Rusia: Antara Penahanan Politik dan Emansipasi yang Membahayakan Dunia (Episode Ketiga)

Oleh: Prof. Hamad Tabib

Kami telah menyebutkan di episode sebelumnya bahwa Rusia telah menyadari perihal Amerika yang bertujuan untuk mencabik-cabiknya; menjadikannya negara yang tunduk dan terhina; serta bertujuan untuk mengontrol wilayah otoritas Rusia yang bersebelahan dan masuk dalam negara-negara yang membentuk Federasi Rusia saat ini. Pada episode kali ini, kami melengkapi beberapa hal untuk melengkapi topik sebelumnya.

Presiden Rusia Putin menyatakan dalam pidato tahunannya di hadapan para elit dan pemimpin tentara pada Selasa (21/2/2023). Pada peringatan pertama dimulainya perang dengan Ukraina ia mengatakan, “Elit Barat tidak menyembunyikan tujuan mereka untuk menimbulkan kekalahan strategis di Rusia, yaitu untuk melenyapkan kami dalam sekali waktu dan untuk selamanya.”

Adapun Menteri Luar Negeri Rusia, Lavrov, berkata pada sambutannya yang dikutip oleh kantor berita resmi Rusia pada Ahad (27/11/2022), “Tindakan Barat seluruhnya, dan bonekanya Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy menekankan terkait bersifat internasionalnya krisis Ukraina. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa tujuan strategis Amerika dan sekutunya di NATO adalah mengalahkan Rusia dalam medan perang, sebagai mekanisme untuk melemahkan negara kami dan menghancurkannya,” ia melanjutkan, “musuh kami akan melakukan apa pun untuk mencapai tujuan ini.”

Hal yang membuat Amerika menentukan tujuannya melawan Rusia adalah karena saling mendekatnya Cina dan Rusia dalam aliansi strategis atau kemitraan strategis yang telah ditetapkan oleh dua negara ini, yang ketentuannya telah diperbaharui pada tahun 2022.

Penantangan terlihat lebih jelas ketika Presiden Cina mengunjungi Moskow pada Jum’at (21/4/2023), dan menandatangani beberapa perjanjian ekonomi dengan Rusia. Ia juga menegaskan konsep kemitraan strategis kedua negara. Selama pertemuan mereka, kedua presiden menyatakan bahwa, “NATO berusaha untuk memperkuat aliansinya di Asia dan Pasifik.” Tampaknya Amerika akan menghidupkan kembali kebijakan penahanan (containment) lawan dengan pangkalan dan gabungan militer.

Pada KTT Rusia-Tiongkok ini, telah disahkan kesepakatan untuk meningkatkan pertukaran perdagangan antara kedua negara, dari sekitar 150 miliar dolar AS per tahun menjadi sekitar 200 miliar dolar. Begitu juga dilakukan kesepakatan lain, yaitu pembangunan pipa baru untuk mengekspor gas ke Cina, yaitu jalur Power of Siberia 2 untuk diintegrasikan dengan pipa Power of Siberia 1. Pipa baru ini akan menghubungkan Siberia ke Cina bagian barat laut. Putin menekankan bahwa Rusia dapat memenuhi permintaan sumber daya energi Cina yang terus meningkat.

Dalam kesempatan lain setelah KTT, Putin menyatakan bahwa dia dan Cina akan bekerja sama untuk membentuk tatanan dunia multipolar, yang lebih adil dan demokratis; yang harus didasarkan pada peran sentral Perserikatan Bangsa-Bangsa, Dewan Keamanan dan Internasional, serta tujuan dan prinsip Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Pernyataan tajam, tindakan, dan ancaman melawan Rusia telah meningkat, seperti yang diklaim oleh Barat. Intonasi pernyataan yang tajam terlihat pada KTT NATO terakhir di Madrid pada tahun 2023. Beberapa hal dikatakan oleh para politisi yang berkumpul, “Rusia mewakili ancaman terbesar juga langsung terhadap perdamaian dan keamanan anggota NATO.”

Dalam pertemuan ini, NATO menganggap bahwa Cina menimbulkan penantangan terhadap kepentingan dan keamanan negara-negara NATO dalam peta jalan strategis baru, yang diadopsi selama KTT Madrid.  Penantangan ini semakin meningkat ketika negara-negara Barat yang dipimpin oleh Amerika memutuskan untuk memasukkan dua negara yang memiliki perbatasan panjang dengan Rusia ke dalam NATO, di mana perbatasan NATO dan Rusia akan menjadi sekitar 2.600 km, dengan penambahan 1.300 km yang memasukkan Swedia dan Finlandia ke NATO.

Menghadapi tantangan ini, Cina dan Rusia bereaksi dengan sangat tajam. Di mana Cina menuduh NATO menyerang dan mencemarkan nama baiknya dengan cara yang kotor. Utusan diplomatiknya pada Uni Eropa mengatakan, “Sesungguhnya NATO mengklaim negara lain menimbulkan tantangan, akan tetapi sebenarnya NATO sendirilah yang menciptakan permasalahan di seluruh dunia.”

Adapun pernyataan Rusia terasa lebih tajam. Menteri Pertahanan Rusia, Sergei Shoigu berkata dengan mengomentari keputusan ini, “Bergabungnya Finlandia kepada NATO, dan langkah aliansi militer ini untuk menambah persiapan perang akan meningkatkan resiko konflik.” Ia menambahkan bahwa sebagian pesawat militer Belarus sekarang mampu membawa hulu ledak nuklir, dan telah terjadi pemindahan sistem rudal Iskander menuju Belarus—yang mengindikasikan bahwa sistem ini dapat digunakan untuk membawa rudal konvensional atau nuklir.

Rusia tidak menyerah pada kebijakan Barat setelah menyadari tujuan Amerika yang sesungguhnya. Akan tetapi Rusia mengambil beberapa tindakan di hadapan aliansi (NATO) yang mencakup lebih dari lima puluh negara ini, di antaranya:

  • Mengurangi aliran gas ke Eropa yang bergantung pada gas Rusia sebesar 45 persen.

Hal itu membuat Eropa menderita krisis energi, terutama Jerman. Rusia juga membangun jalur energi dan gas baru; memperkuat saluran lama; dan meningkatkan produktivitasnya. Di mana ia meresmikan ladang gas Kovikta di wilayah Siberia dan dialirkan melalui pipa Power of Siberia menuju ke Cina. Ia berupaya untuk mengimbangi sebagian dari ekspor energinya (minyak dan gas) ke Eropa dengan mengekspor ke Cina dan India, dengan penawaran menarik di bawah harga pasaran, yaitu sekitar $35 per barel minyak.

  • Memperkuat hubungannya dengan Cina demi kelanjutan dukungan materi dan keuangan.

Kekuatan hubungan ini terlihat dari tantangan presiden Cina atas kebijakan Barat terhadap Rusia, khususnya setelah keputusan Mahkamah Pidana Internasional atas Putin ketika dia mengunjungi Moskow pada Kamis (20/4/2023). Ia juga menandatangani beberapa perjanjian ekonomi, memastikan isu kemitraan strategis, dan mengusulkan perdamaian dengan Cina—yang ditentang keras oleh Amerika—.

  • Memperkuat medan militer di beberapa sisi, di antaranya dari sisi Ukraina, di mana ia menambahkan kekuatan Pasukan Khusus Wagner.

Rusia juga membuka rekrutmen anggota militer secara luas pada tahun 2022 untuk orang-orang yang telah terlatih, dan untuk pasukan cadangan agar dilatih ulang dari awal. Kemudian Putin menetapkan undang-undang baru untuk perekrutan militer pada Sabtu (15/4/2023).

Rusia juga melakukan latihan perang dengan Belarus pada Senin (16/1/2023). Di tengah-tengah latihan itu, Menteri Pertahanan Belarus mengatakan, “Dalam konteks penerbangan kolektif dan praktek siasat bagi angkatan bersenjata Belarus dan Rusia, dilangsungkanlah pelatihan praktis dengan partisipasi angkatan udara kedua negara.”

  • Meningkatkan intonasi ancaman dengan menggunakan senjata nuklir dan senjata-senjata extra konvensional.

Di mana para pemimpin Rusia telah menyatakan ini lebih dari satu kali, dan memberi isyarat dengan menggunakan senjata ekstra konvensional jika terjadi serangan atau ancaman terhadap keamanan bangsa Rusia.

Di saat mengumumkan mobilisasi militer baru pada Sabtu (15/4/2023), Presiden Putin menyatakan bahwa negaranya akan menggunakan seluruh senjata untuk membela tanah mereka. Sedangkan Deputi Ketua Dewan Keamanan Federasi Rusia, Dmitry Medvedev, setelah deklarasi pengunduran negaranya dari Perjanjian Senjata Nuklir New START bersama Amerika menyatakan, “Sesungguhnya Moskow akan membela dirinya dengan segala cara, termasuk menggunakan senjata nuklir.” Dia juga memberi peringatan bahwa seluruh dunia akan berada di ambang konflik habis-habisan jika Washington bersikeras mengalahkan Moskow.

  • Rusia berusaha menerobos barisan Eropa melalui beberapa negara juga dengan bantuan Cina.

Hal ini sesuai dengan apa yang terjadi selama kunjungan Presiden Prancis ke Cina baru-baru ini. Di mana Prancis mulai menerima beberapa kebijakan Cina untuk mengakhiri perang, melalui inisiatifnya yang diajukan pada tanggal 20 April 2023. Deklarasi kerja sama presiden Cina dan Prancis menyatakan, “Beijing dan Paris mendukung segala usaha untuk mengembalikan kedamaian di Ukraina, yang sesuai dengan hukum internasional, dan berdasarkan tujuan dan prinsip Piagam PBB.”

  • Melakukan propaganda internal di tengah rakyat Rusia, dan menghasut mereka untuk melawan Amerika, apalagi setelah senjata Barat mengincar tanah Rusia.

Putin telah berulang kali menyatakan bahwa Amerika dan NATO bertujuan untuk menghancurkan dan memecah belah Rusia. Ini dianggap sebagai tindakan propaganda untuk memperkuat barisan internal dalam menghadapi hasutan Barat untuk melakukan kudeta terhadap lingkaran politik dan militer Rusia. Orang-orang Rusia memahami arti penjajahan negara mereka, terutama karena mereka telah mengalami dua perang dunia untuk melawan Barat.

  • Berusaha memberikan dampak terhadap dolar secara internasional dalam pertukaran energi. Maka dibuatlah kontrak menggunakan Rubel sebagai pengganti dolar dalam pertukaran minyak bumi dengan beberapa negara.
  • Melakukan tindakan destruktif terhadap Ukraina, bertujuan pusat energi, pusat vital tenaga, dan perusahaan industri. Begitu juga ditargetkan sistem pertahanan milik Barat seperti sistem patriot.
  • Berusaha mengepung ekspor pertanian Ukraina, di mana hal itu menyebabkan tekanan internasional. Hal ini nampak dalam perkara biji-bijian Ukraina, khususnya gandum yang telah menyebabkan krisis pangan internasional, dan harga-harga menjadi naik di beberapa wilayah dunia serta menjadi titik tekan untuk mengatasi krisis dan mengakhiri perang.
  • Rusia mulai membuat opini umum di kalangan orang Barat dan politisi di Amerika bahwa target perang ini adalah Rusia, dan perang ini tidak didasarkan pada hukum internasional, yang mana ini akan menghancurkan hukum tersebut.

Menteri Luar Negeri Rusia telah berkali-kali mengatakan bahwa perang ini tidak bersandarkan pada hukum internasional apa pun, dan perkara ini memberikan hasil yang baik bagi Rusia dalam konflik antara kedua partai demokrasi dan pemerintah di Amerika. Ini juga membantu menaikkan kelompok sayap kanan yang antiperang di banyak negara di Eropa.

Inilah beberapa tindakan yang telah dilakukan Rusia—dan masih terus dilakukan—untuk melawan serangan Barat.

Kita sampai pada paragraf kedua dari topik tersebut, yaitu masa depan konflik ini dan bahayanya bagi dunia. [FR/GA]

Diterjemahkan dari Surat Kabar Al-Rayah edisi 451, terbit pada Rabu, 23 Zulhijah 1444 H/12 Juli 2023 M

Klik di sini untuk mengakses sumber

Visits: 16

Tags

Bagikan tulisan ini

Tulisan menarik lainnya...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Category

Gabung Channel Telegram