Mengapa Militer dan Ahlul Quwwah Dimobilisasi ketika Tholab an-Nushrah dan Man’ah? (Bagian 2)

Oleh: M. Musa Abdel Shakour Al-Khalil

Adapun pendapat syariat mengenai penggunaan kekuatan dan nushrah (meminta pertolongan) kepada para tentara dalam mencapai perubahan, maka ini harus ada pembahasannya dengan nushrah yang menjadi asas pembahasan tersebut.

Jadi, Rasulullah saw. meminta nushrah kepada ahlul quwwah (pemilik kekuasaan), Al-Qur’an telah menyebutkan dan memuji mereka. Bahkan, syarak memosisikan mereka sebagai pelindung dalam upaya penegakan daulah, serta pelaksanaan jihad setelah tegaknya daulah. Dari kedua hal ini, mereka akan mendapatkan balasan yang hanya dapat dihitung oleh Allah.

Jika kita menyandarkan pada fakta ini dalam menegakkan hukum syarak untuk meminta nushrah—sebagaimana Rasulullah saw. lakukan, yakni senantiasa meminta nushrah kepada ahlul quwwah—beliau saw. bersabda, “Siapa yang sudi menolongku supaya aku dapat menyampaikan risalah Tuhanku?” Ini menunjukkan tuntutan: Di mana letak kekuatan itu, pengertian dari nushrah, dan kepada siapa nushrah itu diminta.

Allah Swt. telah memerintahkan kaum muslimin yang memiliki kekuatan agar menolong kaum muslimin lainnya dalam menolong agama mereka (Islam). Allah Swt. berfirman, “(Tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam (urusan pembelaan) agama, maka kalian wajib memberikan pertolongan.”

An-nushrah yang Rasulullah saw. minta ketika itu adalah untuk menolong Islam serta menegakkannya untuk dapat diterapkan dan diemban oleh sebuah negara; bukan pertolongan untuk sekadar melindunginya (Rasul) dan orang-orang yang beriman kepada-Nya.

Nushrah tersebut juga bukan semata-mata mengajak para kabilah untuk masuk Islam. Mereka paham bahwa nushrah yang Rasulullah saw. minta adalah sebuah perkara terkait penegakan sebuah institusi, peperangan di dalamnya, serta berdirinya sebuah negara.

Sebagaimana respons Bani ‘Amir bin Sha’sha’ah ketika Rasul meminta nushrah kepada mereka, “Apa pendapatmu jika kami membaiatmu atas perkaramu, kemudian Allah tampakkan kepadamu orang-orang yang menyelisihimu? Apakah kami akan memiliki masalah setelah itu?” Kemudian Rasul berkata, “Perkara tersebut ada pada Allah, Allah akan menempatkannya di mana pun [dan] kapan pun Ia kehendaki.”

Mereka berkata kepada Rasul, “Apakah engkau menginginkan leher-leher kami disembelih orang-orang Arab hanya karena membelamu? Kemudian jika Allah memenangkanmu, maka urusan ini menjadi milik orang lain selain kami? Kami tidak membutuhkan urusanmu.” Dengan pernyataan itulah mereka menolaknya. Artinya, mereka mengetahui bahwa tholab an-nushrah adalah sebuah cara untuk mendirikan Khilafah sehingga mereka ingin menjadi penguasanya setelah Rasulullah saw.

Sebagaimana pula tanggapan Bani Syaiban kepada Rasulullah saw., ketika beliau meminta nushrah, mereka menyadari bahwa nushrah berarti kekuasaan dan jihad bagi Arab dan non-Arab. Oleh karena itu, mereka sepakat untuk memerangi Arab. Adapun untuk melawan Persia, mereka menolaknya karena persoalannya adalah kekuasaan dan otoritas.

Jelas bahwa kabilah-kabilah tersebut menyadari ketika Rasulullah saw. menawarkan Islam dan meminta kekuasaan, itu semata-mata agar mereka menyerahkan kekuasaan kepadanya, yang Rasul pun membenarkan hal tersebut. Baiat Aqabah kedua telah mengungkap hakikat perlindungan yang Rasulullah saw. minta, yakni berupa penyerahan kekuasaan.

Dari ‘Ubadah bin Shamit, ia berkata, “Nabi saw. menyeru kami, kemudian kami berbaiat kepada beliau. Beliau berkata di antara janji yang beliau ambil dari kami adalah agar kami berbaiat kepada beliau untuk senantiasa mendengar dan taat saat giat maupun malas, juga saat sulit maupun susah; lebih mementingkan urusan bersama; serta agar kami tidak mencabut urusan ahlinya, kecuali jika kalian melihat kekufuran yang terang-terangan, yang pada kalian mempunyai alasan yang jelas dari Allah.” (HR Bukhari)

Sabda Rasul saw. tentang “Agar kami berbaiat untuk senantiasa mendengar dan taat, … , serta agar kami tidak mencabut urusan ahlinya”, bukan sebuah perkara yang terkait kenabian, melainkan terkait pemerintahan dan kedaulatan.

Hal ini tampak dari jawaban Sa’ad ra., ketika ia berkata, “Wahai manusia, tahukah kalian dengan apa kalian berbaiat? Sesungguhnya kalian berbaiat untuk memerangi orang-orang berkulit merah dan hitam. Demi Allah, orang-orang Arab dan non-Arab akan melemparkan busur kepada kalian. Rasul kita yang mulia, yang diberi wahyu kepadanya, adalah contoh dan teladan kita dalam mendirikan Daulah dan pembicaraan dengan ahlul quwwah. Oleh karena itu, kita harus menghubungi ahlul quwwah demi menegakkan kewajiban ini—di mana kewajiban ini merupakan kunci kebaikan yang dapat membuka pintu Daulah Islam yang tertutup—.”

Perkara tholab an-nushrah ini terus Rasulullah saw. lakukan selama 16 kali atau lebih. Oleh karenanya, melakukan tholab an-nushrah dari penduduk negeri kaum muslimin adalah suatu kewajiban yang harus mereka jalankan tanpa memandang berapa kalinya. Kewajiban ini harus terus dijalankan hingga tujuan tercapai dan segala rintangan lenyap, dalam rangka mengembalikan umat Islam ke peran aslinya sebagai hamba yang hanya menyembah Allah Swt. melalui dakwah dan jihad, serta menghilangkan setiap upaya yang menghalangi tegaknya kewajiban syar’i (Khilafah)—yang akan menjadi negara pesaing—dan menyingkirkannya siapa pun ia.

Sesungguhnya, para ahlul quwwah harus menyadari bahwa mereka memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan kewajiban ini, menjaganya, dan melindungi para penguasa yang menerapkan hukum Allah, serta berjihad dan meneror musuh.

Mereka harus mengetahui bahwa mereka adalah tentara perang, bukan penguasa. Mereka juga harus melihat betapa agungnya esensi Khilafah—karena sungguh, urusan setelah Khilafah tegak akan jauh lebih susah dan pelik. Masalah utamanya bukan tentang siapa yang memimpin, tetapi tentang kewajiban berhukum dengan hukum Allah.

Hizbut Tahrir tidaklah bertujuan untuk mencari kekuasaan. Tidak ada baginya syahwat kekuasaan. Sekalipun jalan yang Hizbut Tahrir tempuh adalah jalan yang sangat sulit, tetapi jalan itu juga yang Rasulullah saw. tempuh. Oleh sebab itu, Hizbut Tahrir juga bisa menempuhnya dengan penuh kesabaran, bahkan mampu memikul sesuatu yang tidak dapat dipikul oleh gunung, bahkan—dalam upaya memperjuangkannya—ia juga mengorbankan hartanya.

Yang demikian itu karena keimanan pada Allah dan pada janji-Nya. Itulah yang menjadikan Hizbut Tahrir dan para syabab-nya berkeinginan kuat untuk mewujudkan janji Allah tersebut melalui tegaknya Khilafah Rasyidah kedua yang sesuai dengan metode kenabian, sebagaimana yang telah Rasulullah saw. sampaikan sebagai bisyarah pada akhir zaman, “Kemudian akan ada Khilafah yang sesuai dengan metode kenabian,” yang akan terwujud dengan upayanya.

Betapa mulianya usaha untuk mewujudkan hal ini, bukan? Betapa tinggi pula kedudukan yang Allah berikan di dalamnya.

Sesungguhnya, berdirinya Khilafah pada akhir zaman adalah sumber dari segala kebaikan yang fajar kemunculannya akan segera menyingsing. Ini karena umat telah berupaya mewujudkannya. Pada sisi lain, Barat masih berusaha menjaga peradaban mereka—yang tidak melahirkan sesuatu selain kerusakan dan tidak memunculkan apa pun selain kesesatan dan penyesatan.

Berdasarkan hal itu, seharusnya kita berusaha untuk segera mengubur peradaban Barat tersebut. Berbahagialah seseorang yang turut andil dalam upaya menegakkan Khilafah Rasyidah kedua yang sesuai dengan metode kenabian.

Sungguh, yang kafir Barat penjajah inginkan adalah agar para pemilik kekuasaan merasa takut pada kaum muslimin yang akan menolong agama Allah. Ketakutan Barat bukanlah ketakutan biasa, tetapi bentuk ketakpercayaan mereka pada umat Islam meskipun Barat telah menguasai kepemimpinan mereka. Itulah sebabnya Barat meletakkan beberapa mata-matanya di tengah-tengah umat Islam untuk mencegah mereka menolong agama Allah. Juga menempatkan media-medianya untuk menyesatkan arah kompas kaum muslimin sehingga mendukung kebatilan Barat dan bersama-sama memerangi kebenaran.

Oleh karena itu, Barat sebenarnya tengah bersembunyi dengan rasa takut terhadap upaya kaum muslimin dalam mengambil langkah, sedangkan Barat tidak menyadarinya; ia tidak mengetahui dari arah mana kaum muslimin akan bangkit. Kita sedang menanti nasrallah yang di sana ada keajaiban (campur tangan Allah) sebagaimana yang biasa dilakukan-Nya terhadap para nabi.

Sebagai kesimpulan, kami katakan bahwa pada para ahlul quwwah terdapat banyak kebaikan. Mereka sangat diperlukan dalam perubahan. Ketika Allah telah mengizinkan kemenangan, ahlun nushrah akan bertemu dengan tentara kaum muslimin yang dipimpin oleh Khalifah sebagaimana takdirnya untuk mengembalikan kekuasaan umat yang telah terampas. Kemudian, kaum muslimin dan para ahlul quwwah menanti banyaknya kewajiban dalam menolong agama, melindungi daulah, dan berjihad di jalan Allah.

Sesungguhnya, para tentara adalah kekayaan yang agung dan besar bagi bangsa Islam yang harus terbebas dari para pemimpinnya yang pengkhianat. Seandainya para ahlul quwwah menyadari perihal menegakkan agama dengan mendirikan negara adalah suatu kewajiban syar’i untuk merealisasikan kehormatan bagi Islam dan kaum muslimin, serta mengarahkan mereka untuk meraih rida Allah, mereka tentu akan mengorbankan dan mengutamakan diri mereka sendiri (dalam mengajukan pertolongan) walaupun mereka memiliki kekurangan.

Upaya menegakkan Daulah Islamiah yang pertama telah dilakukan bersama mereka para ahlul quwwah, begitu pun menegakkan Daulah Islamiah yang kedua, juga bersama mereka. Sesungguhnya itu akan kembali—atas izin Allah Swt.—pada negara Khilafah Rasyidah ‘ala minhajin nubuwwah yang akan datang. Ia akan memperoleh nushrah, pendukung, kekuasaan, dan jihad sehingga semua umat Islam akan berkata bahwa telah benar Allah dan Rasul-Nya membawa kabar gembira, ‘Kemudian akan ada khilafah ‘ala minhajin nubuwwah’ dan itu adalah kabar gembira yang sebenarnya.[]

Diterjemahkan dari Majalah Al-Waie edisi 424, terbit pada bulan Jumadilawal 1443 H/Desember 2021 M

Hits: 10

Tags

Bagikan tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *