Sukuisme dan Kepentingannya bagi Keamanan Penduduk Sudan

Ditulis oleh: Ustadz Adam Dahb – Khartoum

Terjadinya peristiwa pertikaian di kota El Geneina, ibukota Darfur bukan kali pertamanya dan tidak akan menjadi yang terakhir selama masih terdapat nasionalisme, sukuisme dan rasisme yang tersebar di seluruh wilayah Sudan.

Sungguh kita telah menyaksikan fitnah pertikaian di Gedaref dan Port Sudan yang terletak di bagian timur Sudan, dan di wilayah Darndouka di ujung Barat Darfur. Karena pemikiran dalam gambaran yang buruk pada masa sukuisme, nasionalisme, dan kedaerahan adalah pemikiran yang menyebar di kalangan masyarakat dan telah tertanam, maka seharusnya dibuang sejauh-jauhnya. Karena Rasulullah SAW telah bersabda: "Tinggalkanlah pemikiran itu, sesungguhnya dia adalah pemikiran yang busuk".

Karena pemikiran ini adalah ikatan lemah yang tumbuh di kalangan manusia saat setiap kali mereka merasa terancam bahaya. Dan setelah bahaya itu hilang, ikatan tersebut pun akan ikut hilang. Kemudian setelah itu manusia kembali bermuamalah dengan asas pemikiran tersebut setiap kali menghadapi keadaan darurat.

Karena itu, sesungguhnya masalah tidak akan berakhir selama pemikiran seperti di atas masih menjadi pengikat di antara manusia dan selagi ikatan yang dipakai bukan ikatan Islam.

Sesungguhnya, Allah SWT -dengan keagungan penciptaanNya- Dia menjadikan manusia bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Allah SWT telah berfirman:


“Dan di antara tanda-tanda-Nya adalah penciptaan langit dan bumi serta berbeda-bedanya bahasa dan warna kalian, dan sungguh itulah tanda-tanda bagi orang-orang yang Mengetahui”


Menjadikannya sebagai tanda yang menunjukkan atas kekuasaan dan rahmat Allah kepada hamba-hambaNya hanya untuk memudahkan saling mengenal di antara mereka, disebabkan karena adanya perbedan di dalam ras, bahasa dan sifat-sifat lainnya. Allah berfirman :


“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian di antara laki-laki dan perempuan serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan berkelompok-kelompok agar kalian saling mengenal”


Sesungguhnya agama kita yang lurus telah menetapkan batas-batas penting kesukuan yaitu untuk saling mengenal saja bukan untuk yang lain dan bukan pula untuk saling membanggakan diri.


Maka tidak ada tempat untuk saling berperang dan membunuh, pertikaian dan bermusuhan di antara kaum muslimin, akan tetapi ketika manusia mengikatkan dirinya atas dasar kesukuan, kekeluargaan atau ras, maka hal ini menyembunyikan krisis. Karena ikatan ini adalah ikatan yang rendah dan tidak manusiawi serta menyebabkan permusuhan di antara manusia.


Peristiwa-peristiwa yang terjadi di El Geneina, wilayah barat Sudan, serta di Gedaref dan Port Sudan, baik dulu maupun sekarang, telah merenggut begitu banyak korban jiwa yang tak berdosa, sedangkan pemerintah tidak mampu menyelesaikannya. Tiada lain, peristiwa yang telah terjadi hanyalah buah dari ikatan sempit, rusak dan busuk ini, yang menjadikan penganutnya menyangka bahwa dia yang paling mulia dari pada orang lain. Dia merasa lebih berhak untuk hidup daripada lainnya. Dan selama ini, ikatan inilah yang mengatur urusan kehidupan kita, yang mana (ikatan) ini dijadikan patokan oleh pemerintah yang terus-menerus memandang masyarakatnya berdasarkan pandangan ini. Maka, tidak akan pernah terlepas dari berbagai masalah dan goncangan yang akan terjadi selamanya.


Sesungguhnya, para politisi di wilayah ini sama sekali tidak peduli dengan peristiwa-peristiwa ini dan mereka tidak pernah menyibukkan diri dalam hal itu. Karena logika orang-orang ini (para politisi) terikat dengan kesukuan dan ikatan yang rusak lainnya. Sungguh, mereka telah disibukkan dengan ambisi untuk bersaing dalam berlomba mengejar kursi di pemerintahan itu, merampas kekayaan negeri, polarisasi, dan pertengkaran di antara mereka.


Adapun untuk memecahkan masalah-masalah (masyarakat) maka tidak ada nilainya (keuntungan) bagi mereka, serta tidak ada pertimbangan. Dan siapa pun yang berada dalam situasi ini pasti dimanfaatkan oleh kafir kolonial yang memiliki ambisi di negara kita dan menggunakannya untuk menyalakan hasutan dan keributan di sana-sini, sehingga Sudan selalu membara sejak (kemerdekaannya) hingga hari ini.


Sesungguhnya tidak akan ada yang bisa menghentikan kesia-siaan ini, kecuali dengan hukum islam yang diterapkan oleh Daulah Khilafah Rasyidah ‘ala minhajin nubuwah kedua yang Hizbut Tahrir realisasikan, di bawah pimpinan Al-Alim Al-Jalil Atho’ bin Khalil Abu Ar-Rusytah, serta para syababnya yang senantiasa berdo’a di malam dan siang mereka untuk mengeluarkan manusia dari gelapnya sistem Jahiliyah menuju hukum Islam yang terang benderang dan Agung. Sebab, dalam islam pemerintahan merupakan tanggung jawab dan amanah, bukan sebagai penghasilan ataupun perolehan keuntungan. Maka dari itu, seorang penguasa saling terikat dengan rakyatnya dengan hukum islam, bukan berdasarkan suatu kesukuan dan kedaerahan atau rasisme, akan tetapi semata-mata berdasarkan rakyat di bawah naungan Daulah Islam.


Sesungguhnya rezim yang terus berkuasa di Sudan dan demikian pula kalangan militernya, mereka mengumpulkan manusia atas dasar qaumiyah (nasionalisme), qabiliyyah (sukuisme), jahwiyyah (kedaerahan), dan wathaniyyah (patriotisme). Mereka semua akan menjadi lemah untuk memecahkan permasalahan manusia. Karena solusi itu bukanlah dengan mengelompokkan etnis, pertikaian antar suku, fanatisme kesukuan, atau membanggakan diri dengan warna kulit, akan tetapi kelompok yang benar harus berdasarkan pada mabda (ideologi) yang sesuai dengan fitrah manusia. Agar solusi itu berasal dari Tuhan manusia. Bukan seperti yang dilakukan oleh pemerintah dan gerakan-gerakan bersenjata. Karena sesungguhnya mereka semua yang telah disebutkan tad, menyerukan kesukuan dan otoritas yang merupakan penyakit dan bagian dasar dari segala permasalahan yang terjadi di daerah Darfur dan wilayah lainnya.


Orang-orang Darfur (sampai baru-baru ini) dahulu, mereka mengumpulkan zakat untuk negara Khilafah pada zaman Sultan Ali Dinar. Mereka merupakan bagian dari Umat Islam. Sekarang, mereka (orang-orang Darfur) menyeru kita untuk menjadi saudara (kesatuan) sebagaimana yang Allah perintahkan, alih-alih saling membunuh satu sama lain Kaum Muslimin. Karena sungguh dalam semalam saja telah terbunuh lebih dari empat puluh jiwa muslim. Subhanallah! Tinggalkanlah oleh kalian fitnah jahiliyah yang busuk, yang telah Rasulullah haramkan ﷺ, sabdanya:


“Dan barang siapa yang menyeru (memanggil) dengan seruan-seruan (julukan) Jahiliyyah maka ia termasuk bangkai Jahannam”. Para sahabat radhiallahu anhum bertanya, “Wahai Rasulullah, sekalipun dia berpuasa dan shalat?” Rasulullah saw menjawab, “(Ya), Sekalipun ia berpuasa dan shalat, serta mengaku dirinya Islam. Ajaklah wahai kaum muslimin dengan apa orang mukmin dan muslim menamakan mereka, yaitu: hamba-hamba Allah”


Sesungguhnya, seruan-seruan terhadap kedaerahan (jahwiyah), sukuisme (qabiliyah), etnisme (urfiyah), nasionalisme (qoumiyah), dan patriotisme (wathaniyah) semua adalah seruan-seruan busuk yang memecah belah dan pertikaian. Seruan-seruan ini juga sampai kapanpun, tidak akan memberi rasa aman kepada manusia selama eksistensinya masih ada. Oleh karena itu, biarkan kami yang mendirikan negara seperti yang didirikan oleh rasul kita yang mulia, sehingga kita akan terbebas dari permainan mereka (yaitu perpecahan dan pertikaian). Dan kalian akan melihat bagaimana keagungan Islam ketika hukum-hukumnya diterapkan.


Ya Allah, segerakanlah untuk kami negara Khilafah yang telah Allah Azza wa Jalla janjikan, dan yang mana oleh Habib Musthafa SAW kabarkan sebagai kabar gembira, bahwa ia akan datang setelah jaman penguasa yang otoriter. Sabda beliau saw : “… Kemudian akan datang kekhilafahan yang sesuai dengan manhaj kenabian.”

Sumber : Surat Kabar Ar-Rayah, Januari.
https://bit.ly/3a6PZKB
www.alraiah.net

Visits: 1

Tags

Bagikan tulisan ini

Tulisan menarik lainnya...
Category

Gabung Channel Telegram