Rezim Turki Erdogan, Musuh atau Sekutu Israel?

Oleh: Prof. Mush’ab Abu Arqoub

Presiden Turki Erdogan menyatakan dukungannya untuk membangun kerja sama dan dialog antara Turki dan Israel. Hal tersebut senada dengan pernyataan Menteri Luar Negeri Turki bahwa Israel dan Turki telah bersepakat untuk melakukan pertukaran duta besar antara kedua negara.

Untuk mendudukkan posisi rezim Turki dan sikapnya yang memalukan mengenai hubungannya dengan Israel, perlu untuk mendeskripsikan secara detail bahwa ia merupakan rezim sekuler yang berdiri sebagaimana rezim-rezim di negeri muslim lainnya di bawah puing-puing Kekhalifahan Utsmaniyah, yang mana rezim tersebut berkaitan erat dengan rezim penjajah kala itu yang diwariskan Amerika setelah Perang Dunia II.

Tidak ada yang bisa diharapkan dari sistem sekuler—yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan—melainkan musibah, serta hanya akan memberikan pelayanan kepada penjajah. Dari sinilah tindakan rezim Turki bermula.

Secara politis, Turki telah terikat dengan AS dan seolah berputar di orbitnya. Ia terus berupaya mengimplementasikan visi penjajahannya dalam segala isu umat Islam, termasuk isu Palestina.

Ia tidak memandang masalah Palestina dari perspektif akidah Islam yang menempatkan umat Islam dalam kondisi memerangi Zionis untuk mengusirnya dan untuk membebaskan Palestina. Akan tetapi, Turki justru menjalankan visi AS yang menginginkan berdirinya Israel di Palestina dan memberikan garis hidup untuknya, melalui two-state solution (solusi dua negara) di hadapan umat yang bersiap untuk menumbangkannya.

Dengan demikian, rezim Turki senada dengan Otoritas Palestina. Seminggu setelah pendudukan dan pendeklarasian Turki atas pemulihan hubungan antara Palestina dan Turki, juga pulangnya delegasi ke negara masing-masing, Erdogan menemui Mahmoud Abbas.

Rezim Turki dan Otoritas Palestina berkomitmen pada solusi Amerika bagi Palestina (tanah yang diberkati), yaitu solusi dua negara. Dengan menerima Presiden Otoritas Palestina, Erdogan berharap dapat memudahkan pertemuannya dengan pemimpin Israel, mengibarkan benderanya di Istanbul, serta menampilkan citra yang seimbang dalam isu Palestina. Oleh karenanya, ia tidak mengingkari normalisasi hubungannya dengan Yahudi, bahkan dengan kata-kata yang menutupi pengkhianatannya.

Hubungan antara rezim Turki dan Amerika mulai terbuka dan penuh kontradiksi di hadapan kaum muslimin, apalagi karena bertentangan dengan prinsip, kepercayaan, dan budayanya.

Dalam masalah perang di Ukraina, Erdogan menuntut kembalinya setiap jengkal tanah Ukraina, termasuk Krimea. Akan tetapi, ketika menyangkut tanah Palestina, ia malah menuntut untuk memecahnya menjadi dua negara, yaitu memberikan sebagian besar tanah Palestina kepada orang-orang Yahudi. Logika macam apa ini?

Erdogan juga menuntut Finlandia untuk tidak berurusan dengan partai-partai Kurdi yang menentangnya, dan mengancam bahwa ia akan menganggapnya sebagai negara pendukung terorisme jika itu terjadi. Di sisi lain, ia tidak menganggap Israel sebagai pendukung terorisme, alih-alih bertukar duta besar dan berbisnis perdagangan dengannya. Logika macam apa ini, selain ia benar-benar terlibat dalam mendukung Israel secara politik, keamanan, militer, dan ekonomi?

Lantas, apakah itu artinya rezim Erdogan mengakui Israel, padahal mereka adalah tikaman belakang bagi kaum muslim? Bahkan, ia juga menutup mata dari berbagai kejahatan Israel terhadap tanah Palestina.

Apa maksud Erdogan yang selalu “menenangkan diri” selama musim eskalasi, pembantaian, pengeboman di jalur Gaza, dan tidak adanya dukungan nyata bagi penduduk Gaza? Bukankah itu sesungguhnya bentuk membolehkan adanya pembantaian di negeri yang diberkahi itu?

Oleh karenanya, Israel justru melangkah lebih jauh karena Erdogan dan penguasa pengkhianat lainnya hanya memberikan ketenangan dan mencuci tangan Israel dari darah penduduk Gaza. Juga dengan menyerukan perdamaian dan berupaya menenangkan umat dari membuat suatu tindakan untuk membebaskan Palestina.

Di sisi lain, Erdogan menyediakan entitas Yahudi berbagai kemudahan sarana melalui bisnis perdagangan yang besar, insentif ekonomi, serta membuka pintu perekonomian Turki. Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu mengonfirmasi bahwa volume perdagangan dengan Israel meningkat walaupun ada pandemi korona. Ia menjelaskan bahwa volume bisnis perdagangan antara kedua negara melebihi $10 miliar pada tahun lalu. (Sky News Arabia, 25/05/2022).

Oleh karenanya, logika apa yang memungkinkan Erdogan untuk menutupi rasa malunya di hadapan umat atas dukungannya terhadap Israel? Ketika negara saling bermusuhan, mereka akan menerapkan pengepungan atau blokade. Adapun Erdogan, ia malah tenggelam dalam normalisasi, serta melakukan pertukaran delegasi dan perdagangan yang mencapai angka astronomis dengan Israel.

Pada waktu yang sama, Erdogan bertentangan dengan dirinya sendiri untuk mengungkap ketergantungannya pada politik AS dan bergabung dalam blokade Rusia, menutup selat di depannya dan membukanya ketika kapal-kapalnya bergerak untuk menyerang saudara kita di Syam.

Erdogan tidak menggambarkan dirinya sendiri di hadapan umat kecuali bahwa ia adalah eksekutor bagi tangan musuh Islam, Amerika, dan pendukung sejati Israel, baik secara politik, ekonomi, maupun keamanan. Akan tetapi, umat Islam memandang Turki dan rakyatnya dengan citra lain yang berbeda dari citra Erdogan dan rezim sekulernya yang menjijikkan.

Apabila Turki mendapatkan lagi kedaulatan dan kemauan politiknya, serta kembali ke masa Turki (masa Muhammad al-Fatih) dan menjadi pahlawan yang tidak tertandingi, hal itu memungkinkannya untuk dapat membebaskan Palestina hanya dalam sekejap saja. Ini karena tentara Turki merupakan salah satu tentara terbesar dan termasuk keempat terbesar di dunia.

Umat Islam yakin bahwa Turki dapat membebaskan Palestina, tanah yang diberkahi, bahkan dapat membebaskan umat Islam dari kolonialisme dan dari para tirani di Suriah maupun di tempat lainnya. Akan tetapi, yang mengalihkan Turki dari kehebatan dan kemuliaan itu adalah sistem sekuler yang berputar pada orbit Amerika. Sistem inilah yang menghalangi Turki mengambil peran nyatanya di tengah umat Islam.

Selain itu, rakyat Turki dan orang-orang yang kuat dan tidak terkalahkan juga harus menjaga negara Islam dari rezim boneka Barat yang telah menjatuhkan kehancuran umat; serta membuat perdamaian, gencatan senjata, dan bersimpati terhadap musuh-musuh Islam.

Mereka harus berjuang mendirikan kekhalifahan berdasarkan metode kenabian yang akan menyelamatkan kita dari rezim boneka ini, mencabut penjajahan dari negara kita, membebaskan tanah yang diberkati, serta mengangkat panji “laa ilaaha illallah wa muhammadur-rasulullah” di tembok-tembok Yerusalem.[]

Diterjemahkan dari Surat Kabar Al-Rayah edisi 407, terbit pada Rabu, 11 Safar 1444 H/7 September 2022 M

Klik di sini untuk mengakses sumber

Hits: 3

Tags

Bagikan tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code