Peran Ulama Rabbani dalam Upaya Menegakkan Negara Khilafah Rasyidah (Bagian 1)

Oleh: Ustaz Yasin Muthohar, Indonesia

Tanpa ulama, umat manusia adalah orang-orang jahil yang diperdaya dan dihasut oleh setan-setan—baik yang berwujud manusia maupun jin—menuju kesesatan dan hawa nafsu dari segala sisi. Oleh karena itu, keberadaan para ulama adalah salah satu nikmat Allah Swt. bagi penduduk bumi. Mereka laksana lentera kegelapan, imam yang memberikan petunjuk, dan hujah Allah di muka bumi. Melalui mereka, kesesatan dan keraguan dihilangkan dari jiwa dan raga. Mereka adalah kegusaran setan, pilar keimanan, dan pemimpin umat. Perumpamaan mereka di bumi seperti bintang di langit yang memberikan petunjuk dalam gelapnya malam. Tanpanya, orang-orang akan berada di ambang kesesatan.

Salah satu bencana besar yang menimpa umat Islam setelah runtuhnya negara Khilafah adalah hilangnya peran ulama sebagai penggerak dalam dakwah dan politik Islam.  Banyak ulama yang hanya memainkan peran marginal di bidang ibadah spiritual dan akhlak. Mereka menyeru umat kepada Al-Qur’an dan sunah dari aspek spiritual, tetapi dalam aspek politik mereka menyerahkannya kepada politisi sekuler.

Adapun orang-orang yang menyeru kepada Al-Qur’an dan sunah secara kafah—dalam segala aspek kehidupan—mereka dimusuhi dan dituduh melakukan ekstremisme dan terorisme. Oleh karena itu, harus ada penjelasan yang gamblang tentang sosok ulama serta peran mereka dalam memimpin umat dan membangkitkannya dari kemunduran yang telah menimpanya sejak lama.

Siapakah para Ulama?

Jika disebutkan istilah “ulama”, maka yang dimaksud adalah orang-orang berilmu di bidang syariat Islam, atau kata lainnya di bidang agama Islam.

  • Mereka digambarkan dalam Al-Qur’an sebagai orang-orang yang takut kepada Allah, sebagaimana firman Allah:

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” (QS Fathir: 28)

  • Al-Qur’an juga menggambarkan mereka sebagai orang-orang yang menyampaikan agama Allah, baik perihal akidah maupun hukum-hukum Islam, yang sekaligus hanya takut kepada Allah, bukan kepada manusia, sebagaimana firman Allah:

“Orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tidak merasa takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai pembuat perhitungan.” (QS Al-Ahzab: 39)

Al-Hafiz Abu Fida Ibn Katsir berkata dalam tafsirnya, “Allah Swt. memuji orang-orang yang menyampaikan risalah Tuhannya (kepada ciptaan-Nya serta melakukannya secara amanah) dan takut kepada-Nya (hanya takut kepada-Nya dan tidak takut kepada siapa pun selain Allah, sehingga tidak ada suatu kekuatan pun yang mampu mencegah mereka dari menyampaikan risalah Allah). Sedangkan maksud dari “…dan cukuplah Allah sebaik-baik pembuat perhitungan”, yaitu cukuplah Allah sebaik-baik Penolong dan Pelindung.

Figur umat dalam hal penyampaian risalah ini, bahkan dalam hal lainnya adalah Nabi Muhammad saw.. Beliau mengemban risalah dan menyampaikannya kepada umat manusia baik yang berada di timur maupun barat, juga kepada seluruh kalangan Bani Adam. Kemudian Allah menangkan kalimat, agama, juga syariat-Nya atas seluruh agama dan syariat lainnya. Dulu, seorang Nabi hanya diutus kepada kaumnya, sedangkan Rasulullah saw. diutus kepada seluruh makhluk-Nya, baik bangsa Arab ataupun non-Arab. Sebagaimana firman Allah Swt.,

“Katakanlah (Muhammad), ‘Wahai manusia, sesungguhnya Aku adalah utusan Allah untuk kalian semua.(QS Al-A’raf: 158)

Kemudian beliau wariskan amanah mengemban risalah ini kepada umat Islam setelahnya. Dengan begitu, para sahabat Rasulullah adalah figur umat terluhur yang melanjutkan warisan amanah tersebut setelah tiadanya beliau. Mereka telah menyampaikan risalah tersebut persis sebagaimana yang beliau perintahkan, di seluruh perkataan, perbuatan, ataupun setiap kondisinya; baik di siang dan malam harinya; dalam hadirnya ataupun safarnya; secara diam-diam ataupun terang-terangan. Maka Allah rida terhadap mereka.

Kemudian begitu terus selanjutnya, setiap generasi menerima warisan amanah penyampaian risalah dari pendahulu-pendahulu mereka hingga saat ini. Orang-orang yang diberi petunjuk pun berjalan mengikuti cahaya para pendahulunya,  dan orang-orang yang diberi taufik pun menempuh jalan mereka. Kami memohon kepada Tuhan Yang Mahamulia lagi Maha Pemurah, agar menjadikan kami penerus ulama yang amanah, lagi memenuhi janji Allah.

  • Ulama adalah orang-orang yang tidak menyembunyikan ilmu dan tidak menerima harga yang murah (kenikmatan dunia, penj.) sebagai imbalan dari menyembunyikan ilmu, sebagaimana firman Allah:

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al-Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka. Dan bagi mereka siksa yang amat pedih.” (QS Al-Baqarah: 174)

  • Ulama adalah orang-orang yang senantiasa berdakwah sebagaimana Rasulullah saw., Allah berfirman:

“Katakanlah, ‘Inilah jalan (agama)-ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.’” (QS Yusuf: 108)

Ulama lebih dari sekadar dai, khatib, guru, ataupun mursyid. Mereka adalah pengawal urusan kaum muslim. Mereka adalah tulang punggung ahlul halli wal ‘aqdi yang menjadi poros politik umat, mengarahkan berbagai peristiwa, serta membentuk eksistensi umat di hari ini dan masa depan. Mereka adalah orang-orang yang Allah kehendaki ada pada derajat pertama dalam ayat-ayat yang memerintahkan untuk taat kepada ululamri, dan menyerahkan segala urusan kepada mereka baik dalam kondisi damai, perang, bahagia, maupun sulit, di antaranya adalah:

“Hai orang-orang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ululamri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (AlQuran) dan Rasul (sunahnya),” (QS An Nisa: 59)

Ayat ini memerintahkan agar kaum muslimin menaati ululamri, karena mereka menggenggam kebijakan dan kekuasaan. Ululamri yang dimaksud adalah orang yang menjaga segala urusan masyarakat dan berwenang memberi mereka perintah. Sehingga dalam diri ululamri perlu terpenuhi beberapa karakteristik, di antaranya mampu dalam fisik, kekuasaan, ilmu, dan ucapannya. Oleh karenanya, ululamri terdiri dari dua kalangan, yakni ulama dan umara (penguasa). Sedangkan karakteristik mereka lainnya telah dijelaskan oleh Al-Qur’an.

Ulama dan Janji-Nya

Sesungguhnya Allah Swt. telah mengambil janji dari para ulama untuk menjelaskan Al-Qur’an—baik yang berkaitan dengan akidah, ataupun hukum-hukumnya—serta agar mereka tidak menyembunyikan ilmu tersebut sedikitpun kepada manusia. Bagaimanapun kondisi yang dihadapinya, serta apapun kesulitan dan rintangan yang dihadapinya.

Allah Swt. berfirman:

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): ‘Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya,’ lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruknya tukaran yang mereka terima.” (QS Ali Imran: 187)

Qatadah mengatakan, “Janji yang dimaksudkan (dalam ayat ini) adalah janji yang Allah Swt. ambil dari para ulama. Maka barangsiapa yang mengetahui suatu ilmu, maka hendaklah dia mengajarkannya kepada manusia, dan janganlah kalian menyembunyikan ilmu tersebut, karena menyembunyikannya adalah sebab kebinasaan. Dan janganlah pula seseorang yang tidak tahu  berlagak memiliki ilmu, sehingga dia malah keluar dari agamanya dan termasuk orang-orang yang menyusahkan dirinya sendiri.” (Al-Dur Al-Mantsur karya Imam Al-Syuyuthi, jilid empat halaman 168)

Imam Al-Hasan mengatakan, “Jika bukan karena janji Allah Swt. yang diambil dari para ulama, maka Aku tidak akan menyampaikan banyak hal berkaitan apa yang kalian tanyakan.” (Al-Dur Al-Mantsur karya Imam Al-Syuyuthi, jilid empat halaman 170)

Imam Al-Alusi juga mengatakan dalam kitabnya Rauhul Ma’ani, “Ayat ini menjadi dalil atas wajibnya menyampaikan ilmu dan haramnya menyembunyikan apa pun yang merupakan bagian dari perkara agama dengan maksud yang buruk, seperti menggampangkan adanya kezaliman, mempermanis diri sendiri, mengamini keinginan diri, meraup keuntungan bagi diri sendiri, dan yang lain sebagainya. Dalam sebuah hadis Rasulullah saw. bersabda, ”Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu kemudian ia menyembunyikannya, maka ia akan dicambuk dengan cambuk yang terbuat dari api.” (HR Ahmad, Abu Dawud, dan Al-Tirmidzi) (Ruh Al- Ma’ani karya Al- Alusi, jilid lima halaman 188)

Syekh Muhammad Al-Tahir bin Asyur menjelaskan firman-Nya, “…dan mereka membelinya dengan harga yang rendah…”, kemudian berkata, “Maksud ‘membeli’ di sini adalah perumpamaan untuk aktivitas pertukaran serta harga yang rendah, yakni suap yang mereka terima sebagai imbalan dari kalangan pemimpin maupun masyarakat umum. Hal ini dilakukan guna mendukung kezaliman serta kekacauan yang timbul akibat salahnya berbagai interpretasi (takwil). Dengan adanya banyak kesalahan interpretasi hukum syara, para penguasa yang otoriter dan zalim akan terbebas dari dosa kezalimannya terhadap rakyat. Salah interpretasi tadi sekaligus menjadi peringatan bagi orang-orang yang berniat mengubah keadaan. Meskipun ayat ini berbicara soal Ahli Kitab, tetapi hukum ayat ini berlaku bagi orang-orang yang melakukan perbuatan tersebut dari kalangan kaum muslimin karena ada kesatuan jenis hukum dan illat di dalamnya.” (Al-Tahrir wal-Tanwir, 4/193)

Berdasarkan hal itu, para ulama tidak boleh berbicara kecuali kebenaran, tidak boleh menyembunyikan ilmu, dan tidak boleh menukar ilmu agama dengan harga yang murah dan dunia yang keji. Mereka harus menjelaskan agama terkait perkara akidah, ibadah, pergaulan, ekonomi, dan politik secara jelas dan tidak rancu, bagaimanapun kondisi dan konsekuensinya.

Ulama adalah Pewaris para Nabi

Sungguh, ulama dalam Islam memiliki kedudukan yang mulia; karena mereka adalah pewaris para nabi. Merekalah yang mewarisi para nabi dalam keilmuan, perilaku, dakwah, menyampaikan risalah, menjelaskan syariat, menegakkan agama Allah, dan berjihad untuk meninggikan kalimat Allah.

Dari Abu Darda ra., dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, Barang siapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayapnya bagi orang yang menuntut ilmu karena rida dengan apa yang diperbuatnya. Dan bahwasanya penghuni langit dan bumi serta ikan yang ada di lautan itu senantiasa memintakan ampun kepada orang yang pandai. Keutamaan orang alim terhadap orang ‘abid bagaikan keutamaan bulan purnama terhadap bintang-bintang. Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para nabi. Dan bahwasanya para nabi tidak akan mewariskan dinar dan dirham, tetapi para nabi mewariskan ilmu pengetahuan, maka barang siapa yang mununtut ilmu darinya, maka dia telah mengambil bagian yang sempurna.’” (HR Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dan Ibnu Hibban)

Ulama yang merupakan pewaris para nabi adalah ulama yang senantiasa mengamalkan ilmunya. Mereka adalah cahaya yang menyinari dunia dari gelapnya kebodohan. Mereka adalah pemimpin dalam ilmu setelah para nabi yang memimpin umatnya. Mereka itulah pewaris para nabi.

Allah Swt. berfirman:

“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami.” (QS Fathir: 32)

Imam Al-Zamakhsyari berkata dalam kitabnya Al-Kasysyaf, “Mereka dikatakan pewaris para nabi karena dekatnya kemuliaan dan kedudukan mereka; karena mereka adalah para pemimpin terhadap apa yang mereka diutus karenanya (Islam).”

Seorang ulama tidak dikatakan sebagai pewaris para nabi kecuali jika ilmu dan amalnya bersih, senantiasa menapaki derajat kesempurnaan, dan senantiasa menjauhkan diri dari syahwat yang merendahkan. Imam Al-Hasan berkata, “Barangsiapa yang menuntut ilmu dengan mengharapkan keridan Allah, maka itu lebih baik baginya daripada terbitnya matahari.”

Maka, tidak ada derajat yang lebih tinggi dari derajat kenabian dan tidak ada kemuliaan yang lebih agung daripada kemuliaannya. Ulama tidak dikatakan pewaris para rasul, melainkan pewaris para nabi; agar maknanya lebih umum dan mencakup. Akan tetapi, para nabi tidak mewariskan apapun dari dunia. Oleh karena itu, yang tersisa di tangan para ulama adalah warisan para nabi di mana umat mendapat manfaat dari mereka dalam menjelaskan Islam, menyebarkan hukum-hukumnya, serta memperbaiki kondisi lahir dan batinnya. Sabda Rasulullah tentang ulama, mereka adalah pewaris para nabi yang mengemban tanggung jawab besar terhadap kaum muslimin, para penguasa, dan perjuangan menegakkan Daulah Islam.

Seluruh keutamaan ini diberikan kepada para ulama yang berani mengamalkan ilmunya dengan benar, menyukai kebaikan, menyeru kebajikan, mencegah kejahatan, menegur penguasa, menjaga kepentingan umat Islam, peduli dengan urusan umat Islam, sekaligus turut menanggung setiap bahaya dan kesulitan dengan hal ini.

Ya, sesungguhnya semua kehormatan ini ditujukan untuk para ulama penjaga Islam, penjaga agama Allah. Mereka menyeru penguasa untuk menerapkan agama Allah, dengan perkataan ikhlas dan hati yang teguh. Mereka disifati dengan akhlaknya para pengemban risalah, maka perbuatan mereka adalah interpretasi dari seluruh ajaran Al-Qur’an dan sunah. Mereka berkata kepada orang yang tidak adil, “Kamu telah berbuat salah.”, kepada para koruptor mereka berkata, “Kamu telah berbuat salah.” dan kepada orang berdosa mereka berkata, “Kamu telah bermaksiat kepada Allah.”

Mereka memperbaiki yang rusak dan meluruskan yang bengkok. Mereka tidak takut sedikit pun terhadap manusia, dan mereka tidak takut disalahkan oleh pencela. Mereka berkata kepada semua orang, baik penguasa maupun rakyat, “Kemarilah, inilah sebenar-benarnya jalan, yakni jalan Islam, jalan keselamatan, jalannya Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji.”

Ya, ulama tidak akan takut kepada pemimpin yang zalim, tidak juga terhadap penguasa tiran; karena mereka beriman dengan sabda Rasul dan Nabi mereka, Muhammad saw. yang diriwayatkan oleh Husain bin Ali ra., “Barangsiapa melihat seorang pemimpin yang zalim, yang menghalalkan apa yang Allah haramkan, melanggar perjanjian Allah, dan menyelisihi sunah Rasulullah; maka dia menindak hamba-hamba Allah sesuai dengan dosa dan pelanggaran itu, dan dia tidak mengubah fakta tersebut baik dengan perbuatan atau perkataan. Hak Allah untuk memasukkannya ke dalam pintunya.” (Diriwayatkan oleh Al Tabari dalam kitab Takhrij, ibn Al-Atsir dalam kitab Kamil, dan selainnya)

Mereka tidak tinggal diam tentang suatu kewajiban yang harus disuarakan, tidak menutup-nutupi hukum syara dalam suatu persoalan pun; baik yang berkaitan dengan urusan umat, hubungan kenegaraan, atau perbuatan penguasa. Hal itu karena mereka meyakini firman Allah,

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Qur’an, mereka itulah yang dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat melaknat.” (QS Al-Baqarah: 159)

Demikian pula firman-Nya,

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi Kitab (yaitu), ‘Hendaklah kamu benar-benar menerangkannya (isi Kitab itu) kepada manusia, dan janganlah kamu menyembunyikannya,’ Lalu, mereka melemparkannya (janji itu) ke belakang punggung mereka (mengabaikannya) dan menukarnya dengan harga yang murah. Maka, itulah seburuk-buruk jual beli yang mereka lakukan.” (QS Al-Imran: 187)

Selaras dengan perkataan beberapa ulama yang dikenal baik perjalanan hidupnya, seperti Ibn Taimiyah dan Ibn al-Qayyim, “Orang yang diam pada kebenaran ibarat setan bisu.” Merekalah para ulama yang berhak mendapatkan gelar yang diberkahi ini sebagaimana yang telah Islam gambarkan, dan sebagaimana Allah menghendaki mereka untuk membawa Al-Qur’an dan agamanya, serta sebagaimana Rasulullah meridai mereka menjadi pewaris dalam menyampaikan risalahnya kepada umat manusia.

Diterjemahkan dari Majalah Al-Waie edisi 426-428, tahun ke-36, Rajab-Ramadan 1443 H/Februari-April 2022 M

 

Glosarium:

RabbUlama yang ikhlas, bertakwa, dan mengamalkan ilmunya (sumber: Tafsir Al-Tahrir wa Al-Tanwir, dan lainnya)

Hits: 30

Tags

Bagikan tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code