Pertumpahan Darah di Palestina dan Konspirasi yang Direncanakan di Turki

Pada hari Rabu (26-07-2023), Presiden Turki, Erdogan, menyambut kedatangan Presiden Otoritas Palestina, Mahmoud Abbas dan Ismail Haniyeh, kepala biro politik Hamas di Ankara. Kantor Kepresidenan Turki menyatakan bahwa Erdogan mengadakan pertemuan tripartit dengan Abbas dan Haniyeh di Kompleks Kepresidenan di Ankara. Pertemuan dilaksanakan setelah pertemuan bilateral terakhir antara Abbas dan Haniyeh di Turki pada Selasa, beberapa hari sebelum pertemuan sekretaris jenderal yang dilaksanakan di Kairo.

Pada hari Selasa (25-07-2023), Erdogan menekankan keharusan adanya persatuan dan rekonsiliasi rakyat Palestina untuk tahap ini. Ia mengisyaratkan bahwa Ankara tidak dapat menerima praktik kaum Yahudi yang bertujuan untuk mengubah status sejarah tempat-tempat suci di Palestina.

Husam Badran, seorang anggota biro politik Hamas mengatakan, bahwa pertemuan antara Haniyeh dan Abbas menunjukkan “diskusi yang jujur dan mendalam”. Pertemuan pun dilakukan untuk mencari titik temu antara gerakan yang memiliki kekuatan dan berbagai faksi yang ada di Palestina. Ini dilakukan untuk mempersiapkan pertemuan para sekretaris jenderal.

Dalam pernyataan itu dikatakan, bahwa para peserta yang hadir telah menyepakati “urgensi menyatukan upaya nasional”, dalam rangka menghadapi bahaya yang mengancam perjuangan Palestina, terutama proyek-proyek pemerintah ekstremis Zionis.

Di sisi lain, Perdana Menteri Yahudi, Netanyahu, dijadwalkan untuk mengunjungi Turki minggu ini. Akan tetapi kunjungan itu ditunda setelah ia menjalankan operasi pada akhir minggu lalu. Di saat yang bersamaan, entitas Yahudi sedang menghadapi protes terhadap landasan “amendemen yudisial”.

Komentar Al-Rayah:

Ketika setiap hari darah yang suci ditumpahkan di Tanah yang Diberkati; serta kelompok-kelompok taurat dan sukuisme terus mengancam rakyat palestina—dengan keberadaan mereka di sana—. Di waktu yang bersamaan, mata rakyat Palestina menanti-nanti, siapakah sosok yang akan menolong dan membebaskan mereka dari entitas Yahudi beserta penindasannya?

Ketika semua ini terjadi, Erdogan justru sedang sibuk menyambut episode baru dari rangkaian konspirasi masalah Palestina. Episode yang seharusnya selesai dengan kehadiran Netanyahu, seandainya tidak ada masalah pada kondisi kesehatannya—semoga Allah tidak menyembuhkannya—.

Konspirasi Erdogan terlihat jelas dan nyata dari kepatuhannya terhadap solusi dua negara—yang merupakan proyek Amerika untuk mengakhiri perjuangan Palestina—. Oleh karena itu, Erdogan mengerahkan semua upaya untuk melayani Amerika. Ia berusaha mengadakan pertemuan dengan presiden otoritas Palestina; faksi-faksi Palestina; dan para pemimpin entitas Yahudi untuk menenangkan suasana, mengurangi ketegangan, serta mencegah kemungkinan pecahnya peristiwa lain, yang saat ini bukan menjadi prioritas Amerika. Sebab Amerika sedang disibukkan dengan urusan lain, seperti kebijakan containment pada Cina dan Perang Ukraina.

Berbagai pihak yang hadir dalam pertemuan saling beradu argumen, hingga akhirnya mereka mengadopsi pandangan politik berdasarkan legitimasi internasional dan proyek dua negara. Hal itu akan menghasilkan gerakan politik baru serta upaya untuk mengakhiri masalah tersebut. Ini ditegaskan oleh kepala otoritas dalam pernyataannya. Adapun kondisi faksi-faksi yang ada, mereka setuju dengan visi Erdogan, tetapi mereka berusaha menutupinya dengan menyorakkan persatuan dan perlawanan.

Pertemuan-pertemuan ini hanyalah membawa keburukan pada masalah Palestina. Sejatinya, pertemuan tersebut bertujuan untuk melayani Amerika agar mencegah meletusnya peristiwa lain, khususnya selama terjadi krisis internal. Sebab krisis yang terjadi dikhawatirkan dapat menghancurkan Yahudi dan cakrawala politiknya yang berada di bawah kaki pemukim Tepi Barat. Sehingga menyebabkan tidak ada tanah yang tersisa untuk berdirinya sebuah negara atau semi-negara.

Pada faktanya, hasil dari pertemuan untuk melindungi rakyat Palestina tidak ada nilainya. Hasil pertemuan tersebut hanya menawarkan ilusi dan keberpihakan politik murahan pada puncak rezim saat ini, yang hidup dengan menggadaikan masalah Palestina, seperti rezim Turki Erdogan.

Adapun solusi hakiki untuk masalah Palestina terdapat dalam kitabullah, sirah Rasulullah saw., serta sejarah para khalifah dan pemimpin besar terdahulu. Yaitu dengan mendeklarasikan jihad dan memobilisasi tentara untuk melawan orang Yahudi, dalam pertempuran yang akan mencabut entitas cacat Yahudi dari akarnya; dan memurnikan Tanah yang Diberkati dari kotoran-kotoran mereka.

Diterjemahkan dari Surat Kabar Al-Rayah edisi 454, terbit pada Rabu, 15 Muharam 1445 H/2 Agustus 2023 M

Klik di sini untuk mengakses sumber

Glosarium:

Kebijakan containment: Kebijakan Amerika Serikat untuk mencegah penyebaran komunisme di luar negeri.

Visits: 13

Tags

Bagikan tulisan ini

Tulisan menarik lainnya...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Category

Gabung Channel Telegram