Kemenangan: Cobaan dan Kabar Gembira di Hadapan Janji Allah (Bagian 1)

Oleh: Prof. Muhammad Jami’ (Abu Aiman)

Tidak diragukan lagi bahwa peristiwa berulang yang memprovokasi perasaan kaum muslimin ditujukan untuk menumbuhkan rasa frustasi, takut, dan putus asa pada diri kaum muslimin. Sebagaimana—yang Anda saksikan—sikap para penguasa muslim yang bergegas melakukan belasungkawa atas kematian ratu Inggris, di mana Inggris adalah negara penjajah yang telah menyiksa dan menindas hak umat Islam dengan keji.

Anda juga menyaksikan duta besar Amerika di Sudan yang berlagak seperti merpati putih yang membawa kedamaian, dengan mendatangi keluarga, orang tua, dan desa-desa di Sudan. Mereka juga memeriksa keadaan orang miskin, mengadakan pertemuan, dan menghadiri konferensi. Ia menunjukkan dirinya seolah penguasa asli di negara tersebut, padahal semua orang mengetahui bahwa Amerika adalah dalang dari semua kejahatan dan kriminalitas di dunia, terutama negara-negara Islam.

Suatu yang pasti bahwa negara-negara penjajah telah menciptakan krisis dan bencana di negeri-negeri kita—dengan bantuan agennya—, serta menyusun berbagai rencana dan konspirasi. Mereka juga menguasai keamanan dan politik, sehingga membuat keadaan menjadi buruk dan kehidupan menjadi sulit. Oleh karena itu, perasaan putus asa dan frustasi mulai menyusup ke dalam hati sebagian orang, sampai-sampai ada yang mengatakan, “Apakah kemenangan akan turun kepada kita setelah ini?”

Sesungguhnya pertolongan adalah pemberian dan hadiah yang Allah Swt. berikan kepada hamba-Nya yang ikhlas. Allah Swt. menurunkan pertolongan-Nya baik cepat ataupun lambat, itu karena ada hikmah yang hanya diketahui Allah Swt.. Allah Swt. menunda pertolongan-Nya untuk menguji orang mukmin dan untuk membedakan antara orang yang ikhlas dan teguh dengan orang yang kalah dan menyerah.

Sebagaimana sunatullah yang terjadi, bahwa manusia meminta untuk disegerakan hal-hal yang baik baginya, tetapi ia tidak sabar ketika dihadapi oleh kesulitan. Allah Swt. berfirman, Dan kalaulah Allah menyegerakan keburukan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pastilah diakhiri umur mereka.” (QS Yunus:11).

Seringkali kebahagiaan datang setelah kesengsaraan, dan kesejahteraan hadir setelah kemalangan. Ada banyak hal yang orang sangka baik, namun ternyata itu buruk. Sebaliknya, apa-apa yang disangka buruk, namun ternyata itu baik. Allah Swt. berfirman, “Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagi kamu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagi kamu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS Al-Baqarah:216).

Umat Islam telah menghadapi banyak guncangan hebat sepanjang sejarah, bahkan guncangan tersebut terjadi berulang kali. Dahulu ketika terjadi serangan bangsa Tatar dan perang salib, Allah Swt. mengirimkan orang-orang yang ikhlas ke tengah-tengah umat, lalu mereka menyatukan barisan sehingga umat dapat menang melawan musuh-musuhnya.

Begitu juga saat ini, guncangan demi guncangan kembali terulang terutama setelah runtuhnya Khilafah. Para penjajah mulai masuk ke negeri-negeri kaum muslimin, menduduki Palestina, memerangi warganya, memaksa para penduduk untuk meninggalkan tanah air mereka, dan masjidilaqsa menjadi tawanan yang mereka nodai baik siang ataupun malam. Selain itu, para wanita diperkosa di Bosnia dan Herzegowina, tanah Chechnya dijarah, kaum muslimin dipaksa menyembah sapi oleh orang-orang Hindu, dibunuh secara brutal oleh kaum Nasrani di Afrika Tengah, dan muslim Rohingya diperlakukan secara keji oleh orang Buddha penyembah patung. Ditambah dengan kehancuran Irak dan Afganistan, pemisahan Sudan Selatan, dan yang lainnya. Semua guncangan ini tak lepas dari keterlibatan para penguasa Islam, ulama, dan para pengikutnya.

Memang benar bahwa peristiwa-persitiwa yang provokatif juga guncangan yang keras dan menyakitkan telah menimpa sebagian generasi umat. Peristiwa dan guncangan yang terjadi telah menggoyahkan diri umat juga tanah yang ada di bawah kaki mereka sehingga mematahkan lengan mereka. Bersamaan dengan itu, terjadi perang pemikiran dan budaya yang dilancarkan oleh negeri-negeri penjajah untuk menyerang kaum muslimin. Seperti perang untuk meragu-ragukan dan mendiskreditkan dalil-dalil syariat, serta mencemarkan sejumlah konsep Islam. Mereka juga menyebarkan ide-ide kufur; membatasi orang-orang yang menyerukan penerapan hukum Islam dalam tatanan negara dan masyarakat; dan menganiaya jiwa, harta, serta keluarga mereka.

Perang yang banyak tersebar ini telah melemahkan tekad sebagian orang, sehingga ada yang berubah dan memutuskan untuk berpihak pada Barat; yang lebih mengutamakan keselamatan dan ketergantungan pada dunia, sehingga mereka tetap diam; atau ada pula yang jatuh dalam keputusasaan dan frustasi, sehingga mereka tidak mampu membawa kabar gembira kepada umat dengan penaklukkan yang nyata dan pertolongan yang dekat. Yang tersisa dari mereka hanyalah sekelompok generasi umat yang mulia, yang membela dan berjuang untuk kebenaran; yang kokoh seperti gunung dan tidak akan roboh dengan berbagai goncangan; yang tidak akan berubah karena fitnah; serta tekad mereka tidak akan patah karena cobaan ataupun amarah.

Kelompok tersebut telah memenuhi apa yang disebutkan Nabi Muhammad saw., “Akan senantiasa ada sekelompok orang di antara umatku yang menang di atas kebenaran. Tidaklah membahayakan mereka orang lain yang menyia-nyiakan mereka hingga datang ketetapan Allah sementara mereka senantiasa berada dalam keadaan demikian.” (Muttafaq ‘alaih).

Benar, kehancuran telah menyebar setelah umat kehilangan pemimpin—yang mengurusinya—, penguasa, serta negaranya, di mana umat tidak lagi dinaungi oleh seorang khalifah ataupun imam. Maka benar sabda Rasulullah saw., “Seorang imam itu ibarat perisai, seseorang berperang dibelakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya.” (HR Muslim).

Sesungguhnya penguasa umat Islam saat ini bukanlah seorang imam, pemimpin, ataupun pengurus umat. Bahkan kehadiran mereka adalah bencana dan kesengsaraan bagi umat. Hal tersebut telah dibenarkan oleh sabda Rasulullah saw., “Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan kepalsuan, yang di dalamnya pembohong dianggap jujur, sedangkan orang jujur dianggap pembohong; seorang pengkhianat dianggap orang yang dapat dipercaya, sedangkan orang yang dapat dipercaya dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu, yang akan banyak bicara adalah ruwaibidhah.” Ditanyakan kepada Nabi saw., “Apakah itu ruwaibidhah?” Beliau menjawab, “Seseorang yang sangat dungu berbicara tentang urusan orang banyak.” (HR Ahmad dalam Musnad-nya).

Benar, dahulu umat Islam memimpin pasukan perang, meninggikan panji Islam, mampu untuk menghancurkan benteng-benteng, dan melahirkan generasi-generasi yang kuat. Mereka juga mampu menakut-nakuti pahlawan yang kuat, menyebarkan kebaikan ke seluruh dunia, serta membantu para duafa yang menjerit—untuk meminta pertolongan—dan orang-orang yang membutuhkan.

Ya, itulah umat Islam. Diriwayatkan ketika Umar bin Khattab ra. datang ke Syam, ada sekelompok pasukan tentara menemuinya. Pada saat itu beliau hanya menggunakan jubah dan sorban, membawa batu apung, dan sedang memegang kepala untanya untuk mengumpulkan air. Sekelompok tentara itu berkata, “Wahai amirulmukmininkami telah datang kepadamu di Syam, sedang engkau dalam keadaan seperti ini?” Kemudian Umar ra. menjawab, “Sesungguhnya kita adalah kaum yang Allah muliakan dengan Islam, maka tidak seharusnya kita mengharapkan kemuliaan selain dari Islam.” (Al-Mustadrak).

Sebuah keniscayaan bahwa kita akan kembali dan semakin dekat pada keadaan yang mulia ini atas izin Allah Swt.. Kita juga harus bergembira dengan janji Allah dan busyra (kabar gembira) dari Rasulullah saw.. Oleh karena itu, kita harus mengerahkan semua potensi dan kekuatan, melakukan perjuangan semaksimal mungkin—agar dapat mengatasi berbagai kerusakan yang ada—, serta mengharapkan datangnya kabar gembira dan bersabar atas ujian yang ada.

Pertolongan Allah adalah sebuah keniscayaan yang pasti datang—di waktu yang hanya Allah Swt. yang mengetahuinya—. Tugas kita hanyalah meneruskan perjuangan dan mencari pertolongan untuk menegakkan Islam di muka bumi, yaitu dengan menyadari peran masing-masing dan bertanya pada diri, “Apakah kita sudah melaksanakan kewajiban dan berjuang untuk menegakkan Islam? Atau malah bersandar pada dunia, lalu tergoncang dengan berbagai keadaan—yang membuatnya mundur dari aktivitas untuk menolong Islam—, dan memilih untuk berhenti dari aktivitas mengemban dakwah yang bertujuan menegakkan Khilafah yang sesuai metode kenabian?”.

Bersambung.

Diterjemahkan dari Surat Kabar Al-Rayah edisi 415, terbit pada Rabu, 08 Rabiulakhir 1444 H/02 November 2022 M

Klik di sini untuk mengakses sumber

 

Visits: 2

Tags

Bagikan tulisan ini

Tulisan menarik lainnya...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Category

Gabung Channel Telegram