Kemenangan: Cobaan dan Kabar Gembira di Hadapan Janji Allah (Bagian 6)

Oleh: Prof. Muhammad Jami’ (Abu Aiman)

Setelah Kemenangan, Apa Selanjutnya?

Telah terbukti secara pasti—berdasarkan berbagai dalil dan bukti—bahwa kemenangan hanya ada di tangan Allah Swt.. Kemenangan merupakan nikmat dan anugerah yang Allah limpahkan kepada hamba yang dikehendaki-Nya. Banyak dalil yang menjelaskan bahwa pertolongan itu dekat atas izin Allah. Untuk menunggu datangnya pertolongan Allah, hanya memerlukan kesabaran yang sesaat, lalu pertolongan itu akan tiba dalam sekejap mata.

Cobaan merupakan salah satu hukum alam yang tidak akan berubah kecuali dengan izin Allah. Adapun kabar gembira tentang dekatnya kemenangan, sungguh tanda-tandanya telah tampak di ujung cakrawala. Orang yang mengingkari kemenangan hanyalah jiwa yang sakit; sedangkan orang yang tidak dapat melihat kemenangan, hanyalah orang yang pada matanya terdapat selaput, di mana ia terkena penyakit mata.

Jelas sekali bahwa penindasan, penahanan, pengusiran, serta cacian merupakaan cobaan dan ujian bagi para pengemban dakwah di mana pun mereka berada. Allah Swt. berfirman, “Dan sungguh Kami akan berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, serta kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (TQS Al-Baqarah:155). Allah mendatangkan ujian kepada hamba-hamba-Nya untuk menguji mereka. Barang siapa yang tetap teguh di jalan kebenaran, maka Allah akan meningkatkan derajatnya; menaikkan kedudukannya; dan menempatkannya di tempat yang tinggi pada hari kiamat kelak.

Kemenangan tidak akan terwujud kecuali di bawah naungan negara yang menerapkan Islam (Khilafah Rasyidah yang sesuai dengan metode kenabian); yang wajib ditegakkan dalam Islam. Khilafah adalah satu-satunya sistem politik yang Allah ridai bagi umat Islam. Seorang pengemban dakwah harus selalu berjuang untuk mewujudkan kemenangan dalam berbagai keadaan yang sulit. Ia harus menjadi seorang penjaga Islam yang terpercaya dan menjadi pionir untuk menegakkan Khilafah Rasyidah. Pengemban dakwah tidak bermanis muka dalam dakwahnya, serta tidak akan melemah tekad kuat yang dimilikinya.

Jelas sekali bahwa rezim yang menguasai dunia saat ini tidak akan berhenti memerangi Islam. Mereka juga tidak akan berhenti untuk mencabik negeri-negeri kaum muslimin dan menindas penduduknya. Oleh karena itu, hendaknya para pengemban dakwah mencari ganimah dari berbagai cobaan—yang merupakan bagian dari qada Allah—yang ada.

Hendaknya para pengemban dakwah juga menampakkan kebaikan diri mereka (berupa usaha dan tekad) kepada Allah Swt., dan selalu yakin terhadap janji-Nya. Mereka tidak boleh menampakkan sikap rapuh, lemah, dan sikap menyerah. Karena sejatinya, mereka harus menampakkan kekuatan dan keteguhan. Allah Swt. berfirman, “(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,’ maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, ‘Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung.'” (TQS Ali Imran:173).

Pengemban dakwah harus meyakini secara sempurna, bahwa rezeki dan ajalnya berada di tangan Allah Swt.. Mereka harus yakin bahwa tidak ada kekuatan apa pun di muka bumi yang dapat menghalangi rezeki dan ajal yang telah Allah tetapkan atas mereka.

Pengemban dakwah harus selalu menyibukkan diri dengan tanggung jawab dakwah. Mereka harus meliputi dakwahnya dengan berbagai perbuatan yang mampu menciptakan opini publik, yaitu kesadaran tentang “kewajiban untuk berhukum dengan Islam”, dan “urgensi persatuan umat Islam di bawah naungan Khilafah Rasyidah yang sesuai dengan metode kenabian”. Persatuan umat akan terwujud melalui seseorang—yang memenuhi syarat untuk menjadi khalifah—yang dibaiat oleh umat Islam untuk menjadi pemimpin mereka.

Pada dasarnya, seorang pengemban dakwah harus memiliki sifat dinamis, kuat, dan percaya kepada Allah Swt.. Pengemban dakwah juga harus berdiri tegak dengan optimis dan percaya diri, untuk membangun masa depan yang sesuai dengan ideologi Islam serta memasukkan pengaruh akidah dan aturan Allah di dalamnya. Maka tidaklah hari berlalu tanpa ia berceramah di masjid, berdiskusi dengan khalayak di berbagai tempat, menghadiri majelis di masjid, menulis di koran maupun di internet, atau yang lainnya. Pengemban dakwah melakukan semua tadi dalam rangka menyeru masyarakat untuk menegakkan Khilafah.

Tidak pula hari berlalu kecuali ia berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat, acara umum, dan kejadian tertentu (seperti ketika terjadi musibah); atau ia mengontak para tokoh di negaranya, demi menyampaikan dakwah dan berdiskusi bersama mereka dengan menggunakan cara yang baik. Sehingga mereka (para tokoh) mau mengadopsi ide Islam dan menarik tangan mereka dari mendukung aturan-aturan yang batil. Seperti inilah dakwah yang dilakukan Nabi saw..

Sebagai penutup, hendaknya para pengemban dakwah meyakini bahwasanya pertolongan merupakan qada (ketetapan Allah Swt.) sebagaimana rezeki dan ajal. Cukuplah bagi mereka sabda Nabi saw. kepada Ibnu Abbas ra., “Wahai pemuda, sungguh aku akan mengajarimu beberapa kalimat, ‘Jagalah Allah, niscaya Ia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya dihadapanmu. Apabila kamu ingin meminta sesuatu, mintalah kepada Allah, dan apabila engkau ingin memohon pertolongan, mohonlah kepada-Nya. Ketahuilah, seandainya sekelompok manusia bersatu untuk memberi manfaat kepadamu dengan sesuatu, niscaya mereka tidak akan mampu memberi manfaat kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tentukan untukmu. Dan apabila mereka bersatu untuk menimpakan mara bahaya kepadamu dengan sesuatu, niscaya mereka tidak akan membahayakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Ia tetapkan untukmu. Pena-pena telah diangkat, dan lembaran-lembaran telah kering.'” (HR At-Tirmidzi, dan ia berkata bahwa hadis ini hasan sahih).

Hadis Ibnu Abbas ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitabnya Musnad, dan diriwayatkan juga oleh Imam Ath-Thabrani dalam kitabnya Al-Mu’jam Al-Kabir dan Al-Mu’jam Al-Awsat. Adapun riwayat Al-Hakim dalam kitab Al-Mustadrak dan riwayat Baihaqi dalam kitab Syu’ab Al-Iman terdapat lafaz, “Ketahuilah, bahwa pertolongan itu bersama kesabaran, kelapangan itu bersama kesulitan, dan bersama kesukaran itu ada kemudahan.”

Saat ini adalah tahapan di mana umat Islam menghadapi banyak cobaan, namun di saat yang sama kabar gembira akan muncul di dalamnya. Ia merupakan tahapan untuk bersabar dan bersiteguh. Dalam periode ini, umat perlu bersiap dan memikirkan “bagaimana” ke depannya setelah kemenangan itu tiba dan fakta hari ini berubah? Bagaimana kita akan menyebarkan keadilan? Bagaimana kita menyebarkan keamanan di tengah masyarakat? Dan bagaimana kita memimpin mereka untuk menjadi lebih baik?

Oleh karena itu, para pengemban dakwah harus berbaik sangka kepada Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Esa. Mereka harus bersabar atas segala cobaan; membenarkan kabar gembira; serta yakin terhadap Tuhan mereka yang menjanjikan kemenangan, penaklukan, dan kekuatan. Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya Kami akan menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari Kiamat).” (TQS Gafir:51). Sungguh Allah akan memenuhi janji-Nya, memuliakan agama-Nya, mengalahkan musuh-musuh-Nya, serta menolong hamba-hamba-Nya—meski dalam waktu yang tidak ditentukan

Selesai.

Diterjemahkan dari Surat Kabar Al-Rayah edisi 420, terbit pada Rabu, 13 Jumadilawal 1444 H/07 Desember 2022 M

Klik di sini untuk mengakses sumber 

Visits: 2

Tags

Bagikan tulisan ini

Tulisan menarik lainnya...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Category

Gabung Channel Telegram