Peran Ulama Rabani Dalam Upaya Menegakkan Negara Khilafah Rasyidah (Bagian 3)

Oleh: Ustaz Yasin Muthohar, Indonesia

Ibnu Hazm Al-Andalusi menyerang raja-raja yang memerintah wilayah Islam di Spanyol dan Portugal setelah keruntuhan Kekhalifahan Umayyah di Cordoba dengan keras dan ungkapannya yang pedas karena ketidakpedulian mereka terhadap agama dan akidah, sampai dia mengatakan tentang mereka dalam bukunya yang terkenal, Points of the Bride in the Dates of the Caliphs, “Demi Allah, seandainya mereka tahu bahwa dalam penyembahan salib ada sesuatu yang menyelesaikan masalah mereka, mereka akan bersegera ke sana. Kami melihat mereka meminta pertolongan kepada orang-orang Nasrani, yang memungkinkan kaum Nasrani untuk “mengatur” umat Islam, anak-anaknya, dan para pemudanya. Kemudian membawa kaum muslimin sebagai tawanan menuju negara mereka (Nasrani). Bisa jadi mereka akan memberikan kota dan benteng kaum muslimin secara sukarela, kemudian kaum Nasrani akan mengosongkannya dari pengaruh Islam dan membangunnya dengan lonceng-lonceng.” Karena pemaparannya ini, raja-raja membenci Ibnu Hazm dan ingin menjauhkannya dari tanah mereka dan mengasingkannya dari satu tempat ke tempat lain. Mereka takut dengan pandangan kritisnya juga karangan persuasinya terhadap skandal dan kejahatan mereka. Mereka bahkan membakar bukunya di hadapan orang banyak.

Hujjatul Islam Abu Hamid Al-Ghazali berkata, “Ini adalah biografi para ulama dan kebiasaan mereka dalam amar makruf nahi mungkar; sedikitnya kepedulian mereka terhadap kekuasaan para sultan, akan tetapi bertawakal kepada Allah yang telah melindungi mereka dengan anugerah-Nya. Mereka puas dengan ketetapan Allah jika Dia menganugerahkan mereka mati syahid. Ketika dahulu mereka ikhlas karena Allah agar kata-kata mereka mampu memengaruhi hati yang keras, lalu Allah lembutkan hati itu dan menghilangkan kekerasannya. Tetapi sekarang, keserakahan telah membungkam lidah para ulama, sehingga mereka pun diam. Jika mereka berbicara pun, kata-kata mereka tidak menyelesaikan keadaan, sehingga mereka pun tidak berhasil memberikan pengaruh. Rusaknya pemeliharaan negara disebabkan rusaknya para penguasa, kerusakan para penguasa disebabkan rusaknya para ulama, dan kerusakan para ulama disebabkan oleh kecintaan mereka pada harta dan ketenaran. Barang siapa dikuasai oleh cinta dunia, ia tidak akan mampu mempertimbangkan antara hal-hal yang hina. Maka bagaimana ia mampu melakukan pertimbangan atas para penguasa?” Semoga Allah memberi pertolongan di setiap keadaan.

Peran Ulama selama Ketiadaan Daulah Islam

Ulama pada hakikatnya memiliki peran yang sangat besar pada masa kekosongan kedaulatan umum dan kosongnya kekuasaan dari kepemimpinan global yang menjadi penyatu kaum muslimin.

Imam Juwaini memaparkan, “Jika suatu masa terjadi kekosongan dari seorang pemimpin; dan terjadi kevakuman dari pemimpin yang memiliki dukungan, kapabilitas, dan konsekuen; maka permasalahan-permasalahan umat menjadi tanggungan para ulama. Wajib bagi masyarakat—meskipun dengan perbedaan tingkatan mereka—untuk kembali kepada ulama, dan solusi dari permasalahan-permasalahan wilayah merujuk pada pendapat mereka. Jika mereka melakukan itu, maka mereka telah diberi petunjuk ke jalan yang benar, dan pada saat itu pula ulama negeri tersebut (merangkap) menjadi pemimpin para hamba.” (Dikutip dari kitab Ghiyaatsul Umam Fii At-Thiyasi Adz-Dzulam karya Imam Abul Ma’ali Al-Juwaini, Imam Haramain).

Peran penting ulama yang berpengaruh dan menggerakkan ini merupakan hal yang ditakuti dan dihindari oleh sistem internasional—yang lembaga-lembaga dan peraturannya dibangun atas dasar yang sangat kontradiktif dengan pemahaman para ulama—. Karena itu, mereka berupaya untuk menempatkan ulama di tempat yang beku (tidak dapat berbuat apa-apa), menjadikan mereka hanya sebatas jasad, menghalangi mereka untuk memberi gejolak panas perubahan dan pengaruh, juga memutus hubungan antara ulama dan masyarakat. Hal ini juga dilakukan terhadap para pemuda yang bangkit dan selalu menang dalam perjuangan. Sistem ini berupaya untuk menjadikan kaum muslimin terus dalam kemunduran; kita terus berkutat dengan hal-hal mengenai tawanan, perjuangan tanpa disertai kesadaran, dan ketiadaan metode di berbagai bidang yang dengannya umat bisa bangkit. Saat ini, ulama kita dihimpit oleh dua kesulitan, kesulitan karena dihadapkan dengan musuh yang angkuh, dan kesulitan karena dihadapkan dengan pemuda yang kacau.

Bukan termasuk ajaran agama Islam ketika kaum muslimin tak acuh terhadap kekacauan dalam urusan kehidupan. Islam merupakan agama universal yang tidak akan pernah sempurna penerapannya tanpa adanya sebuah negara. Dengan tidak adanya negara Islam hari ini, maka semua muslim terutama para ulama harus berjuang untuk mendirikan sebuah negara Islam, karena ini adalah salah satu kewajiban agama yang paling penting sebagaimana ditetapkan oleh para ulama. Al-Haythami berkata dalam kitab Al-Shawaiq Al-Muhriqah, “Ketahuilah, para sahabat ra. sepakat bahwa mengangkat imam setelah masa kenabian berakhir adalah kewajiban. Bahkan ini adalah perkara paling penting di antara perkara wajib lainnya. Maka untuk memenuhi kewajiban ini, ada beberapa hal yang harus diperhatikan:

– Tidaklah cukup bagi umat Islam secara individu untuk mendirikan daulah kecuali adanya kelompok di sekitarnya. Maka, harus ada aktivitas kolektif dari suatu kelompok yang menyadari kewajiban ini dan apapun yang terkait dengannya. Aktivitas kolektif ini tidaklah sempurna kecuali diiringi dengan mempelajari Al Qur’an dan sunah yang berhubungan dengan penegakan daulah, mempelajari sejarah umat Islam, dan fakta yang meliputinya. Hal ini merupakan sebuah kewajiban.

– Aktivitas kolektif ini butuh kepada ilmu syar’i. Maksudnya, tsaqafah kelompok beserta pengamalannya adalah hal pertama yang harus dikuasai dan dilakukan para ulama. Para ulama akan menetapkan pemikiran-pemikiran Islam, juga menggali hukum syara’ terhadap suatu aktivitas. Maka sebuah kelompok—yang wajib diwujudkan umat Islam agar dapat menerapkan hukum Allah—haruslah didasarkan pada ilmu dan ulama terlebih dahulu.”

Memasukkan para ulama dan mengikutsertakan mereka dalam dakwah termasuk faktor terbesar keberhasilan dakwah, karena merekalah kunci hati umat Islam. Ulama wajib menegakkan hukum Allah di bumi, sebagaimana umat Islam yang lainnya juga wajib menerapkan hukum Allah. Para ulamalah yang menjadi penimbang benar dan salah di kalangan masyarakat, perkataan mereka didengar dan dihormati. Maka, usaha memasukkan ulama dalam barisan terdepan dakwah haruslah menjadi hal yang paling utama dalam aktivitas dakwah.

Para penguasa saat ini telah menyadari pentingnya peran ulama, sehingga mereka mengambil ulama untuk dijadikan pendukung, melayani mereka, dan menjadikan ulama sebagai bawahannya yang berfatwa sesuai keinginan mereka. Di kalangan umat ada ulama milik para pemimpin; ulama yang fasik; dan ulama yang diwaspadai Rasulullah dalam sabdanya, “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas umat setelahku adalah setiap orang munafik yang pintar bersilat lidah” (HR Ahmad).

Hal ini juga disebutkan dalam hadis Jabir bin Ka’ab bin ‘Ujroh, bahwasanya Nabi saw. pernah berkata kepadanya, “Semoga Allah melindungi engkau dari kepemimpinan orang-orang bodoh, wahai Ka’ab.” Ia pun bertanya, “Apa yang dimaksud dengan kepemimpinan orang-orang bodoh wahai Rasulullah?” Rasulullah saw. menjawab, “Mereka adalah para pemimpin yang akan datang setelahku. Mereka memimpin tanpa mengikuti petunjukku dan tidak mengamalkan sunahku. Maka barang siapa yang membenarkan segala kedustaan mereka dan berkontribusi dalam kezaliman yang mereka perbuat, sesungguhnya mereka bukan termasuk golonganku, begitu pun aku bukan dari golongan mereka, dan mereka tidak akan mendatangi telagaku (pada hari kiamat). Sebaliknya, barang siapa yang tidak membenarkan segala kebohongan mereka serta tidak menolong mereka dalam kezaliman, sesungguhnya mereka itu termasuk golonganku dan aku merupakan bagian dari mereka, mereka pun akan mendatangiku di telagaku (pada hari kiamat).” Hadis tersebut memberi peringatan pada umat Islam agar tidak berada di belakang para penguasa maupun di hadapan mereka. Dari sini dapat diketahui dengan jelas bahwa para ulama memiliki peran serta kedudukan penting dalam Islam. Peran inilah yang seyogianya dapat memberi keuntungan lebih banyak pada dakwah daripada manfaat yang diperoleh para penguasa zalim.

Kesimpulannya, para ulama telah membuktikan sebelumnya bahwa keberadaan mereka adalah untuk kepentingan Islam itu sendiri, dan pada hakikatnya mereka adalah pewaris para nabi. Islam saat ini menginginkan terutama para ulamanya—yang saat ini mereka berada di persimpangan jalan—untuk memberikan upaya semaksimal mungkin dalam menjelaskan hukum-hukumnya secara jujur dan berani, mengemban dakwah kepada Islam, dan menjadikan keberadaan mereka didasarkan pada asas Islam. Apabila para ulama tidak mendukung kebenaran, tidak mencegah kebatilan, tidak melakukan amar makruf nahi mungkar, tidak melakukan koreksi penguasa, dan tidak memenuhi kewajiban-kewajiban mereka yang lainnya, maka apa manfaat keberadaan mereka? Bukankah perut bumi lebih baik bagi mereka daripada punggungnya?

Para ulama yang membatasi diri soal Islam dan kalah melawan kekafiran di medan perang, seharusnya mereka mengikuti jejak ulama terdahulu yang mengamalkan ilmunya. Hendaklah mereka menjadi penolong atas kegagalan yang menyelimuti mereka. Hendaklah mereka mengembalikan sejarah awal Islam dengan memulai kembali kehidupan islami yang memuliakan Islam, ulama-ulamanya, serta pengikutnya; serta menghinakan kaum kafir, tentaranya, juga penolongnya.

Sesungguhnya integritas umat tidak akan terealisasi kecuali dengan adanya ulama rabani dan pemimpin yang mengikuti jalan yang lurus, yang memimpin umat meraih kemuliaan, martabat, dan kedudukan Islam dengan mengembalikan kehidupan islami. Maka betapa hari ini kita membutuhkan sosok ulama yang dapat membenahi umat, yang ketika dia benar maka umat akan benar, dan ketika dia rusak maka umat akan rusak.

Diterjemahkan dari Majalah Al-Waie edisi 426-428, tahun ke-36, Rajab-Ramadan 1443 H/Februari-April 2022 M

Hits: 14

Tags

Bagikan tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code