Irak Berdarah di Bawah Kekuasaan Penjahat

Oleh: Prof. Mazen Al-Dabbagh

Pada pertengahan pekan lalu, tepatnya hari Senin (29/8/2022), Irak masuk ke dalam kekacauan bersenjata yang merenggut nyawa lebih dari 30 jiwa dan ratusan korban terluka. Kekacauan ini terjadi setelah Otoritas Agama, Kazem Al-Haeri mengumumkan pengunduran dirinya dari posisi sebagai otoritas keagamaan di Irak, dengan alasan menurunnya kesehatan dan kekuatan fisik karena penyakit dan usia lanjut. Tekanan Iran yang diberikan pada Kazem Al-Haeri terlihat jelas melalui wasiat pertamanya, yang mana ia berwasiat agar patuh pada Pemimpin Revolusi Islam, Ali Khamenei. Begitu pula dengan apa yang disebutkan dalam dua poin terakhir dari wasiatnya yang kedua untuk masyarakat Irak, yaitu:

  • Untuk anak-anak dua syuhada Sadrist–semoga Allah menyucikan ruh keduanya—hendaklah mereka mengetahui bahwa cinta pada keduanya (kedua syuhada Sadrist) saja tidaklah cukup kecuali dengan menggabungkan iman terhadap manhajnya dengan beramal saleh serta terus mencari tahu maksud yang sebenarnya dari pengorbanan Tidak cukup sekedar dengan klaim atau afiliasi.

Siapa pun yang berusaha memecah belah umat dan mazhab yang ada, atau menentang kepemimpinan dengan dalih dua syuhada Sadrist; sementara dia tidak memiliki ijtihad atau syarat-syarat yang ditentukan dalam kepemimpinan yang sah, maka sungguh ia bukanlah seorang Sadrist, tidak peduli apa yang dia klaim atau pernyataan berafiliasi dengannya.

  • Disarankan kepada seluruh kaum muslimin—dengan berkumpulnya kami di tempat yang suci ini—agar menjadi penopang dan pendukung (perkumpulan tersebut), sebagai kekuatan independen tanpa intervensi dari kekuatan yang lain.

Inilah yang diungkapkan oleh Muqtada Al-Sadr sebagai aib dan pengkhianatan terhadap pribadinya sendiri. Dia hanya mengumumkan pengunduran dirinya dari aktivitas politik dengan bentuk postingan tentangnya di Twitter, “Banyak orang yang menyangka—termasuk Tuan Al-Haeri (semoga Allah mengekalkannya)—bahwa kepemimpinan ini datang berkat mereka atau atas perintah mereka. Tidak, kepemimpinan ini adalah berkat anugerah dari Tuhanku lebih dulu, dan dari kemurahan hati As-sayyidul Walid (semoga Allah mensucikan ruhnya) yang tidak meninggalkan Irak dan rakyatnya.” Ia juga menambahkan, “Kota Najaf Al-Asyraf adalah markas terbesar otoritas keagamaan, sebagaimana keadaan yang biasanya.”

Seperti yang telah ia tekankan bahwa keputusan Al-Haeri bukan atas kemauannya sendiri. Sebagai hasilnya, ribuan demonstran pendukung Muqtada Al-Sadr keluar dari sebagian provinsi selatan dan sukses menyerbu Istana Presiden. Kemudian milisi bersenjata yang didukung oleh Iran bergerak mengusir mereka dari zona hijau secara paksa. Saksi mata setempat (orang-orang yang meloloskan diri dari serangan) mengatakan, “Para demonstran mengeluarkan senjata dari kemah-kemah mereka dan menembakkannya pada yang lain. Akibatnya, Brigade Perdamaian Al-Sadr meletus dan bentrok pada hari itu—hari yang penuh kekacauan dan darah—. Di sinilah pemerintah dan para politikus mengangkat suara dan seruan kepada Muqtada Al-Sadr untuk menghentikan kekacauan besar ini.”

Pada hari berikutnya, Muqtada Al-Sadr keluar dengan berpidato yang menunjukkan kekesalannya, di mana dia meminta para demostran untuk mundur sepenuhnya, mengakhiri aksi protes, dan kembali ke rumah. Semua itu dilakukannya dalam waktu satu jam, atau bahkan tidak memerlukan satu jam untuk mengubah kekacauan yang sedang terjadi.

Terkait badai dahsyat yang mana banyak orang berpikir bahwa tidak akan ada yang mampu menghadapinya ini, ternyata bisa lenyap dalam hitungan menit. Semua orang yang khawatir akan runtuhnya proses politik akan menarik napas lega dan mengucapkan terima kasih kepada sikap Al-Sadr dan keberaniannya dalam menyelamatkan negara.

Maka, apakah Al-Sadr benar-benar ingin mengubah peta politik? Apakah masalahnya terletak pada sistem, atau justru dengan orang-orangnya? Entah apapun masalahnya, apakah dia memiliki kemampuan atas hal tersebut?

Jawabannya adalah:

Pertama, Muqtada Al-Sadr telah menjadi bagian dari perpolitikan Irak sejak pendudukan Irak sampai saat ini. Ia menguasai parlemen, menteri, dan badan eksekutif; sehingga tidak masuk akal seseorang yang memiliki banyak kemaslahatan dan keuntungan justru memiliki keinginan untuk melakukan perubahan peta politik saat ini demi meraih kepentingannya.

Kedua, masalah Al-Sadr sebenarnya berhubungan dengan personal, bukan dengan rezim. Masalahnya adalah masalah pribadi, tidak berdasar, bahkan bukan masalah politis. Ia mengumumkan hal ini dalam pidatonya sebulan yang lalu, “Sebagian besar orang bosan dengan seluruh jajaran penguasa, oleh karena itu mereka memanfaatkan kehadiran saya untuk memberantas kerusakan yang ada. Wajah-wajah penguasa lama setelah ini tidak akan muncul lagi melalui proses demokrasi revolusioner yang damai dan proses demokrasi elektorat.”

Ketiga, dengan menciptakan kekacauan sekaligus menghentikannya, Al-Sadr ingin memberitahu bahwa ia mampu menggerakkan massa dan menyebabkan kekacauan. Juga mengabarkan bahwa pengunduran diri Kazem Al-Haeri pun tidak akan mempengaruhinya. Mayoritas orang setia kepadanya, bukan kepada Al-Haeri. Di tangannyalah mereka bisa bebas atau ditahan.

Sungguh semua pihak telah memahami maksud tersebut. Meskipun Al-Sadr tahu bahwa konflik ini belum pasti akan diselesaikan sesuai keinginannya, akan tetapi kita semua menjadi pihak yang dirugikan dalam konflik seperti ini.

Dengan begitu, semua orang berusaha untuk menyenangkan Al-Sadr; menyatakan bahwa politik tidak mungkin berlanjut tanpa dirinya. Sungguh, sudah terdapat banyak usaha untuk membentuk pemerintahan, dan hal itu memicu respon dari berbagai pihak. Respon paling keras datang dari Saleh Muhammad Al-Iraqi, yang dikenal sebagai “menteri Al-Sadr” dalam sebuah pernyataan, “Saya tidak terkejut sedikit pun dengan sikap kurang ajar dalam usaha untuk membentuk pemerintahan atau milisinya yang amoral, ketika mereka dengan berani mengumumkan dan menyatukan seluruh rakyat, para ahli, dan berbagai kelompoknya; bahwa mereka tetap melanjutkan pertemuan parlemen untuk membentuk pemerintahan amoral mereka.”

Seperti peringatan dari Perdana Menteri Irak Mustafa Al-Kadhimi, “Jika yang mereka (berbagai kelompok) inginkan adalah terus berlanjutnya provokasi kekacauan, konflik, perselisihan, permusuhan, dan tidak berpikir rasional; maka saya akan mengambil langkah moral dan patriotik dengan mengumumkan kekosongan posisi pada waktu yang tepat, dan meminta pertanggungjawaban mereka di hadapan rakyat Irak dan sejarah.”

Wahai kaum muslimin, alangkah malang dan mirisnya ketika kita melihat sampah masyarakat yang tidak memiliki pikiran, ucapan, atau akhlak! Mereka menikmati harta haram dari kekayaan negeri ini dan berpindah-pindah menggerakkan ratusan pendukungnya, sedangkan mayoritas masyarakat lainnya hidup dalam kelaparan dan kemiskinan; seolah-olah mereka adalah domba yang digiring dan tidak sadar apakah mereka digiring ke tempat produksi ataukah ke tempat penyembelihan.

Kelakuan orang yang sombong itu mengancam nasib jutaan jiwa, begitu pula dengan orang-orang yang ada di lingkaran tersebut. Begitulah mereka, orang paling sembrono yang pernah ada, sedangkan jutaan masyarakat yang nantinya harus membayar harga dari sikap sembrono itu. Maka benarlah sabda Rasulullah, “Akan datang masa-masa penuh tipuan. Orang yang berdusta akan dibenarkan; sementara orang yang jujur akan didustakan. Orang yang berkhianat akan diberi amanah; sementara orang yang amanah akan dikhianati. (Pada saat itu pula) para ruwaibidhah akan berbicara.” Ditanyakan kepada Rasulullah, “Siapakah para ruwaibidhah itu?” Rasulullah menjawab, “Orang sembrono yang mengatur urusan orang banyak.”

Apakah pantas bagi umat yang Allah muliakan dengan Islam, dan menjadi kuat dengan iman hidup dalam kehinaan serta tunduk kepada orang-orang yang menindas mereka? Mereka juga tidak berusaha untuk berjuang padahal Allah Swt. telah menjanjikan salah satu dari dua kebaikan, yaitu kemenangan atau mati syahid.

Bukankah sudah saatnya umat Islam kembali ke sumbernya yang murni dan menimba darinya; menegakkan hukum Allah Swt. dalam kehidupan sehingga tercapai kebahagiaan di dunia dan akhirat; serta menjadi umat terbaik yang Allah inginkan? Allah Swt. berfirman, “Dan seandainya mereka melaksanakan pengajaran yang diberikan kepada mereka, sungguh itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka).” (QS An-Nisa:66)

Diterjemahkan dari Surat Kabar Al-Rayah edisi 407, terbit pada Rabu, 11 Safar 1444 H/7 September 2022 M

Klik di sini untuk mengakses sumber

Hits: 8

Tags

Bagikan tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code