Kemenangan: Cobaan dan Kabar Gembira di Hadapan Janji Allah (Bagian 3)

Oleh: Prof. Muhammad Jami’ (Abu Aiman)

Ketika orang zalim telah mendominasi ahlul haq (orang yang menyebarkan kebenaran), niscaya mereka (orang zalim) akan memaksakan kebatilan dengan penindasan dan kekerasan. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Barat kepada negeri-negeri Islam hari ini. Mereka melantik orang-orang yang bodoh sebagai penguasa; serta senantiasa menyebarkan kerusakan dan kelakar atas nama demokrasi dan kebebasan—seperti propaganda yang menyesatkan dan propaganda untuk murtad dari Islam—. Mereka juga menghancurkan keluarga melalui slogan “memberi kebebasan untuk perempuan dan anak-anak”, sebagaimana tujuan dari perjanjian CEDAW (The Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination against Women) dan perjanjian lain yang serupa.

Media “yang dibayar” berkolusi untuk menyampaikan omong kosong ini kepada masyarakat dan memperindah citra propagandis yang hina. Fakta ini memengaruhi sebagian pengemban dakwah. Mereka—yang berdakwah untuk mendirikan syariat Allah di muka bumi—pun mengira terdapat kesalahan pada dakwah, sehingga pertolongan Allah tidak menghampiri mereka.

Sebagian pengemban dakwah malah berpikir lebih jauh, mereka meminta “keringanan” pada metode dakwah, karena merasa adanya kejumudan dalam dakwah; mereka juga meminta “modifikasi” manhaj yang telah dianut dan disepakati—yaitu mendirikan Khilafah—, agar mereka dapat mewujudkan perubahan yang berasaskan agama dan akidah. Dengan begitu, tekad pengemban dakwah menjadi lemah, dan keyakinan mereka dalam mengemban metode yang benar—yang bersandar pada asas yang kokoh, yaitu wahyu Allah dan syariat-Nya—pun menjadi terguncang.

Perkara “cepat atau “lambat”-nya pertolongan Allah bukanlah bukti “benar” atau “salah”-nya suatu metode yang ditempuh oleh mereka yang mendambakan perubahan atas dasar Islam. Lambatnya pertolongan dapat menimpa siapa pun, termasuk para nabi—yang merupakan hamba yang paling Allah cintai—. Hal ini merupakan ujian dan cobaan yang Allah berikan kepada hamba yang Dia kehendaki.

Banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an yang menegaskan hal tersebut, Allah Swt. berfirman, “Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan kaumnya) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada mereka pertolongan Kami, lalu Kami selamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. Dan siksa Kami tidak dapat ditolak oleh kaum yang berdosa.” (QS Yusuf:110).

Ayat tersebut mengisahkan tentang Nabi Nuh as., yang berdakwah kepada kaumnya dalam kurun waktu yang sangat panjang. Mereka mendustakan, menghina, menentang, serta berbuat jahat kepada beliau beserta para pengikutnya. Nabi Nuh as. diuji dengan cobaan semacam ini selama 950 tahun. Beliau tetap bersungguh-sungguh dalam mengemban dakwah, di mana segala daya dan upaya ia kerahkan, tanpa rasa letih dan jenuh walaupun yang beriman hanya segolongan kecil. Sebagaimana firman Allah Swt dalam Al-Qur’an, “Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.”  (QS Hud:40).

Kendati demikian, tak terbesit dalam benak beliau bahwa metode yang digunakannya itu salah, sehingga mengakibatkan umat tidak menjawab seruannya. Dan masih banyak lagi contoh lain yang serupa.

Adapun meminta untuk disegerakan datangnya pertolongan pada saat kesengsaraan merajalela dan penderitaan terus bertambah, itu merupakan fitrah manusia. Karena manusia tidak bisa menanggung penderitaan yang panjang, kecuali orang-orang yang dirahmati oleh Allah Swt..

Di satu sisi, kesengsaraan dapat melemahkan tekad dan semangat. Di sisi lain pula, kesengsaraan dapat menguatkan kelompok yang sesat. Kelompok ini mengira bahwa mereka berada dalam kebenaran, sehingga mereka terus menekan dan berbuat yang semena-mena terhadap pengemban dakwah. Dengan begitu, penderitaan yang menimpa para pengemban dakwah terus bertambah, sehingga mereka meminta agar pertolongan segera datang.

Dari Khabbab bin Al-Arat beliau berkata, “Kami pernah mengadu kepada Rasulullah saw. dan beliau sedang duduk beralaskan kain burdah di bawah naungan Ka’bah, kami berkata, Tidakkah Engkau memohon pertolongan kepada Allah Swt. untuk kami? Atau tidakkah Engkau berdoa kepada Allah untuk memohon pertolongan untuk kami?’ Beliau menjawab, ‘Sungguh, telah ada seseorang dari kaum sebelum kalian yang ditangkap lalu dikubur dalam tanah, kemudian didatangkan kepadanya gergaji di atas kepalanya. Ia pun dibelah menjadi dua, namun hal itu tidak menjadikannya keluar dari agama. Ada pula yang disisir kulitnya dengan besi hingga tersisa tulangnya saja, dan itu tidak menjadikannya keluar dari agama Allah. Demi Allah, sesungguhnya Allah akan menyempurnakan perkara ini hingga seorang penunggang berjalan dari Madinah menuju Hadramaut, ia tidak takut kecuali hanya kepada Allah Swt., dan ia tidak mengkhawatirkan kambingnya akan dimakan serigala. Akan tetapi kalian sangatlah tergesa-gesa.'” (HR Bukhari).

Umat Islam saat ini hidup dengan kemalangan tersebut. Ketika Khilafah—yang merupakan negara mereka—dihancurkan dan orang kafir menduduki negeri-negeri kaum muslimin, wilayah nan elok ini berubah. Ia seolah menjadi penjara besar, di mana terdapat orang kafir berserta pengikutnya yang memerangi agama Allah.

Orang-orang kafir itu memenuhi sudut-sudut wilayah umat Islam dengan kemaksiatan; dan mengangkat derajat orang-orang pandir, yaitu para penguasa antek kafir, tentara, para politisi, cendekiawan, media, dll. Kemudian, tsaqafah yang tersebar di sana adalah tsaqafah kafir penjajah, baik dalam hal pemerintahan, politik, ekonomi, sosial, dan yang lainnya.

Saya menyukai perkataan penulis kitab Tafsir Fii Zilalil Qur’an tentang ayat-ayat di surat Al-Hajj yang menggambarkan realita saat ini. Di mana beliau berkata, “Kemenangan mungkin datang terlambat, karena bangunan umat Islam belum matang dan sempurna; belum terkumpul energinya; serta setiap selnya belum distimulasi dan dikumpulkan untuk mengetahui kadar maksimal untuk kekuatan dan persiapannya. Kalaupun umat Islam berhasil meraih kemenangan pada saat ini, niscaya mereka akan segera kehilangannya, karena umat Islam tidak mampu mempertahankan kemenangan tersebut dalam jangka waktu yang panjang.”

Kemenangan mungkin datang terlambat agar hubungan umat Islam dengan Allah Swt. bertambah erat. Sehingga pada saat mereka menderita, merasa sakit, dan ketika berjuang, mereka tidak mendapati sandaran kecuali Allah, dan tidak berserah diri kecuali pada Allah di setiap kesulitan. Hubungan ini adalah jaminan utama agar umat Islam selalu konsisten dalam metodenya, bahkan setelah pertolongan itu tiba atas izin Allah. Sehingga umat tidak akan berpaling dari kebenaran, keadilan, dan kebaikan—yang merupakan sebab datangnya pertolongan Allah—, serta tidak menyimpang darinya.

Kemenangan mungkin datang terlambat karena kebatilan yang diperangi oleh umat Islam belum terungkap kedustaannya secara sempurna. Kalaupun umat Islam dapat mengalahkan kebatilan tersebut saat ini, mungkin saja para pendukungnya, yaitu orang-orang yang terpedaya masih ditemukan. Hal tersebut karena mereka (orang-orang yang terpedayabelum meyakini kerusakan yang ditimbulkan oleh kebatilan, juga urgensi untuk menghilangkannya. Kebatilan ini masih mengakar dalam diri masyarakat yang belum melihat fakta riil tersebut, ehingga Allah ingin agar kebatilan tetap ada sampai ia tampak jelas di hadapan umat, kemudian kebatilan tersebut akan hilang tanpa menyisakan penyesalan sedikit pun.

Kemenangan mungkin datang terlambat karena lingkungan yang belum siap untuk menerima kebenaran, kebaikan, dan keadilan yang dibawa oleh umat Islam. Kalaupun umat Islam dimenangkan sekarang, niscaya umat akan mendapatkan perlawanan dari lingkungan tersebut. Dengan begitu, aturan menjadi tidak stabil; juga tidak bisa diterapkan. Kemudian konflik pun akan terus berlanjut sampai masyarakat siap menerima dan mempertahankan kebenaran—yang pasti akan menang—.

Kemenangan mungkin datang terlambat karena semua alasan tadi, atau karena banyak alasan lain yang hanya diketahui oleh Allah Swt.. Dengan begitu, pengorbanan beserta rasa sakit pun akan berlipat ganda, namun Allah selalu melindungi orang-orang yang beriman. Dan pada akhirnya, Allah akan mewujudkan kemenangan bagi mereka.

Kemenangan membutuhkan biaya dan pengorbanan, sehingga Allah akan memberikannya setelah umat mengerahkan segala usaha, membayar harganya, serta mempersiapkan suasana di sekitarnya untuk menyambut dan mempertahankan kemenangan tersebut. Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS Al-Hajj:40).

Pada momen yang besejarah ini, hendaknya para aktivis bertambah keyakinannya untuk menegakkan Islam di bumi melalui Khilafah. Karena sesungguhnya, metode yang mereka emban adalah satu-satunya yang mampu membawa perubahan, karena metode tersebut (menegakkan Khilafah) menjadikan akidah Islam sebagai landasan, dan menjadikan hukum syara’ sebagai tolak ukurnya. Juga karena hukum-hukum dan solusi dari permasalahan terbaru juga digali dengan ijtihad yang benar—yang berasal dari wahyu Allah, baik dalam perkara dasar, maupun dalam perkara cabang. Sesungguhnya tahapan ini—dengan keimanan dan kepercayaan terhadap metode mereka—membutuhkan keteguhan, agar Allah Swt. memuliakan kita dengan Khilafah Rasyidah yang sesuai dengan metode kenabian.

Bersambung.

Diterjemahkan dari Surat Kabar Al-Rayah edisi 417, terbit pada Rabu, 22 Rabiulakhir 1444 H/16 November 2022 M

Klik di sini untuk mengakses sumber 

Visits: 1

Tags

Bagikan tulisan ini

Tulisan menarik lainnya...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Category

Gabung Channel Telegram