Kota Nablus dan Seluruh Palestina, Butuh Perlindungan Internasional atau Tentara Umat yang Kuat?

Oleh: Dr. Mush’ab Abu Arqoub, Anggota Kantor Media Hizbut Tahrir Palestina

Telah syahid lima mujahidin, termasuk Wadih Al-Houh, salah satu pemimpin terkemuka dari kelompok Lair Al-Aswad. Lebih dari 20 lainnya terluka akibat peluru Tentara Yahudi selama agresi di Kota Tua Nablus.

Semoga Allah merahmati para syuhada saleh kita yang pada malam itu bertempur dengan persenjataan yang minim, tetapi dengan iman yang tinggi sebagaimana orang-orang Palestina yang mukhlis. Mereka berdiri di hadapan entitas Yahudi untuk menegaskan kembali bahwa entitas Yahudi yang rapuhlah yang menguatkan orang-orang Palestina.

Pemerintahan Palestina yang berkhianat telah tunduk terhadap Yahudi, mengemis kekuasaan dan berjalan bersama Amerika dan PBB yang menciptakan entitas itu. Pemerintahan Palestina—yang presidennya menginstruksikan untuk segera membuat kontak dengan Amerika untuk menghentikan agresi Yahudi di Nablus, serta menyeru PBB dan organisasi HAM internasional untuk campur tangan menghentikan eskalasi entitas Yahudi di Nablus—bersikeras pergi ke Amerika dan apa yang disebut sebagai “komunitas internasional dan alat-alat mereka”, seperti PBB dan Dewan Keamanannya.

Mereka (Pemerintahan Palestina) meminta perlindungan organisasi internasional untuk menjaga masalah Tanah yang Diberkati kepada penjajah Barat beserta berbagai rencananya, menstabilkan entitas Yahudi, mencuci tangan dari darah para martir, mengatasi tragedi dan masalah akibat pendudukan, dan menganggapnya sebagai masalah kemanusiaan yang harus ditangani secara negosiasi dan solusi penyerahan—dengan mengesampingkan secara sistematis pilihan solusi untuk memenangkan tentara umat Islam!

Umat Islam—yang mengalami masalah tersebut—malah dikesampingkan oleh pemerintahan dan rezim boneka Barat. Padahal, merekalah yang mengemban tugas untuk segera bertindak memenangkan orang-orang Palestina dan mendukung para pemuda heroik Nablus dan Jenin untuk menuntaskan pengepungan di Jalur Gaza serta menyucikan Masjidilaqsa dari noda-noda para pemukim.

Sudah merupakan kewajiban untuk mengupayakan dan membebaskan Tanah yang Diberkati, sebagaimana Salahuddin dan Qutuz membebaskannya sebelumnya, serta untuk membebaskan orang-orang Palestina dari entitas Yahudi dan tragedi yang mereka derita setiap harinya.

Namun, solusi ini tidak diinginkan oleh rezim boneka di negeri-negeri muslim. Mereka bersikeras untuk merahasiakan soal kemenangan tentara. Terlarang bagi media untuk mempublikasikan pilihan yang legal, praktis, dan radikal ini agar tetap tersembunyi. Ini menjadi “garis merah” yang nyata bagi para penguasa pengkhianat karena telah membalikkan keadaan dalam semua sistem kolonialisme di negeri kita ini. Solusi ini juga yang mengancam takhta mereka dan entitas Sykes-Picot yang mereka jalankan untuk mendukung kolonialisme dalam perang terbuka dengan umat Islam.

Umat yang menaklukkan Palestina pada masa Khalifah Umar Al-Faruq dan menyapu bersih pendudukan Tentara Salib dari Baitulmaqdis, berhasil memukul mundur Bangsa Mongol dan membebaskan Tanah yang Diberkati, dan mereka mampu melakukannya lagi. Mereka juga dapat mempersiapkan Perang Hittin dan Ain Jalut. Tersebab itu, mereka tidak mengganti agama dan mata mereka terus mengamati demi membebaskan Tanah yang Diberkati itu.

Palestina adalah negeri yang geografisnya tidak berubah dan tidak bergerak di samudra; saking dekatnya. Negeri-negeri muslim lain mengelilinginya layaknya gelang di pergelangan tangan dan mereka bisa saja membebaskannya hanya dalam waktu satu jam dalam sehari. Lantas, apa yang berubah sehingga entitas Yahudi masih eksis hingga kini?

Sesungguhnya, yang berubah adalah hilangnya keinginan politik umat Islam akibat adanya penguasa pengkhianat yang menginginkan entitas Yahudi tetap eksis melalui normalisasi, perjanjian damai, perlindungan internasional, serta kerja sama ekonomi melalui demarkasi perbatasan dan pembagian gas!

Padahal, umat Islam adalah umat yang agung dan memiliki kemampuan yang besar. Sementara itu, entitas Yahudi adalah entitas yang rapuh, terbukti dari segala yang terjadi di lorong-lorong Kota Nablus. Para pemudanya yang terisolasi (juga memiliki sedikit senjata dan amunisi) tetap mampu menghentikan entitas Yahudi dengan jari-jemari kaki mereka. Oleh karenanya, kepala staf, perdana menteri, para elite militernya, berpartisipasi mengantisipasi pertempuran malam itu. Lantas, bagaimana jika tentara umat Islam bergerak? Mampukah entitas Yahudi menahan banjir dan segala impulsnya?

Tentunya, motivasi terbesar adalah yang lahir dari keimanan dan kecintaan terhadap Islam, Tanah yang Diberkati, perjalanan Rasul saw., juga karena kekayaan di dalamnya, lokasi strategis, dan tentara kuatnya. Hal ini sebagaimana diakui oleh militer global bahwa Tentara Mesir adalah tentara terbesar kedua di Timur Tengah, Tentara Saudi menempati posisi yang menonjol, dan Tentara Turki merupakan salah satu tentara terkuat di dunia.

Di dunia tempat Anda tersenyum saat ini, secara fakta di depan mata, umat harus menyadari kekuatannya dan pengkhianatan para penguasanya. Total dana yang Amerika, Eropa, dan Ukraina habiskan dalam perang melawan Rusia adalah 120 miliar dolar, dan Ukraina mampu untuk menghadapi kekuatan militer terbesar kedua di dunia itu. Di sisi lain, Qatar menghabiskan 220 miliar dolar untuk membangun stadion sepak bola demi perhelatan Piala Dunia; dan Arab Saudi memberi Amerika 650 miliar dolar dalam satu aksi saja, dalam kebodohan dan pengkhianatan yang mengharuskan pengekangan penguasa pengkhianat dan rezim boneka.

Padahal faktanya, umat Islam penuh dengan sumber daya manusia dan kekayaannya—di samping kerapuhan entitas Yahudi—, sebagaimana ditorehkan oleh para pahlawan Palestina di Nablus, Jenin, Gaza, dan di mana saja. Realitas rapuhnya entitas Yahudi dan keberadaannya semata-mata merupakan “keajaiban dan misteri”, mengingat potensi kekuatan dan kebesaran umat kita.

Solusi dari misteri ini hanya dapat dilakukan dengan melepas rantai para penguasa pengkhianat yang membelenggu umat akbar ini. Ini karena umat Islam adalah “raksasa yang dirantai” yang sedang tidak mampu menghalangi para kurcaci atau entitas yang tidak memiliki sumber daya (Yahudi). Akan tetapi, jika “raksasa” ini dibebaskan dari rantainya, ia akan mampu berdiri di atas kakinya sendiri.

Telah tiba masanya bagi umat Islam untuk kembali menjadi raksasa dan negara adidaya dunia. Masalah Tanah yang Diberkati akan menjadi prioritas pertama dan hanya dalam beberapa jam atau hitungan hari untuk membebaskannya dan mengembalikannya ke pangkuan umat Islam.

Para penguasa dan pemimpin tentara di negeri-negeri muslim harusnya cemburu dengan Masjidilaqsa. Kecemburuan sebagaimana terhadap orang-orang Nablus yang tidak bersenjata, ketika mereka berkumpul di sekitar Rumah Sakit Rafidia untuk mencegah Tentara Yahudi menangkap yang terluka malam itu; menjadikan diri mereka sebagai tameng manusia bagi para pahlawan mereka dan anak-anak tersayang mereka. Bangsa. Dengan bekal kecemburuan inilah, wahai para prajurit dan perwira tentara, kita dapat membebaskan Palestina dan kembali menjadi negara adidaya dunia, yakni Khilafah Rasyidah dengan metode kenabian.

Diterjemahkan dari Surat Kabar Al-Rayah edisi 415, terbit pada Rabu, 8 Rabiulakhir 1444 H/02 November 2022 M.

Klik disini untuk mengakses sumber

Visits: 5

Tags

Bagikan tulisan ini

Tulisan menarik lainnya...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Category

Gabung Channel Telegram