Perbedaan Antara Serangan Seorang Tuan dengan Pukulan Seorang Budak

(Oleh: Abu Hamzah Al-Khuthuwani)

Pekan lalu, AS menyerang milisi Iran di Irak dengan suatu serangan yang penuh pengkhianatan dan menyakitkan, dimana terbunuh dalam serangan itu puluhan tentara dan unsur-unsur yang menjadi bagian dari batalion yang berafiliasi dengan Iran. Target khusus serangan ini adalah untuk membunuh Qasim Sulaimani pemimpin garda Revolusi Iran, dan AS juga membunuh wakil yang berkewarganeraan Irak di kelompok masyarakat, Abdul Ghani Al-Muhandis.

Iran melakukan pembalasan dengan membombardir dua Pangkalan Militer Ain Al-Assad di Anbar dan Arbi di bagian utara Irak dengan beberapa roket yang dijatuhkan di lahan kosong, yang terjadi tidak menimbulkan bahaya apapun dan tidak mengenai satupun tentara AS, serta tidak merusak satupun peralatan logistik Amerika.

Iran menganggap bahwa balasan terhadap permusuhan (Amerika) sudah cukup. Dan Menteri Luar Negeri Iran Muhammad Jawwad Dzorif berkata setelah serangan balasan ini, bahwa masalah telah selesai sampai batas ini. Selama Amerika tidak melunjak dan Donald Trump mengumumkan bahwa tidak ada satupun tentara AS yang terluka dari pengeboman yang dilakukan oleh Iran, lalu Trump mengatakan bahwa AS memberikan sanksi kepada Iran dengan membunuh Sulaimani disebabkan adanya niat dari Sulaimani untuk menyerang kedutaan Amerika, maka AS dengan kesombongannya yang akut membuatnya memberi perhitungan dan membunuh hanya karena niat saja dan bukan karena perbuatan.

Jika kita membandingkan antara serangan AS ke Iran dan serangan Iran terhadap AS sungguh kita akan mendapatkan bahwa serangan AS adalah pukulan seorang Tuan, sementara serangan Iran hanyalah serangan seorang budak. Dan perbedaan ini tergambar dalam beberapa point ini dibawah ini :

1. AS yang memulai serangan dan memutuskan untuk melakukannya sendirian serta memilih waktu dan tempat yang sesuai bagi mereka. Kemudian mereka tidak memberitahu siapapun terkait serangan itu, bahkan sekutu terdekat mereka yaitu NATO Britania (Inggris, AS tidak memberitahukan hal itu kepadanya).

2. Sebaliknya, Iran melakukan serangan balasan sebagai reaksi terhadap serangan tersebut, dan menyampaikan kepada AS tentang keputusannya itu melalui perantara penghubung sebelum serangan, agar AS mengambil langkah-langkah untuk bersiap siaga. Dan Perdana Menteri Irak Abdul Mahdi yang mengetahui serangan itu sebelum dilakukan telah menjelaskan hal tersebut, sebagaimana orang-orang Swiss mengetahui kepentingan Amerika di Tehran, demikian juga sumber-sumber di ketentaraan Amerika menyebutkan bahwa Iran telah menyampaikan tentang serangan tersebut sebelum terjadinya dan sumber-sumber Iran tidak menyangkal hal tersebut. Bahkan beberapa penanggungjawab Iran mengatakan bahwa mereka bermaksud untuk menyampaikan hal itu kepada orang-orang Amerika, dan sesungguhnya mereka tidak ingin melukai atau membunuh satupun tentara AS.

3. Di pihak media massa, Amerika telah mengirimkan artikel-artikel yang jelas kepada para agennya di Iran dan di Timur Tengah yang isinya menyebutkan bahwa penyelewengan apapun (dari agen manapun), dari khutut hamra’ (garis merah) seperti yang dilakukan oleh Sulaimani, sungguh akhirnya adalah terbunuh tanpa belas kasihan dan berdarah dingin tanpa memandang kedudukan. Agen-agen ini hanyalah alat yang digunakan oleh AS pada saat dibutuhkan, dan AS akan membuangnya kapan saja, serta menggantinya dengan yang lain. Dan artikel itu berisikan ancaman serta peringatan.

4. Adapun artikel-artikel di media massa Iran yang menyertai serangan yakni bersifat ganda:

a. Untuk opini dalam negri:

Ada artikel-artikel yang nyaring dan memiliki gaung media telah mengklaim kemenangan Amerika dan AS terus memimpin perlawanan, penentangan dan penggunaan ungkapan-ungkapan garing serta tanpa makna yang berkaitan dengan kehancuran dan kekalahan AS, entitas yahudi dan Emirat Arab Saudi.

b. Opini untuk AS dan Barat:

Artikel-artikel yang menunjukkan kehinaan dan kerendahan di dalamnya terdapat makna-makna ketundukkan dan kepasrahan, dan menunjukkan tidak adanya niat dari Iran untuk mengganggu kepentingan AS di wilayah itu walau meskipun dengan kesalahan indivdu sebagaimana yang dilakukan oleh Qasim Sulaimani dan Iran mengungkapkannya dengan artikel-artikel penerimaan untuk AS atas kekejamannya. Dan Iran menegaskan akan terus berada di samping Amerika dalam memerangi kelompok-kelompok teroris.

Inilah pukulan sang tuan Amerika dan pukulan sang budak Iran; pukulan pertama dihasilkan dari kebebasan untuk memutuskan, sementara pukulan kedua hanyalah sebagai reaksi yang merupakan tindakan yang dilakukan oleh seorang budak sebagai bentuk ketataan kepada perintah tuannya.

Demikianlah peristiwa ini tersingkap dari gelembung apa yang dinamakan dengan poros perlawanan dan penentangan. Maka apabila Iran adalah pemimpin dari poros yg hina dan menerima semua bahkan sampai hantaman-hantaman dari Amerika yang menyakitkan dengan segala ketundukan dan kepasrahan, dan menerimanya dengan lapang dada. Apabila tidak mampu membalasnya meskipun pemimpin tertingginya yang terbunuh maka bagaimana nasib orang-orang yang di bawahnya ?

Sesungguhnya para petinggi Iran telah menegaskan bahwa Iran bukan hanya tidak mampu, tetapi mereka menekankan bahwa akan terus berkonspirasi melawan pemberontakan Revolusi kaum di Suriah dan Irak sebagai pelaksanaan dari agenda Amerika.

Maka bagi orang-orang yang masih bertaruh akan kemampuan Iran dalam membantu mereka untuk melawan entitas Yahudi, hendaknya mereka mengetahui hakikat bahwa bersandar kepada Iran dalam merealisasikan tujuan itu adalah sekedar khurofat dan ilusi, dan bahwa Iran telah mengkoordinasikan setiap langkah-langkah politik yang akan diambil dengan Amerika. Dan dalam 40 tahun terakhir kita telah mendapatkan pelajaran, bahwa Iran adalah negara yang paling loyal kepada AS dalam perang di Irak dan Afghanistan, dan tugas utamanya yang jahat sekarang ini adalah untuk meredupkan Revolusi Kaum Muslimin dan mendukung para toghut seperti kriminal Al-Basyar.

Hendaknya mengetahui bahwa umat islam tidak akan bangkit kecuali dengan tegaknya Daulah Khilafah kedua yang berdasarkan manhaj kenabian. Maka bagi setiap orang yang berusaha untuk menolong islam dan kaum muslimin hendaklah beramal untuk menegakkan Daulah Khilafah. Karena hanya Daulah Khilafah yang mampu menentang AS dan negara kafir lainnya, serta hanya Daulah Khilafah yang mampu membebaskan Palestina dan setiap wilayah kaum muslimin yang telah dirampas dan mendapat musibah. Daulah Khilafah inilah yang telah Rasulullah SAW., berikan kabar gembira tentangnya bahwa ia akan kembali hadir setelah berakhirnya masa penguasa diktator sekarang ini ketika beliau bersabda : “ Kemudian akan datang Khilafah dengan manhaj kenabian”.

Sumber : Majalah Ar-Rayah Edisi ke-269, 15/01/2020
http://www.hizb-ut-tahrir.info/ar/files/PDFs/Al_Rayah/
http://www.alraiah.net
info@alraiah.net
TG : https://telegram.me/alraiahnews
Tw : https://twitter.com/ht_alrayah

Visits: 0

Tags

Bagikan tulisan ini

Tulisan menarik lainnya...
Category

Gabung Channel Telegram