Kesuksesan Hakiki Pemuda Terdapatada Rida Tuhannya dan Pengorbanannya kepada Umat

Oleh: Prof. Ruwal Ibrahim

Ketika pemuda memperoleh suatu keberhasilan, mereka bersorak-sorai melengkingkan suara (adat orang Arab dalam mengekspresikan kebahagiaan, ed.), memukul genderang, dan anak-anak bernyanyi untuk menunjukkan kebahagiaan atas keberhasilan ini. Akan tetapi, ketika keberhasilan itu berkaitan dengan Ujian Tawjihi (Ujian Sertifikat Pendidikan Menengah Umum di Yordania dan Palestina, ed.), maka para penduduk—baik yang sedang tidur maupun terjaga—akan mendapatkan kemalangan berupa gemuruh yang akan mereka dengar dari suara kembang api yang menakutkan. Gema suara ledakan dan asap memenuhi langit-langit rumah orang yang telah berhasil melaksanakan ujian di siang hari, serta suara gemuruh dan lampu kilat di malam hari. Ditambah lagi biaya yang terbuang untuk harga petasan atau peluru, yang terkadang petasan dan peluru itu justru menembak orang yang menyalakannya atau orang lain dengan kecelakaan serius hingga dapat menghilangkan sebagian anggota badan mereka dan menyebabkan kebakaran di beberapa perumahan. Dari sini, dapat diperkirakan bahwa konsekuensi kerugian dari semua itu pastilah sangat besar.

Tradisi yang rusak ini muncul dan berkembang dari ide menembakkan peluru ke udara pada momen bahagia ataupun sebaliknya. Seluruh kecelakaan fatal yang mengiringi tradisi ini menjungkirbalikkan neraca peristiwa (dari bahagia menjadi petaka), yang akhirnya mendorong banyak negara untuk mengeluarkan undang-undang yang melarang tindakan ini secara tegas dan menghukum siapa saja yang melakukannya jika mereka tidak memiliki perlindungan dalam hukum.

Orang yang berfikir teliti akan mendapati bahwa sumber dari kebiasaan ini berasal dari para pelaku yang tak mampu mengendalikan keinginan mereka dalam mengekspresikan kebahagiaan ketika memperoleh keberhasilan. Semua itu tidak menjadi sebuah masalah apabila masih dalam batas syariat dan tidak berlebihan sampai merugikan orang lain. Mereka juga mengamati bahwa hilangnya pemahaman kebahagiaan hakiki dari sisi kaum muslimin hari ini disebabkan hilangnya negara Islam yang menjelaskan kepada umat tentang kebahagiaan, sebab-sebabnya, dan jenis-jenisnya.

Allah Swt. telah menciptakan alam semesta, manusia, kehidupan, juga seluruh galaksi yang diperkirakan berjuta-juta jumlahnya—setiap galaksi merupakan ruang yang sangat besar yang di dalamnya terdapat berbagai bintang, planet, bulan, komet, serta benda langit lainnya—. Tidak ada yang mengetahui jumlahnya kecuali Allah. Galaksi-galaksi itu memiliki bentuk dan jenis yang berbeda, masing-masing beroperasi menurut sistem presisi yang mengendalikannya tanpa ada sedikit pun penyimpangan.

Manusia adalah penyebab permasalahan-permasalahan dalam kehidupan. Permasalahannya beragam, banyak, dan selalu ada yang baru. Di antaranya adalah masalah pemikiran dan perasaan, atau masalah yang berkaitan dengan perbuatan, sarana, atau sesuatu. Allah menciptakan manusia dengan potensi kehidupan berupa kebutuhan jasmani dan naluri yang memengaruhi perbuatan seseorang, juga menjadikan pada keduanya (kebutuhan jasmani dan naluri) karakteristik berupa perasaan. Ketika manusia menyadari bahwa ia adalah sebab dari permasalahan-permasalahan dalam kehidupan, penting baginya untuk mengetahui fakta terkait dirinya sendiri agar ia memahami hal-hal yang dapat membawa kebahagiaan baginya.

Kebahagiaan datang dalam arti kegembiraan dan kesenangan, berlawanan dengan kesengsaraan. Kebahagiaan bersifat naluriah, ia terdapat dalam diri manusia tanpa memandang agama, kepercayaan, dan pemikirannya. Kebahagiaan ketika sukses melewati Ujian Tawjihi; kebahagiaan ketika memenangkan pertandingan; kebahagiaan ketika mendapat penghargaan, hadiah, atau uang; kebahagiaan menjadi seorang ayah atau ibu; kebahagiaan ketika menduduki posisi yang tinggi, dan yang sejenisnya adalah kebahagiaan yang bersifat naluriah.

Ada kebahagiaan yang berkaitan dengan pandangan hidup, seperti kebahagiaan seorang muslim dalam menjalankan ibadah seperti salat wajib, puasa, salat malam, zakat, dan sedekah; kebahagiaan dengan berdirinya Daulah Khilafah Rasyidah; kebahagiaan umat Islam dengan penaklukan negara dan mengubahnya menjadi negara Islam; juga kebahagiaan mujahid dengan mati syahid di jalan Allah.

Kebahagiaan atau kegembiraan menurut Islam dipaparkan dengan jelas dalam firman Allah Swt., “Katakanlah, dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” Ibnu Katsir berkata, “Maksudnya, dengan petunjuk dan agama yang benar, hendaklah mereka bergembira dengan apa yang datang dari Allah, karena sesungguhnya itu adalah hal yang paling utama bagi mereka untuk berbahagia atasnya. ‘Itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.’ bermaksud bahwa segala sesuatu yang merupakan harta duniawi dan apa yang ada di dalamnya berupa keindahan akan rusak dan pasti hilang.”

Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Abi Hatim dalam penafsiran ayat ini, ia menyebutkan dari Baqiah, yaitu Ibnu al-Walid, dari Safwan bin Amr, “Aku mendengar Ayfa’ bin Abd al-Kala’i berkata, ‘Ketika datang harta kharraj dari Irak kepada Khalifah Umar ra., Khalifah keluar bersama seorang pelayannya. Kemudian Khalifah Umar menghitung-hitung ternak dari hasil kharraj itu, dan ia mendapati bahwa jumlahnya jauh lebih banyak daripada apa yang diperkirakannya. Maka Umar ra. berkata, ‘Segala puji bagi Allah.’ Sedangkan pelayannya mengatakan, ‘Demi Allah, ini merupakan berkat karunia dan rahmat Allah.’ Maka Khalifah Umar memotongnya, ‘Kamu dusta. Ini bukanlah yang dimaksudkan oleh firman-Nya, “Katakanlah, dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” Sedang semua harta ini berasal dari apa yang mereka kumpulkan.’”

Berkata Ibnu Taymiyah ra., “Sesungguhnya derajat hati yang paling tinggi adalah kesenangan paripurna atas apa-apa yang datang dari Rasulullah saw., ia bergembira dan bersuka cita atasnya. Seperti yang terdapat dalam firman Allah Swt., ‘Dan orang yang telah Kami berikan kitab kepada mereka bergembira dengan apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad).’

Sungguh, Nabi saw. sangat bergembira ketika mendengar kalimat-kalimat yang menunjukkan kesiapan untuk menolong (agama) Allah dan rasul-Nya. Rasulullah benar-benar gembira atas pengorbanan serta dedikasi mereka untuk itu. Ketika Rasul bersama kaum muslimin pergi ke medan Perang Badar; ketika kaum Anshar berjanji pada Rasulullah saw. bahwa mereka akan melindungi Rasul di Madinah melebihi perlindungan mereka terhadap istri dan anak-anak mereka; atau ketika mendengar salah satu pemimpin mereka, Miqdad bin Aswad yang mengakatan suatu perkataan luhur, “Kami tidak berkata kepadamu seperti Bani Israil yang berkata kepada Nabi Musa as., ‘Pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kalian berdua. Sesungguhnya kami duduk di sini hanya menanti saja’. Akan tetapi kami akan berangkat berperang di sebelah kanan dan kirimu, di depan dan di belakangmu. Seandainya engkau membawa kami menyebrangi laut, maka kami akan menyebrangi lautan tersebut.” Pada saat itulah, Rasulullah saw. bergembira dengan kegembiraan yang paripurna.

Suatu hari Abu Bakar pergi ke Ka’bah lalu berkhotbah menyeru kaum musyrikin untuk mendengarkan Rasulullah saw., seruan pertama ia mengajak mereka kepada jalan Allah, setelah ia berbicara, orang-orang kafir langsung menyerang dan memukulinya hingga hampir membunuhnya. Ketika ia tersadar, ia bertanya dan memastikan keberadaan Rasulullah saw.. Maka ketika disampaikan padanya bahwa Rasulullah saw. dalam keadaan baik, ia pun sangat berbahagia.

Abdullah bin Umar bin Khattab ra. berkata, “Tidak ada yang membuat aku lebih bergembira dalam Islam kecuali tidak adanya sedikit pun al-ahwa’ (hawa nafsu) yang masuk dalam hatiku.”

Ibnu Qayyim berkata dalam kitab Madarij Al-Saalikin, “Aku mendatangi salah seorang sahabat yang sedang mendapati kebahagiaan hingga membuatnya menangis. Maka aku pun bertanya akan hal tersebut (kegembiraan yang ia rasakan), ia menjawab, ‘aku mengingat-ingat segala hal yang Allah karuniakan padaku dari segala ketetapan dan pengetahuan yang Ia beri, terhindarnya diriku dari kemiripan akan suatu kaum serta aturan-aturan batil mereka, serta pembenaran menggunakan akal yang murni dan fitrah yang sehat atas apa-apa yang telah Rasul bawa. Hal ini membuatku merasa bahagia hingga menangis karenanya.’”

Dari sini, dapat diketahui bahwasanya harus ada pengamatan berulang perihal makna sukacita dan perlu meneliti kembali makna hakiki dari kebahagiaan, yang mana kebahagiaan tersebut sesuai dengan apa yang telah ditetapkan syariat, yang mampu menambah keimanan seseorang dan tidak menuntunnya pada keadaan bersuka ria hingga melampaui batas.

Adapun pemuda kita saat ini sedang melakukan pertempuran bersama umat melawan westernisasi dan serangan berulang terhadap agama serta kemaslahatan umat. Wajib bagi mereka untuk memperbaiki kompas mereka menuju rida Allah dan bekerja keras dengan sungguh-sungguh untuk membangkitkan kembali sebaik-baik umat dari keterpurukannya yang telah berkepanjangan. Sesunguhnya mereka adalah pilar dan unsur perubahan. Oleh karena itu, kurangilah sendagurau kalian wahai para pemuda! Karena sungguh, sudah tiba saatnya untuk serius. Maka siapa lagi yang termasuk umat terbaik untuk umat kalian kalau bukan kalian sendiri?

Wahai pemuda, sesungguhnya kafir barat dengan penuh kedengkian dan dengan segala kemampuan juga perlengkapannya berjuang melawan kalian dengan berbagai macam serangan–perang dingin dan panas–. Mereka ingin memperlambat lahirnya Khilafah Rasyidah yang pasti berdiri dalam waktu dekat—dengan izin Allah—ini, meski mereka tidak akan mampu untuk menghalanginya. Maka siapakah yang akan ada untuk dakwah dan Khilafah selain kalian? Tidakkah kalian tersulut kerinduan untuk merasakan kebahagiaan pada hari di mana pekikan takbir itu meninggi diatas bangunan Vatikan? Tidakkah kerinduan kalian membara untuk menikmati rasa bahagia yang bercampur dengan kemuliaan, kehormatan, dan keluhuran ketika kalian membebaskan Masjidilaqsa dari kekejian Yahudi? Demi Allah, sesungguhnya kalian lebih berhak atas itu dan kalianlah orangnya.

“Untuk (kemenangan) serupa ini, hendaklah beramal orang-orang yang mampu beramal.” (QS Ash-Shaffat:61)

Wahai pemuda, sekaranglah waktunya umat untuk bangkit, waktu agama kalian untuk berdiri, juga waktu Khilafah Rasyidah kedua—yang sesuai metode kenabian—itu terlahir kembali. Maka jadilah kalian orang yang berperan untuk mewujudkannya, dan ambillah kesempatan yang bersejarah ini!

Diterjemahkan dari Surat Kabar Al-Rayah edisi 403, terbit pada Rabu, 12 Muharam 1444 H/10 Agustus 2022 M

Klik di sini untuk mengakses sumber

Hits: 19

Tags

Bagikan tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code