Solusi Islam Terhadap Masalah Perbatasan Antara Pakistan dan Afganistan

Oleh: Ir. Muizz, Pakistan

Jelas bahwa kepemimpinan militer dan politik Pakistan terjebak dalam masalah yang disebabkan situasi perbatasan baratnya dengan Afganistan. Barat mengaitkan sebab krisis keamanan dengan sikap abai Pakistan terhadap visi strategis Amerika untuk kawasan tersebut. Akan tetapi, Barat telah melakukan kesalahan, karena mereka tidak menghargai umat Islam dengan nilai mereka yang sebenarnya, dan mereka tidak menyadari keefektifan hukum Islam dalam mengatasi krisis, yang tanpanya Pakistan dan Afganistan akan tetap berada dalam bahaya.

Amerika dan India telah mengumumkan mengenai kemitraan keamanan, yang bertujuan menjadikan India sebagai pusat industri. Sebagai imbalannya, Amerika mendorong Pakistan untuk terlibat dalam operasi internal untuk memerangi Islam.

Sesungguhnya visi India tersebut adalah visi Amerika, dan kebijakan Pakistan di kawasan itu berada di bawah instruksi Amerika.

Barat adalah pembimbing yang menyesatkan dalam klaimnya bahwa visi strategis untuk Afganistan dan Pakistan harus bersifat universal dan tidak boleh terpisah dari visi kekuatan eksternal; karena ketundukan Pakistan terhadap Barat demi “pembangunan” ini yang telah menghancurkan kekuatan strategi Pakistan juga ekonominya. Inilah yang menjadikan geopolitik wilayah perbatasan Afganistan-Pakistan terombang-ambing dengan persaingan kekuatan besar beserta pengaruhnya di kawasan. Pertama, persaingan kekuatan Rusia dan Inggris, kemudian antara Uni Soviet dan Amerika. Juga ditambah dengan serangan politik Amerika terhadap negara-negara kaum muslimin.

Setelah pendudukan Amerika di Afganistan, ia memerintahkan Pakistan untuk melarang Pashtun di daerah-daerah suku untuk berperang di Afganistan, dan menghentikan dukungan mereka untuk Taliban lawan Amerika. Dia juga mengeluarkan perintah untuk menyerbu kelompok-kelompok pejuang di India. Ini mengakibatkan bentrokan antara suku Pashtun dan Pakistan, yang mengharuskan tentara pakistan pindah ke daerah suku dan membangun kamp di sana. Sebagai reaksi langsung atas hal ini, terbentuklah gerakan Tehrik-i-Taliban Pakistan, yang dipimpin oleh Baitullah Mehsud pada tahun 2007.

Pertempuran antara tentara Pakistan dan para pejuang Pashtun menyebabkan kehancuran struktur sosial dan pemerintahan di wilayah kesukuan. Suku-suku dan para pemimpinnya mendapatkan tekanan untuk memilih salah satu dari dua pihak di konflik ini; antara Pakistan atau pejuang Pashtun. Konflik ini merusak ketertiban keamanan di wilayah tersebut. Dulu, kebijakan Pakistan untuk menjaga keamanan di perbatasan barat adalah dengan membolehkan suku-suku di perbatasan untuk melewati Garis Durand, dengan membawa senjata dan menggunakannya seperti pasukan keamanan di perbatasan yang akan mendukung Pakistan secara intelijen dan logistik. Tapi setelah kehancuran struktur keamanan tersebut, muncul perselisihan antara Pakistan dan pejuang Pashtun tentang struktur keamanan yang baru, yang berujung pada pertempuran antara dua pihak.

Kebijakan terkait wilayah kesukuan dan Sabuk Kesukuan

Tentara Pakistan bertujuan untuk mempertahankan kehadirannya secara terus-menerus (permanen) di wilayah kesukuan. Amerika telah memerintahkan Pakistan untuk mengelola gerakan Taliban Afganistan dan pemerintahannya. Untuk melaksanakan perintah ini, Pakistan menganggap pentingnya memiliki kehadiran yang lebih aktif di wilayah kesukuan melalui kamp-kamp dan pasukan keamanan yang kuat.

Adapun para penguasa Pakistan, mereka melihat wilayah kesukuan dan masalah Afganistan sebagai peluang untuk mendapatkan keuntungan di posisi internasional, dan mereka melihat operasi dan kampanye kontra-militer sebagai peluang untuk memperoleh keuntungan geopolitik dari Amerika dan Barat.

Pada tahun 70 dan 80-an, lembaga-lembaga militer Pakistan sangat khawatir dengan kemampuan pertahanan India, terutama setelah kekalahan Pakistan pada tahun 1971 dan uji coba nuklir India pada Mei 1974. Kekhawatiran ini meluas hingga Afganistan, sehingga menjadikan salah satu tujuan kepemimpinan militer Pakistan adalah menjaga pengaruh India tetap di luar Afganistan dan mengeksploitasi Afganistan sebagai halaman belakang yang stategis. Dengan demikian, menjadi jelas bagi kita bagaimana pimpinan militer Pakistan mengadopsi cara pandang Barat dalam menyelesaikan krisis politik.

Sebuah negara sekuler yang tidak sesuai syariat, tidak berhak memperoleh dukungan dari umat Islam

Karakter rezim di Pakistan dan kesesuaiannya dengan syariat memiliki perdebatan luas, yang permasalahan intinya adalah apakah Pakistan harus menjadi negara sekuler atau negara Islam. Penolakan suku Pashtun terhadap aliansi Pakistan-Amerika dan kebijakan luar negerinya yang mendukung kekuatan Barat menyebabkan bentrokan antara Pakistan dan suku-suku tersebut.

Kelompok-kelompok pejuang Pashtun adalah bentuk pemberontakan nyata terhadap kebijakan luar negeri Pakistan. Monopoli Pakistan atas kekerasan dan tuntutannya agar suku-suku menerima monopoli ini, bertentangan dengan kebijakan khusus Pakistan selama 50 tahun yang memberikan suku-suku itu otonomi, hak untuk memanggul senjata, dan mengamankan tanah mereka. Perubahan mendadak dalam sikap Pakistan ini dianggap—dan memang demikian adanya—oleh suku-suku tersebut sebagai akibat dari campur tangan asing.

Selama perang melawan Islam, dan dengan dorongan Amerika, seluruh sistem Pakistan direstrukturisasi karena institusi anti-terorisme didirikan, seperti pengadilan anti-terorisme dan Otoritas Penanggulangan Terorisme Nasional; doktrin militer tentara diubah; modifikasi dilakukan di sekolah-sekolah agama dan kurikulum pendidikan; unit polisi khusus dan pengadilan militer dibentuk; Rencana Aksi Nasional pun disusun, agar Pakistan menjadi negara yang dilihat oleh banyak orang di wilayah kesukuan sebagai negara represif dan tidak sesuai syariat.

Bangkitnya Gerakan Tahafuz Pashtun mengarahkan kemarahan suku Pashtun terhadap aktivitas politik non-material untuk mengungkapkan ketidakpuasan mereka terhadap kebijakan tentara di wilayah tersebut. Dengan demikian, tuntutan Pakistan akan otoritas di wilayah tersebut dilihat sebagai tuntutan negara yang tidak sesuai syariat, yang memperluas pengaruh dan kontrolnya atas wilayah kesukuan untuk memaksanya tunduk. Suku Pashtun mencintai Islam dan mencintai jihad, jadi mereka memandang Pakistan sebagai negara sekuler non-Islam yang bersekutu dengan Amerika, musuh Islam, dan kaum muslimin. Itulah sebabnya para militan menolak untuk tunduk padanya.

Fakta Taliban Afganistan

Taliban Afganistan tidak menawarkan dukungan yang nyata kepada Taliban Pakistan, akan tetapi mereka menentang untuk menargetkan pangkalan Taliban Pakistan di Afganistan. Dari sudut pandangnya, jika Pakistan bersama Amerika tidak berhasil dalam menghilangkan militansi di kawasan perbatasan, maka dia juga tidak akan berhasil dalam upaya seperti ini.

Taliban Afganistan tidak memiliki kemampuan untuk melakukan operasi militer dalam skala besar melawan kelompok-kelompok bersenjata di daerah perbatasan. Taliban Afganistan meyakini bahwa kesahan jihad mereka akan gugur jika ditujukan kepada sesama saudara muslim yang berjihad. Dan kepercayaan anggotanya kepadanya akan menghilang apabila mereka melakukan penyerangan kepada pangkalan Taliban Pakistan di Afganistan.

Pemerintah Afganistan di bawah kekuasaan Taliban telah menjadi sasaran gelombang pemboman yang diklaim oleh ISIS di Khorasan, sehingga dikhawatirkan setiap operasi melawan Taliban Pakistan mungkin benar-benar mendorong anggotanya untuk bergabung dengan ISIS di Khorasan, atau mendorong mereka untuk mengarahkan senjata mereka pada rezim di Kabul. Jadi, jika mereka tidak ditangani dengan bijak, dalam pandangannya, ancaman militansi di Afganistan timur dapat berubah menjadi front yang melawannya.

Taliban Afganistan ingin menaklukkan perbatasan antara Pakistan dan Afganistan, akan tetapi keberadaan Taliban Pakistan di wilayah-wilayah perbatasan dan operasi militer yang dilakukan oleh tentara Pakistan di sana akan membuat tujuan Taliban Afganistan (dalam menjadikan Garis Durand sebagai perbatasan lunak) menjadi permasalahan yang lebih sulit. Inilah sebab yang membuatnya ingin membantu Pakistan, guna mengurangi ancaman Taliban Pakistan dalam perihal perbatasan tanpa merugikannya. Mereka juga memandang bahwa cara paling baik untuk hal tersebut adalah mempermudah negosiasi antara rezim Pakistan dan Taliban Pakistan—yang sudah pernah mereka lakukan sebelumnya, meski belum mencapai hasil yang relevan.

Solusi Islam

Sesungguhnya perbuatan saling membunuh sesama muslim merupakan sebuah dosa besar. Allah Swt. berfirman, “Dan barang siapa membunuh seorang yang beriman dengan sengaja, maka balasannya ialah neraka Jahannam, dia kekal di dalamnya. Allah murka kepadanya, dan melaknatnya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (QS An-Nisa’: 93). Juga sabda Rasulullah saw., “Jika dua orang muslim bertemu membawa pedangnya (bertengkar), maka pembunuh maupun yang terbunuh berada di dalam neraka.” Seseorang bertanya, “Wahai Rasulullah, sudah wajar yang membunuh masuk neraka, lantas bagaimana yang terbunuh?” Beliau menjawab, “Karena ia juga sangat berkeinginan untuk membunuh saudaranya.”

Hanya Khilafah Rasyidah dengan metode kenabian yang akan menjamin keamanan dan kemakmuran di sepanjang perbatasan Pakistan barat; menghapus Garis Durand; dan mengelola suku-suku perbatasan secara politik dan menyatukan mereka di bawah satu unit administratif. Kaum muslimin di kedua sisi Garis Durand adalah saudara dan bagian yang tak terpisahkan dari umat Islam. Tidak diperbolehkan untuk memisahkan urusan mereka dengan perbatasan buatan.

Khilafah Rasyidah akan memobilisasi para pejuang suku dan tentara bersama-sama sebagai satu kekuatan yang efektif melawan orang-orang kafir; yang akan menyatukan Pakistan, Afganistan, dan Asia Tengah dalam satu negara; menyatukan sumber daya mereka untuk dibelanjakan kepada seluruh rakyat negara. Ini akan membawa kemakmuran ekonomi dan menghilangkan kemiskinan yang merajalela di sana.

Oleh karena itu, wajiblah bagi tentara Pakistan untuk memberikan pertolongan bagi Hizbut Tahrir, untuk mendirikan Khilafah Rasyidah yang sesuai dengan metode kenabian untuk menyelamatkan Pakistan dan Afganistan dari perselisihan yang menghancurkan ini. (FR/GA)

Diterjemahkan dari Surat Kabar Al-Rayah edisi 454, terbit pada Rabu, 22 Muharam 1445 H/9 Agustus 2023 M

Klik di sini untuk mengakses sumber

Visits: 41

Tags

Bagikan tulisan ini

Tulisan menarik lainnya...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Category

Gabung Channel Telegram