Erdogan Membawa Revolusi Syam ke Pelukan Bashar Al-Assad

Oleh: Prof. Ahmad Mu’az

Kamis (6/10/2022), Recep Tayyip Erdogan menegaskan bahwa ia akan bertemu dengan Bashar Al-Assad di waktu yang tepat—dan itu tidak akan lama lagi—. Dalam konferensi pers di ibu kota Ceko, Praha—di sela-sela partisipasinya dalam puncak pertemuan Uni Eropa—Erdogan mengatakan, “Saat ini, pertemuan dengan Presiden Suriah tidak ada dalam agenda. Namun, saya tidak bisa mengatakan bahwa tidak mungkin untuk melakukan pertemuan dengan Bashar Al-Assad.” Lalu ia menambahkan, “Jika datang waktu yang tepat, kita bisa bertemu dengan Presiden Suriah Bashar Al-Assad.”

Pernyataan yang banyak dilontarkan oleh jajaran rezim Turki—dalam periode singkat tersebut—, mencerminkan hakikat posisi mereka yang telah lama dirahasiakan karena berbagai alasan. Meskipun beberapa orang melihat bahwa sudut pandang Turki akan berubah drastis pada masa yang akan datang.

Jauh dari apa yang dikira kebanyakan orang, keberpihakan Turki pada Bashar Al-Assad bukanlah suatu hal yang mengejutkan, bahkan itu telah ditunggu sejak lama. Terutama bagi orang-orang yang mengikuti peran Turki secara teliti sejak pecahnya revolusi Syam—tanah yang diberkahi—, mengikuti garis grafik yang dilaluinya, mengetahui kebenarannya, serta mengetahui posisi Turki beredar di orbit yang mana.

Rezim Turki—yang mengorbit pada Amerika sejak Partai Keadilan dan Pembangunan berkuasa—melakukan berbagai hal untuk melayani kepentingan luar negeri Amerika. Dengan kata lain, Turki tidak melakukan apa pun di Suriah kecuali untuk melaksanakan rencana Amerika dalam menghadapi dan menggagalkan revolusi Suriah. Bahkan, Turki melarang setiap kekuatan di Suriah untuk bertindak secara sepihak, karena dapat menimbulkan masalah yang rumit. Dengan demikian, peran Turki sejak awal adalah mengimplementasikan rencana Amerika.

Sampai sini muncul pertanyaan: Apa peran kekuatan revolusi Suriah setelah realitas peran Turki terungkap? Apa rencana mereka untuk melawan berbagai makar yang ada—yang disusupkan kepada rakyat Suriah—, agar dapat melanjutkan revolusi demi mencapai tujuan—yang puncaknya adalah penggulingan rezim Syam sang pembunuh—?

Revolusi Suriah telah melewati banyak tahapan yang berbahaya, lantaran posisi negeri Syam yang strategis. Hal ini mendorong Amerika untuk memanfaatkan banyak negara, yang ia jadikan sebagai alat untuk mengacaukan gerakan revolusi dan berupaya untuk mengakhirinya. Ini terjadi karena para revolusioner bergerak untuk mengembalikan keputusan mereka dalam menentukan bentuk sistem pemerintahan.

Di sinilah asal mula konflik, di mana musuh-musuh revolusi tidak segan-segan untuk terlibat di dalamnya dengan menggunakan segala cara dan alat untuk mencegah rakyat Suriah mencapai tujuan mereka. Hal ini lantaran perubahan Suriah akan menggeneralisasi perubahan di dunia, seperti perubahan bentuk negara Suriah dan hubungan internasional.

Artinya, para penguasa sistem internasional—yang dipimpin oleh Amerika—menyadari bahaya dari tuntutan revolusi ini terutama pada bagian “rakyat ingin menggulingkan rezim”. Oleh karena itu, mereka berkumpul dan mempelajari cara menghadapinya dengan menganggap bahwa revolusi Suriah adalah pertempuran yang amat penting.

Di sisi lain, revolusi yang penting ini membutuhkan sosok pemimpin untuk sampai pada tujuan ideologis. Namun saat ini, terkadang pemimpin revolusi tersebut menjadi bagian dari suatu front politik atau menjalankan peran tertentu, sehingga mereka tidak dapat membawa perubahan yang berarti.

Adapun fakta yang ada pada kepemimpinan militer Syam justru berkebalikan dengan harapan rakyat. Kepemimpinan militer memperjualbelikan pengorbanan rakyat dan memberikan legitimasi kepada pemimpin politik—di mana legitimasi tersebut dibuat di kalangan intelijen internasional—.

Para pemimpin militer—secara sadar atau tidak—telah menerapkan seluruh langkah politik untuk memperpanjang revolusi, kemudian menjadi alat untuk menghalangi pergerakan revolusi, atau sekadar meresponnya dengan argumen yang lemah. Semua ini terjadi berkat dukungan finansial dan keterikatan para pemimpin militer dengan kekuatan eksternal. Dalam hal ini, rezim Qatar, Arab Saudi, dan Turki, semuanya berperan sebagai pendukung revolusi Syam.

Tujuan revolusi ini sangat besar, maka perlu adanya kepemimpinan yang visioner, serta perhatian khusus di tengah intervensi besar dan desakan perang—yang bisa muncul kapan saja, sekalipun karena masalah yang sepele—.

Sampai-sampai pengamat sederhana pun dapat melihat tindakan pemerintah—dan para pendukungnya—di negara-negara “merdeka”, menyebarkan opini umum bahwa “revolusi membawa kehancuran negara”. Sehingga, setiap orang—yang bahkan hanya mengurus urusan kehidupan sederhana mereka—ibaratkan satu kepala yang melaksanakan setiap aktivitas yang membantu strategi buatan otak jahat Amerika.

Semua ini disebabkan oleh minimnya kesadaran masyarakat terhadap urgensi aktivitas politik dan urgensi memiliki pemimpin politik yang mukhlis, yang sadar terhadap rencana penjajah, serta visioner untuk tahapan berikutnya. Tidak sebatas itu, pemimpin juga harus mampu menyusun rencana dan solusi di setiap keadaan, sehingga dapat memandu masyarakat agar mereka tidak jatuh pada kesalahan.

Realitas yang ada pada masyarakat di negara-negara “merdeka” sebenarnya telah dikendalikan oleh penjajah dengan sangat detail, di mana seluruh kekuatan militer dan politik telah berpartisipasi untuk menjalankan rencana penjajah. Hal ini disebabkan oleh perbuatan, pandangan yang pendek, serta kurangnya visi politik yang mereka miliki.

Kekuatan militer dan politik menanggapi kejadian ini dengan respon sesaat. Di sisi lain, mereka tetap memilih jalan yang buruk atau bahkan lebih buruk. Itulah sebabnya kita sampai pada keadaan sekarang, di mana kemiskinan, kelaparan, serta penduduk yang terlantar dan melakukan imigrasi telah merajalela.

Supaya kita bisa keluar dari keadaan saat ini, sehingga kita dapat melanjutkan perjuangan revolusi; mengembalikan orang-orang ke rumah, desa, kota, dan mata pencaharian mereka; serta menggulingkan rezim dengan semua pilar, simbol, dan konstitusi sekulernya—yang melegitimasi pembunuhan serta pengusiran manusia—, maka yang harus kita lakukan adalah:

Pertama, kita wajib untuk mengemban tanggung jawab penuh atas permasalahan ini dan menganggap bahwa beban masalah ada pada pundak kita semua tanpa terkecuali.

Kedua—yang merupakan poin penting—, kita harus mengetahui bahwa tindakan politik tidak bisa dihadapkan dengan tindakan militer. Tindakan politik harus dihadapkan dengan tindakan politik juga.

Negara-negara penjajah tidak akan dapat mengalahkan, menghancurkan, ataupun mengusir kita, kecuali dengan tindakan politik, seperti memberi utang, membentuk agen untuk revolusi, mengikat kekuatan militer dengannya, kemudian berakhir dengan apa yang mereka rencanakan sekarang untuk rekonsiliasi dan kembali ke pelukan rezim.

Oleh karena itu, kita harus menyadari urgensi aksi politik dan maslahatnya dalam menghadapi tantangan ini. Bahkan, aksi politik merupakan titik awal bagi mereka yang benar-benar ingin melanjutkan revolusi dan mencapai tujuannya.

Supaya aktivitas politik ini dapat dilakukan, maka diperlukan kepemimpinan yang politis, yang mengadopsi hal-hal terkait revolusi, siap memimpin, dan terus bergerak untuk sampai pada tujuan.

Kepemimpinan ini memiliki sifat-sifat khusus—sehingga harus dipilih secara hati-hati—, yaitu berupa partai politik yang memiliki rancangan politik yang jelas dan tidak ambigu, di mana rancangan politik tersebut akan menjadi standar jika sewaktu-waktu diperlukan perbaikan.

Penduduk Syam harus mengembalikan hak keputusan mereka, memilih siapa yang memimpin mereka, dan bertawakal pada Allah, agar sampai pada tujuan mereka, serta dapat mewujudkan revolusi.

Diterjemahkan dari Surat Kabar Al-Rayah edisi 414, terbit pada Rabu, 1 Rabiulakhir 1444 H/26 Oktober 2022 M

Klik di sini untuk mengakses sumber

 

Visits: 5

Tags

Bagikan tulisan ini

Tulisan menarik lainnya...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Category

Gabung Channel Telegram