Pertempuran Barat di Ukraina: Konflik Kepentingan atau Kerugian?

Oleh: Prof. Abu Al-Mu’taz Billah Al-Asyqar

Meski Barat berbeda dalam menyikapi Ukraina—Jerman dan Perancis di satu sisi, dan Amerika Serikat (AS) di sisi lain—, pada hakikatnya mereka telah memberlakukan sanksi keras atas Rusia yang menyebabkan mata uangnya terdevaluasi dengan cepat, membuatnya terpisah dari sistem SWIFT (sistem transaksi keuangan dan perdagangan), serta bangkrutnya banyak bank dan perusahaan—di samping pembekuan aset mereka yang ‘disimpan’ AS dan Barat—. Demikianlah, AS menyetankan Putin, membuat ia dan negaranya terlihat sebagai pelanggar hukum dan norma internasional.

AS juga berkeinginan agar Rusia segera menghentikan perangnya melawan Ukraina tanpa jaminan tertulis maupun tidak. Bahkan, jika Rusia hengkang, AS akan mengejarnya demi Krimea—wilayah jajahan Rusia, karena Rusia merasa Krimea adalah haknya—.

Pertempuran antara Barat—yang di belakangnya terdapat AS—dan Rusia merupakan pertempuran yang lebih dekat pada kekecewaan dan kerugian. Rusia tidak menginginkan Ukraina berada di pihak NATO, hingga NATO dapat menguasai perbatasannya. Sedangkan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky—antek AS—tidak menyembunyikan keinginannya untuk bergabung dengan NATO dan Uni Eropa. Ia menyadari bahwa jika Ukraina lepas, ia akan kehilangan kendali atas Laut Hitam dan Laut Azov, yang merupakan sumber kehidupan baginya. Untuk tujuan tersebut, ia mengobarkan perang sengit sejak zaman Khalifah Utsmani hingga mampu memperluas kendali atas keduanya, bahkan merebut Semenanjung Krimea dari kaum muslim sejak dua abad lalu.

Rusia tidak ingin Ukraina luput, sebagaimana luputnya negara-negara Eropa Timur. Bahkan Polandia, yang dikenal dengan Warsawa-nya—sebagai simbol kekuatan Uni Soviet—menjadi bagian dari Eropa, baik keamanan, institusi, maupun aliansinya. Ia menyadari bahwa Ukraina adalah sisa terakhir untuknya, dan ia tidak akan membiarkan Barat menyantapnya.

Ukraina di lain sisi, merupakan pintu gerbang menuju negara-negara Eropa Timur bagi Barat. Barat menyadari jika Rusia mengambil alih Ukraina, Rusia akan memiliki pangkalan militer dan sistem rudal canggih di perbatasannya. Oleh karena itu, Anda dapat menyaksikan bahwa Barat sebenarnya sedang mengerahkan segala upaya agar Rusia kalah perang serta kembali dengan menanggung malu.

Adapun AS—yang presidennya tertawa terbahak-bahak saat Rusia terjebak dalam lumpur Ukraina—menyadari kedunguan presiden Rusia dan kecintaannya pada kekuasaan. Kedua sifat itulah yang menjadikan AS memanfaatkan Rusia di Suriah, karena barangkali Rusia memperoleh pengakuannya atas Krimea. Seandainya Rusia tidak bodoh secara politik, niscaya ia akan meninggalkan AS terjebak di Suriah sebagaimana ia terjebak di Afganistan.

Rusia dalam situasi kritis. Padahal sebelumnya, cukup bagi Rusia untuk mempertahankan beberapa tentara dan pasukan militernya di perbatasan darat Ukraina; Krimea, Belarus, dan wilayah timur Ukraina yang setia padanya, tanpa terlibat dalam perang yang dimanfaatkan oleh AS dan Barat untuk melumpuhkan militer dan ekonomi Rusia. Sungguh cukup bagi Rusia mengancam Ukraina untuk mencegahnya bergabung dengan NATO dan Uni Eropa. Akan tetapi kebodohan dan arogansi Putin menjadikannya terjebak dalam perang ini.

Sejak hari pertama perang, Putin mulai menuntut rezim Ukraina untuk mengadakan perundingan yang dapat mempertahankan martabatnya, sampai Ukraina dan antek AS Zelensky memberinya jaminan yang ditandatangani supaya ia menghentikan perang melawan Ukraina. Akan tetapi Barat ingin Rusia hengkang tanpa jaminan, bahkan diharapkan jika Rusia hengkang, AS akan tetap memberinya sanksi ekonomi, sehingga Rusia diperlakukan layaknya Iran dan Korea Utara serta berharap dapat memisahkan Rusia dan Cina.

Upaya pemisahan Rusia dan Cina sebenarnya merupakan tujuan strategi bagi AS yang telah disinggung Kissinger sejak tahun 70-an. Ia menyadari bahwa memutuskan hubungan keduanya adalah jalan untuk mengalahkan mereka. Sejak awal masa pemerintahan Obama, AS telah berupaya menguasai Cina, namun upaya itu belum membuahkan hasil. Hillary Clinton menyebutkan hal ini dalam memoarnya saat ia menjadi menteri luar negeri.

Hari ini, kita melihat secara eksplisit bahwa AS menuntut Cina untuk mengutuk invasi militer Rusia ke Ukraina, namun Cina masih mengelak. Hal tersebut mendorong Antony Blinken, Menteri Luar Negeri AS mendakwa Cina bahwa pengelakannya bertentangan dengan konvensi dan norma internasional juga hak asasi manusia.

AS tidak terima dengan abstainnya Cina pada pemungutan suara di Dewan Keamanan PBB, ketika AS mengajukan resolusi yang mengutuk invasi Rusia di Ukraina. Ia juga tidak terima atas pernyataan Cina mengenai persatuan Ukraina namun tetap bergeming terkait kecaman terhadap Rusia.

Sesungguhnya Barat, terutama AS, sebelumnya telah mengelabui Rusia, di saat ia membuat Rusia mengakui jatuhnya tembok Berlin dan penyerahan Jerman Timur ke Jerman Barat. Barat kembali menipu Rusia dengan tetap mempertahankan Presiden Ukraina, Yanukovych—agen Rusia—pada tahun 2014, kemudian diam-diam menggerakkan masyarakat turun ke jalan untuk menggulingkannya. AS masih terus memanfaatkan Rusia dalam konflik di Suriah serta Libia, hingga nama Rusia terkait erat dengan grup Wagner (kelompok kriminal pembunuh) dan Putin.

Tersisa skenario terburuk untuk Barat dan AS, bagaimana jika Rusia berhasil mengganti rezim Zelensky—agen AS—atau berhasil mengooptasinya? Terutama Zelensky yang merasa kecewa karena Barat tidak berdiri di sisinya serta bantuan militer dari Barat yang sejauh ini masih di bawah kekuatan alat tempur Rusia dan tidak mampu dilawan oleh Ukraina seorang diri.

Pidatonya menyatakan bahwa AS dan Barat menjerat Ukraina dengan kekuatan terpongah di bumi, kemudian pergi meninggalkannya. Sebagaimana ‘kerabatnya’ Georgia, ketika AS menghasutnya untuk merampas Abkhazia dan Ossetia Selatan. Namun, untuk menjustifikasi masuknya ke Georgia, Moskow mengakui Abkhazia dan Ossetia sebagai wilayah independen dari Georgia, seperti halnya Republik Ukraina timur. AS tidak melakukan apa-apa terhadap sikap Rusia ini, meskipun penguasa Georgia saat itu, Saakashvili, adalah agen istimewa AS. AS justru menggantikannya dengan agen lain, Shevardnadze, karena dia ingin memegang ‘tongkat keagenan’ di tengah antara Rusia dan AS, untuk berusaha memuaskan kedua belah pihak.

Bagaimanapun, Hizbut Tahrir sebelumnya telah mengatakan bahwa AS tidak akan membiarkan keadaan tenang di Ukraina dengan kebijakan (tidak ada yang menang ataupun kalah, ed.), bahkan berupaya menjaga situasi eksplosif untuk menekan Rusia dan Eropa, sehingga Eropa akan tetap di bawah sayapnya dan memukul Rusia di sisinya.

Jika hal tersebut terjadi, kemudian ia mampu melakukannya dan berhasil, maka setelahnya ia akan bekerja keras untuk memutuskan hubungan antara Rusia dan Cina, kemudian mendedikasikan dirinya untuk memperlemah naga Cina dan raksasa Asia.

Kesimpulannya, bahwa Krimea yang diambil Rusia dari Ukraina adalah tanah Islam yang diperintah oleh Islam selama lebih dari tiga abad! Rusia-lah yang telah memisahkannya dari Khilafah setelah membunuh dan mengusir rakyatnya, yaitu Tatar muslim—untuk informasi, Krimea dalam bahasa penduduknya berarti benteng—. Jika kaum muslim membentangkan tangan dan memerintahkan mereka dengan Islam, maka dengan izin Allah sebentar lagi mereka akan mengembalikannya.

Ukraina dan dunia tidak akan menerima keputusan atau menenangkan keadaan kecuali jika situasi internasional kembali ke tangan umat Islam yang agung. Maka ketika saatnya tiba, kami tidak akan mengatakan pada dunia bahwa kami datang untuk membantai kalian. Tapi kami akan mengatakan, bahwa kami membawa amanah untuk membebaskan tempat kalian, untuk menyebarkan keadilan dan rahmat di antara kalian.

 

Diterjemahkan dari surat kabar Al-Rayah edisi 385, terbit pada Kamis, 6 Ramadan 1443 H/7 April 2022 M

Klik di sini untuk mengakses sumber 

Visits: 18

Tags

Bagikan tulisan ini

Tulisan menarik lainnya...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Category

Gabung Channel Telegram