Search
Close this search box.

Realitas Konflik Sudan: antara Kesadaran Politik, Penyesatan Informasi, dan Dampaknya pada Opini Publik

Setelah berlalu setahun, media yang mengiringi perang di bulan Ramadhan 1444 H/15 April 2023 berhasil menggerakkan masyarakat dan mengelompokkannya menjadi dua golongan, 

Pertama, golongan yang mendukung, membela, serta setia berdiri di balik para pemimpin Angkatan Bersenjata Sudan (ASF);

Kedua, golongan yang mendukung Pasukan Dukungan Cepat (RSF) serta bias terhadap pasukan tersebut.

Tidak ada yang selamat dari konflik ini, kecuali orang yang hatinya sadar dan akalnya dapat menilai hal ini dengan cermat; atau orang yang menggunakan pendengarannya dan menyaksikan hal tersebut.

Media yang berafiliasi dengan kedua golongan tersebut menggunakan situs web, halaman, dan saluran lokal serta regional untuk menyesatkan masyarakat. Pada awal perang, media pendukung militer (ASF) berupaya untuk membuat masyarakat memahami bahwa perang hanya akan memakan waktu beberapa jam, dan Angkatan Udara ASF akan melakukan tugasnya. Hal ini bermakna bahwa Angkatan Udara ASF akan menghancurkan para pemberontak, sehingga tidak perlu ada bentrokan atau pertempuran kecil. Angkatan Udara ASF memastikan hal tersebut demi meyakinkan opini publik, bahwa ASF tetap berada di baraknya dan tidak berperang.

Serupa dengan apa yang dilakukan media pendukung ASF—yang berupaya untuk fokus menyiarkan kejahatan RSF, hingga mengakibatkan adanya intimidasi, kepanikan, dan ketakutan pada masyarakat—, masyarakat juga dengan rela menerima pernyataan para pemimpin militer; mendukung mereka, dan dengan sukarela menerima solusi yang diambil para pemimpin militer, meskipun mereka telah menggagalkan harapan dan keinginan rakyat untuk menghentikan perang. Boleh jadi, tuntutan personel militer untuk “melepaskan kendali” adalah bukti terbesar dari hal ini.

Adanya seruan untuk memindahakan para penduduk secara sengaja dari wilayah pemukiman, yaitu dengan meminta para penduduk meninggalkan tempat tinggal serta mengevakuasi mereka, juga bertujuan untuk mempermudah militer dalam menyerang pemberontak agar dapat melenyapkan mereka dengan segera, sesuai dengan apa yang diklaim oleh ASF. 

Dalam siarannya, media pendukung ASF ini sengaja fokus pada pemaksaan kesucian ASF. Materi media fokus pada fakta bahwa tidak boleh ada yang meragukan pimpinan ASF. Dikatakan bahwa mereka adalah garis merah (garis terdepan); atau bahwa ini bukan saat yang tepat untuk membicarakan akuntabilitas maupun mencari jawaban atas persoalan ambigu dalam perang, seperti adanya penarikan pasukan ASF yang mencurigakan dan mencolok dari garnisun (benteng pertahanan tentara) dan kamp mereka, meskipun di dalamnya terdapat pasukan dalam jumlah besar dan peralatan serta perlengkapan yang memadai. Media mengklaim bahwa hal ini akan mengarah pada perpecahan barisan, merusak moral pasukan, menyebarkan rasa frustasi atas kemenangan lawan di kalangan masyarakat umum, dan lain-lain.

Di sisi lain, media lawan yang berafiliasi dengan Pasukan Dukungan Cepat (RSF) memobilisasi masyarakat atas dasar kesukuan dan sektarian. Media ini hanya berperan sebagai pihak pendukung. Sementara itu, ASF disibukkan dan dikuasai oleh beberapa komponen regional dan kesukuan, sehingga menimbulkan keraguan terhadap kemampuan ASF untuk menang dalam permasalahan di beberapa wilayah yang sebagian besar dikuasai oleh RSF. Penarikan pasukan ASF saat menghadapi serangan RSF menunjukkan bahwa jumlah pasukan dan perlengkapan RSF melebihi apa yang dimiki ASF, sehingga memperpanjang perang dan menyebabkan frustrasi di antara banyak orang.

Dalam setiap keadaan, media informasi melakukan kebohongan, mengubah fakta, dan mengabaikan posisi warga negara. Permainan ini merupakan peran politik untuk memengaruhi keadaan demi mewujudkan suatu fakta, seperti apa yang difirmankan Allah, “Fir‘aun berkata, ‘Aku hanya mengemukakan kepadamu, apa yang aku pandang baik; dan aku hanya menunjukkan kepadamu jalan yang benar.’” (QS Ghafir:29)

Informasi ini tidak akan berhasil jika para penduduk Sudan memiliki kesadaran politik mengenai jalannya urusan dan peristiwa di dalam negeri, menghubungkannya dengan realita internasional dari segi motif dan sebab terjadinya perang ini, juga dari hubungan pihak-pihak yang ada dengan negara-negara besar.

Media tidak menyebutkan kebenaran bahwa konflik di Sudan adalah konflik antara Amerika dan Inggris, melalui duta besar dan utusan mereka dengan menghubungkan antek-antek di lapangan, yaitu para politisi, organisasi sipil, dan pemimpin Angkatan Bersenjata Sudan (ASF) maupun Pasukan Dukungan Cepat (RSF). Dalam konflik ini, media tidak menyebutkan pertemuan para pemimpin ASF dan RSF dengan para diplomat, eksekutif, dan pejabat Amerika yang terjadi berulang kali sebelum perang. Amerika berfokus pada upaya untuk membendung hal-hal tersebut dan memungkinkan mereka untuk mengelola krisis, dengan cara yang sesuai dengan agendanya.

Bagaimana bisa Amerika menguatkan ASF dan RSF sedangkan mereka dikudeta pada Oktober 2021 oleh warga sipil? Bagaimana bisa warga sipil berencana untuk menyusun struktur militer sesuai dengan kerangka perjanjian dan menjauhkan militer dari kehidupan politik? Sedangkan mereka diancam dengan pengadilan atas kejahatan pembubaran aksi protes yang dapat menyebabkan diambilnya para pemimpin ASF dan RSF yang berpengaruh menuju hukuman yang berat.

Militer tidak memiliki pilihan lain selain menciptakan guncangan yang akan menghapus memori politik dan membuat para penduduk Sudan melupakan tuduhan-tuduhan lampau terhadap militer. Ini memungkinkan terjadinya awal baru, di mana militer akan mendapatkan kehormatan dan kesucian. Hal inilah yang akan menjatuhkan warga sipil ke dalam jurang yang dalam, dan itu benar-benar terjadi.

Kesadaran politik adalah pandangan suatu peristiwa dari sudut pandang khusus, yang menentukan sudut pandang suatu peristiwa dan menentukan posisi orang yang memiliki kesadaran ini dalam peristiwa tertentu. Oleh karena itu, orang yang sadar politik akan kebal dari segala misinformasi media atau kejahatan politik, sebagaimana dia mengetahui realitas pihak-pihak yang berkonflik, afiliasi masing-masing pihak; serta tujuan masing-masing pihak dalam konflik ini. Dengan demikian, mudah baginya untuk mengambil posisi tanpa menyesatkan siapa pun.

Sebagai kaum muslimin, Islam adalah sebuah teropong yang dengannya kita bisa memandang suatu hal untuk menentukan benar dan salah, hak dan batil, kebenaran dan kesesatan. Dengannya juga kita mendasarkan prinsip kita pada suatu hal. Apakah kita berpihak pada salah satu dari dua kelompok tersebut, atau berpendapat bahwa keduanya salah?

Apakah boleh berperang sesama muslim atas dasar suku atau ras? Bolehkah berperang untuk menegakkan sistem demokrasi?  Atau bolehkah menegakkan demokrasi, menyerukan, dan memperjuangkannya? Apakah tanah air mempunyai surga dan neraka yang harus diperjuangkan?

Kesadaran politik membutuhkan negara yang berprinsip—yang menciptakan, memelihara, melindungi, dan menyebarkan prinsip tersebut dalam masyarakat. Saat ini, kaum muslimin sangat butuh untuk mendirikan negara yang memiliki kemuliaan dan kesadaran, yaitu negara Islam, Khilafah Rasyidah yang sesuai dengan metode kenabian, untuk mengubah kenyataan pahit ini dan menghentikan kekacauan yang diciptakan oleh rezim yang berkuasa dalam melaksanakan rencana para kafir penjajah.[RY/GA] 

Ditulis oleh: Prof. Muhammad Jami (Abu Aiman)

Diterjemahkan dari Surat Kabar Al-Rayah edisi 491, terbit pada Rabu, 8 Syawal 1445 H/17 April 2024 M

Klik di sini untuk mengakses sumber 

Visits: 0

Tags

Bagikan tulisan ini

Tulisan menarik lainnya...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Category

Gabung Channel Telegram