Para Penguasa Mewarisi Pengkhianatan dari Generasi ke Generasi

Oleh: Prof. Abu Hamzah Al-Khuthwani

Pengkhianatan di antara para penguasa pada saat ini adalah pengkhianatan yang diwarisi dari pendahulu-pendahulu mereka, seperti halnya pewarisan sultan dan raja. Selain mewarisi buruknya sifat pengkhianatan, mereka juga mewarisi sifat kurangnya kualitas dan wibawa; dengan sikap tunduk dan pasrah kepada musuh agama dan bangsa. Misalnya, pengkhianatan normalisasi entitas Yahudi yang sedang berlangsung akhir-akhir ini—dengan sangat memberikan keseriusan, bersamaan dengan hal itu mereka tetap tunduk dan patuh pada orang-orang yang menginginkan keburukan bagi kaum muslimin.

Di Bahrain misalnya, rajanya dengan kurang ajar menerima kepala entitas Yahudi tanpa tujuan apapun selain dengan bangga mengumumkan kekurangajarannya. Di Uni Emirat Arab (UEA), penguasa anteknya berlomba untuk menandatangani perjanjian bilateral dan multipel pada setiap perjanjian dengan entitas perampas ini. Di Mesir, para penguasanya tidak melewatkan kesempatan tanpa menekan faksi-faksi perlawanan di Jalur Gaza untuk mencegah mereka menanggapi agresi berulang tentara Yahudi terhadap rakyat Palestina, seolah-olah Mesir tidak memiliki posisi dalam kebijakan luar negerinya kecuali untuk menjaga keamanan entitas Yahudi.

Di Maroko, pemerintahnya membuat perjanjian dengan perusahaan gas Yahudi untuk mengeksplorasi gas di perairan Maroko setelah menandatangani perjanjian militer pertahanan dengan tentara entitas Yahudi. Di Jordan, penguasa anteknya menandatangani perjanjian air dan listrik dengan orang Yahudi.

Di Lebanon, para penguasanya—termasuk pimpinan partai pro-Iran Lebanon—sepakat untuk menyetujui demarkasi perbatasan maritim dengan entitas yahudi. Mereka menerima dan mengakui demarkasi bahwa Palestina menjadi milik Yahudi perampas. Di Suriah, rezim tiran pengecut Bashar Assad—yang menggertak rakyatnya—menyerah pada program entitas Yahudi yang melanjutkan serangan di lokasi militer tanpa pergerakan sedikit pun, seolah-olah hal tersebut adalah nasib yang tidak bisa ditolak. Di Sudan, para penguasanya yang tunduk pada Amerika dan Inggris menjalin hubungan dengan mengabdikan aksi politik dan militer pada entitas Yahudi, juga bekerja sama dengan pihak keamanan untuk memburu apa yang mereka sebut teroris.

Pada hakikatnya, kejahatan normalisasi entitas Yahudi yang meningkat ini tidak muncul begitu saja. Semua ini merupakan hasil dari upaya politik besar-besaran yang dimulai oleh para penguasa antek di masa silam dengan entitas Yahudi secara rahasia, dan sekarang adalah waktunya untuk (bergerak secara) terang-terangan. Dengan begitu hubungan pengkhianatan antara para penguasa Arab pengkhianat dengan entitas Yahudi ini adalah hubungan sejarah yang panjang—bukan muncul baru-baru ini—, yang membedakannya dengan masa sebelumnya hanyalah karakteristiknya yang tersembunyi dan rahasia, menjadi terbuka dan terang- terangan.

Di antara hubungan pengkhianatan berbahaya yang baru-baru ini terungkap setelah kerahasiaan dicabut adalah Fawzi Al-Qawuqji—Kepala Pasukan Penyelamat—yang menjalin hubungan berbahaya dengan para pemimpin pasukan Zionis pada tahun 1948, yang menyebabkan hancurnya kekuatan mujahidin di Palestina dan penyerahan wilayah Palestina kepada pasukan Zionis Haganah tanpa adanya perlawanan.

Beberapa dokumen Inggris dan Zionis yang telah didesklasifikasi mengungkapkan bahwa pada 04/01/1948 di Desa Ain Syams, Fawzi Al-Qawuqji telah melakukan pertemuan rahasia dengan Joshua Palmon, salah satu Pemimpin Haganah dan Kepala Mossad pertama setelah didirikannya entitas Yahudi.

(Dalam pertemuan tersebut) Qawuqji memberikan semua detail intelijen tentang situasi militer mujahidin Palestina. Dia juga memberikan informasi khusus tentang semua kelompok, terutama kelompok yang kekurangan senjata dan peralatan, guna memudahkan dalam mengidentifikasi dan melenyapkan kelompok tersebut. Untuk mengonfirmasi kebenaran informasi ini, Qawuqji mendukungnya dengan telegram yang dikirim Abdul Qadir Al-Husseini untuk meminta (bantuan) peralatan kepadanya (Qawuqji). Sementara, intelijen Zionis telah memantau panggilan telegram tersebut seraya memastikan bahwa Qawuqji mematuhi kesepakatan yang dibuat antara kedua pihak, juga memastikan bahwa Al-Husseini dan anak buahnya mengalami masalah kehabisan amunisi.

Dalam pertemuan tersebut Qawuqji mengungkapkan strategi militer yang disiapkan para mujahidin untuk membebaskan Desa Qastal—yang letaknya strategi—dan untuk menghilangkan pasukan Zionis di Kota Yerusalem. Dialah yang membuat pasukan Zionis berhasil mengungkap kelemahan para mujahidin dan memberi mereka kesempatan emas untuk menjebak rakyat Palestina dalam penyergapan yang mematikan.

Secara historis telah terbukti bahwa Abdul Qadir Al-Husseini meminta Qawuqji untuk mengirimkan kepadanya bantuan pasukan, senjata, dan peralatan. Akan tetapi Qawuqji malah meminta maaf dan mengklaim bahwa dia tidak memiliki senjata, padahal dia memiliki banyak senjata dan amunisi yang menumpuk di dalam gudang.

Hal yang mengherankan dalam pertemuan tersebut adalah ketika Qawuqji meminta Palmon untuk melenyapkan Al-Husseini. Dia berkata kepadanya: “Anda harus memberi mereka pelajaran yang tidak akan mereka lupakan.” Qawuqji berjanji kepada Palmon bahwa dia akan mencegah pemberian bantuan militer apa pun kepada Palestina, meskipun banyak senjata dan peralatan di gudangnya. Dia juga berjanji kepadanya bahwa pasukannya akan mundur dari beberapa situs yang dia kuasai untuk menyerahkannya kepada orang Yahudi tanpa perlawanan.

Banyak dokumen yang menyebutkan bahwa Qawuqji meminta Palmon—sebagai imbalan atas layanannya—untuk memberikannya satu kemenangan yang akan membantunya mewujudkan rencananya. Akan tetapi, Palmon menolak permintaan tersebut dengan mengatakan: “Kami orang Yahudi tidak akan memberikan apapun kepada kalian”. Kemudian tiga hari setelah pertemuan berbahaya tersebut pasukan Zionis melancarkan serangan besar-besaran pada 04/04/1948 M, yang menghancurkan Markas Komando Al-Husseini di Ramlah. Sehingga terjadilah Pertempuran Al-Qastal, syahidnya Al-Husseini, dan masuknya pasukan Zionis ke Kota Yerusalem.

Informasi ini dimuat dalam buku “The War for Palestine” halaman 86, yang ditulis oleh Eugene Rogan dan Avi Shlaim, dikutip dari dokumen Inggris dan Zionis yang telah didesklasifikasi oleh University of Cambridge di Inggris. Informasi tentang pertemuan Qawuqji dengan Palmon sebelumnya juga dimuat di buku lain yang berjudul “O Jerusalem!” karya Dominique Lapierre dan Larry Collins.

Diterjemahkan dari Surat Kabar Al-Rayah edisi 422, terbit pada Rabu, 27 Jumadilawal 1444 H/21 Desember 2022 M

Klik di sini untuk mengakses sumber

Visits: 3

Tags

Bagikan tulisan ini

Tulisan menarik lainnya...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Category

Gabung Channel Telegram