Tidak Ada Kata Sambutan untuk Normalisasi dan Penjahat Netanyahu!

Oleh: Prof. Muhammad Abdullah

Pada Senin (17-7-2023), istana kerajaan mengumumkan bahwa mereka mendapat surat dari perdana menteri entitas Yahudi, yang memberitahu bahwa entitasnya mengakui kedaulatan Maroko atas wilayah Sahara Barat. Segera setelah menyebarnya kabar itu, terompet normalisasi mulai ditiup dan dibunyikan. Pengakuan ini digambarkan sebagai kemenangan bersejarah dan pencapaian yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk diplomasi kemenangan Maroko. Pada Kamis (20-7-2023), presiden mengumumkan undangannya kepada perdana menteri entitas Yahudi untuk mengunjungi Maroko.

Kereta normalisasi yang dimulai pada 10 Desember 2020 berangkat dengan cepat sejak hari pertama. Melihat jumlah perjanjian yang ditandatangani, keragaman bidangnya, dan jumlah pertukaran kunjungan, akan mudah menyadari bahwa Yahudi sangat ingin membuka tabir kerahasiaan hubungan dan mengungkapkannya, “Bahwa hal-hal itu telah disiapkan sebelumnya, terlepas dari kisah perselisihan dengan Aljazair.”

Namun, untuk memberikan kredibilitas atas kemerosotan yang mengerikan ini, dan untuk menutupi aib mereka, mereka melakukan hal-hal berikut:

  1. Mereka membesar-besarkan masalah perselisihan dengan Aljazair, dan menggambarkan seakan-akan Aljazair sedang bersiap untuk menginvasi Sahara dan merebutnya dari Maroko.

Mereka mengklaim bahwa Maroko bersegera menuju orang-orang Yahudi untuk mendapatkan senjata dan teknologi militer, yang akan membuat Maroko unggul atas tetangganya. Penguasa Aljazair juga berkontribusi untuk membenarkan rancangan ini, yang menegaskan bahwa rencana tersebut melampaui Maroko dan Aljazair, dan bahwa ada pihak di atas mereka yang mengoordinasikan masalah tersebut.

  1. Mereka mengklaim bahwa mereka mengoordinasikan masalah ini dengan otoritas Abbas bahkan dengan Hamas, dan mengambil persetujuan dari mereka. kedua pihak tidak melihat ada yang salah dengan Maroko yang menormalisasikan hubungannya dengan entitas Yahudi, selama rakyat Palestina setuju dengan normalisasi ini, maka tidak ada yang salah dengan mereka.
  2. Mereka mengklaim bahwa normalisasi ini tidak berarti meninggalkan rakyat Palestina, mereka terus memberi klaim di forum internasional, perbendaharaan Yerusalem, dan pimpinan komite Yerusalem.
  3. Mereka mengklaim bahwa normalisasi ini akan memungkinkan mereka memperoleh keuntungan dari kemajuan ilmiah dan teknis yang tersedia bagi entitas Yahudi dan dari kekuatan lobi Yahudi yang tersebar di seluruh dunia.

Pembenaran-pembenaran ini hanya menipu orang-orang yang naif atau orang-orang yang hatinya sudah Allah tutup. Adapun bagi mereka yang diberi akal dan hikmah yang paling rendah sekalipun, mereka tahu bahwa pengkhianatan tetaplah pengkhianatan, bahkan jika seribu pembenaran dicari untuk itu. Apa yang haram tetap haram meski ditutup dengan seribu alasan.

Penjelasan terkait hal itu adalah sebagai berikut:

  • Entitas Yahudi adalah entitas yang tidak adil dan kriminal, mereka berdiri didasari atas pencurian tanah Isra Mikraj, tanah suci, tanah para nabi dan sahabat yang terhormat, tanah para syuhada, dan pengorbanan sepanjang sejarah. Lantas, kredibilitas dan legitimasi apa lagi yang akan ditambahkan bagi pengakuan pencuri terhadap kepemilikan sang pemilik asli? Berapa harga pengakuan ini? Yang dicuri haruslah mengakui hak pencuri untuk menikmati apa yang dicurinya, dan tidak diperbolehkan menggugat haknya untuk itu. Demi Allah, ini tidak adil!

Jika orang-orang Yahudi memiliki kekuasaan atas Sahara, maka kami akan katakan bahwa Maroko mengakui mereka sehingga mereka menarik diri darinya. Akan tetapi, seluruh otoritas yang dimiliki Maroko hampir tidak diperdebatkan oleh siapa pun.

Maroko akan melepaskan Tanah Suci (Yerusalem) sebagai imbalan pengakuan pencuri atas kepemilikannya, atas tanah yang awalnya dia miliki dan kuasai. Bukankah orang yang memiliki akal dapat memahaminya? Atau, apakah hati mereka sudah terkunci?

Orang-orang Maroko dan Aljazair adalah saudara, mereka tidak bosan mengulang-ulang slogan “Persaudaraan, persaudaraan”. Agama, bahasa, sejarah, dan geografi mempersatukan mereka. Dan dengan sedikit kebijaksanaan, tidak hanya mungkin untuk memusnahkan konflik ini, tetapi juga penyatuan kedua negara dan menjadikan mereka inti dari negara adidaya di Afrika Utara yang memiliki kemampuan untuk diperluas hingga mencakup negara-negara Islam lainnya. Bagaimana mungkin masalah berubah, dari menahan perselisihan menjadi kutukan yang membenarkan jatuh ke pelukan musuh yang menjajah?

  • Manfaat-manfaat ekonomi jika ia tercapai. Padahal faktanya tidak tercapai. Maka betapa buruk manfaat yang dicapai dengan darah. Betapa buruk manfaat yang tenggelam dalam tangisan orang yang berduka dan yang sekarat. Betapa buruk manfaat yang diperoleh dengan mengorbankan rintihan para tawanan, pengungsi, dan orang yang teraniaya. Sesungguhnya manfaat-manfaat ini adalah haram dan dilarang, mereka mengambil kaki dari pemiliknya lalu menyeretnya ke api. Rasulullah saw. bersabda, “Daging yang tumbuh dari sesuatu yang haram tidak akan masuk surga, dan setiap daging yang tumbuh dari makanan yang haram berhak untuk dibakar.” Darah para syahid dan air mata kaum tertindas mengutuk setiap orang yang meletakkan tangannya di tangan para penjahat ini, juga mengutuk siapa pun yang bermanis muka pada mereka.
  • Sungguh, hak Palestina dan penduduknya atas kita lebih besar ketimbang beberapa dirham dari remahan harta kita yang kita berikan kepada mereka; dan lebih besar dari seruan kita kepada PBB akan kesulitan kondisi dan kelemahan kita terhadap kaum Yahudi serta permohonan untuk memberhentikan intervensinya terhadap kita.

Hak Palestina (yang sesungguhnya) atas kita adalah memobilisasi tentara untuk membebaskannya dari kaum Yahudi. Lalu bagaimana kalian bertemu Allah kelak, sedangkan kalian telah mengganti pembebasannya dengan melakukan normalisasi bersama para perampas kekuasaan dan menaklukkan negara untuk mereka? Sepanjang sejarah, Maroko telah menjadi tanah kemuliaan dan pintu gerbang penaklukan ke Eropa di utara dan ke hutan-hutan Afrika di selatan. Oleh karena itu, hendaklah orang-orang yang beramal terus berusaha, dan janganlah kalian mundur dan mengambil sesuatu yang rendah sebagai ganti atas sesuatu yang lebih baik!

Mereka meratapi keadaan umat yang berada di bawah para penguasa negara-negara kecil yang berbahaya, mereka mengharapkan suatu hari nanti dapat menunaikan salat di Masjidilaqsa yang telah bersih dari tombak penjajahan. Setiap kali mereka melihat bergegasnya para penguasa mereka menuju musuh-musuh Allah, Mereka  mengingat firman Allah Swt., “Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya (orang- orang munafik) bergegas mendekati (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata, ‘Kami takut akan mendapatkan bencana.’ Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan atas suatu keputusan dari sisi-Nya, yang karena itu mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.”

Perjanjian-perjanjian pengkhianatan ini tidak akan menggoyahkan keyakinan kaum muslimin akan janji-janji Allah dan kemenangan-Nya, dan hanya akan menambah keyakinan mereka bahwa penguasa mereka bukanlah salah satu dari mereka, karena para penguasa tidak memikul beban mereka; para penguasa tidak bergembira ketika mereka bahagia, dan tidak bersedih ketika mereka bersedih. Para penguasa itu setuju mengambil jalan selain jalan yang Allah dan rasul-Nya ridai untuk hamba-Nya, yaitu jalan kesetiaan dan sikap ramah tamah dengan orang-orang kafir, sekalipun dengan mengorbankan agama mereka dan darah kaumnya.

Sungguh, negerinya Uqba bin Nafi’, Musa bin Nashir, Thariq bin Ziyad, Yusuf bin Tashfin, Yaqoub Al-Mansur, dan para pemimpin besar Islam lainnya akan mencela karena dinodai oleh penjahat zalim yang tangannya berlumuran darah umat Islam. Maka kami katakan kepada mereka, “Anda tidak diterima. Allah tidak memberkahi Anda juga mereka yang mengundang Anda atau melindungi Anda. Jika waktunya telah tiba, Anda akan diusir dan dikalahkan. Jadi jangan tertipu oleh tangan orang-orang ini, karena Anda dan mereka akan binasa.”

Perkara ini menjadi jelas dan terang-terangan bagi siapa pun yang memiliki kedua mata, dan setiap orang yang merenungi kebaikan orang-orang bodoh itu akan melihat dengan mata kepalanya sendiri apa yang telah terjadi.

Mendekatlah wahai kaum muslimin, kepada apa yang akan menyelamatkan kalian dari apa yang kalian alami. Datanglah pada kebaikan dan kemuliaan dunia dan akhirat. Letakkanlah tangan kalian di atas tangan kami, dan keluarkan dari kalian para pendukung seperti kaum Anshar yang berbaiat untuk mendukung agama. Dengan demikian, kalian akan mendapatkan seperti apa yang dicapai oleh para pendahulu. Semoga Allah meletakkan kemenangan di tangan kalian. [AN/SFS]

Diterjemahkan dari Surat Kabar Al-Rayah edisi 454, terbit pada Rabu, 15 Muharram 1445 H/2 Agustus 2023 M

Klik di sini untuk mengakses sumber

 

Visits: 5

Tags

Bagikan tulisan ini

Tulisan menarik lainnya...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Category

Gabung Channel Telegram