada kemudahan di sana, yang ada hanyalah kesengsaraan.[]

Diterjemahkan dari Majalah Al-Waie edisi 424, terbit pada Jumadilawal 1443 H/Desember 2021 M

Hits: 16

Tags

Bagikan tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code