Dukungan Revolusi Syam di Bawah Tekanan Kelaparan dan Kemiskinan, serta Kapal Konspirasi yang Berlabuh di Timur Sungai Efrat

Oleh: Ustaz Ahmad Mu’az

Kapal konspirasi terus berupaya bergerak menuju penduduk Syam sejak revolusi mereka meledak lebih dari 10 tahun lalu pada pemberhentian mereka di pelabuhan terakhir, yang bertujuan untuk menggugurkan gerakan kaum muslimin di sana, seperti yang mereka lakukan dalam revolusi sebelumnya.

Revolusi Syam telah membuat para konspirator lelah dan sangat kewalahan. Hal itu karena kekuatan dan ciri khas revolusi tersebut yang tidak seperti lainnya, yakni mendapat dukungan kuat dari rakyatnya. Ini mendorong negara-negara lain untuk mengubah berbagai sarana dan uslub untuk menghadapinya dan menggantinya dengan yang lain, tetapi tidak mengubah tujuan serta metodenya.

Barat yang melakukan revolusi sebelum kita dan menyingkirkan kekuasaan gereja yang tirani pun tahu cara revolusi mencapai tujuannya. Oleh karena itu, kalangan pembuat keputusan tengah mengintai revolusi—setelah mereka mendefinisikannya sebagai revolusi kaum muslimin dan mengarah kepada kembalinya kehidupan Islam sekali lagi.

Sebab itu, Barat mengontrol pusat-pusat studi strategis, menyuplai mereka dengan seluruh rencana politik yang dibutuhkan untuk menghambat kemajuan revolusi dan menghalangi jalannya.

Sebagaimana kita ketahui, menjalin relasi dengan negara-negara luar negeri dan mengambil uang politik adalah pintu gerbang bagi negara-negara tersebut memasuki revolusi. Meskipun perkara ini tidak semudah yang mereka bayangkan, tetapi pada akhirnya mereka berhasil masuk. Di sinilah awal untuk membuka jalan dalam menerapkan skema para penjahat.

Ada beberapa negara yang membantu menyukseskan penerapan rencana ini, dipimpin Arab Saudi dan Qatar yang pengaruh keduanya telah berkurang selama menjalankan misi mereka dan membanjiri revolusi dengan uang politik yang kotor dan beracun.

Karena banyak dari kaum revolusioner tidak memiliki kecerdasan politik yang cukup untuk mengelola kompas revolusi dan mengungkap rencana musuh yang mengintai, mereka jatuh ke dalam perangkap asosiasi dan dukungan.

Tidak dapat menghindar darinya kecuali orang-orang yang tulus dan jujur yang tersingkirkan dari dampak nyata keputusan revolusi, di tengah kejaran “para pendaki” yang diberdayakan oleh intelijen negara-negara penghubung yang memiliki segala kemungkinan untuk menjamin kendali mereka atas sendi-sendi revolusi dan pelaksanaan agenda-agenda negara untuk membawanya ke kematiannya, dengan izin Allah hal ini tidak akan terjadi.

Selain itu, secara aspek politik, AS bersama instrumen atau agen-agennya dari berbagai negara dan organisasi telah mencapai upaya pencegahan terjadinya revolusi dan membangun pilar-pilar rezim antek yang ada di Damaskus.

Oleh karenanya, fokus perhatian dalam periode ini adalah menangani permasalahan timur Sungai Efrat yang merupakan amanah kepada Partai Pekerja Kurdistan (PKK) dan cabang Suriahnya, yakni Partai Persatuan Demokratik (PYD) yang tiba saatnya untuk menyerahkannya kepada rezim zalim sebagaimana diungkapkan Shahin Ahmad, seorang pemimpin yang disebut Dewan Nasional Kurdi—salah satu Koalisi Nasional Suriah yang pro Barat—bahwa rezim Assad setuju dengan PKK di wilayah Kurdistan, Irak, pada awal revolusi untuk menarik rezim dari beberapa wilayah timur laut Suriah, menyerahkannya kepada PYD untuk menetralkan elemen Kurdi dari gerakan revolusioner, dan mengosongkan front panas oleh rezim.

Menurut Ahmad, kesepakatan tersebut pada intinya adalah bahwasanya apabila rezim tetap ada dan gerakan revolusioner dihilangkan, kedua belah pihak tidak akan berselisih tentang pengembalian amanah.

Informasi ini dikutip dari sumber Administrasi Otonomi Kurdi yang menyatakan bahwa negosiasi sedang berlangsung di antara pejabat senior PYD dan rezim Assad yang disponsori Rusia, beserta lampu hijau Amerika (AS) untuk mencapai kesepakatan di timur laut Suriah.

Hal ini senada dengan penyampaian Aldar Khalil, seorang pemimpin di PYD, terkait kesiapannya untuk bernegosiasi dengan rezim Assad secara langsung, serta seruannya untuk mentransfer dialog terkait Resolusi Dewan Keamanan 2254 dari Jenewa ke Damaskus.

Ini merupakan langkah yang sangat maju untuk melayani kepentingan AS yang telah menetapkan resolusi ini demi menjaga kepentingan dan pengaruhnya di Suriah (yang diwakili rezim Assad).

Yang absen saat ini dari yang terjadi di timur Efrat adalah Turki, yakni yang banyak membantu dalam tekanan belakangan ini di pihak Kurdi untuk kembali ke pelukan rezim dengan menyatakan aksi militer yang tidak mendapat persetujuan AS, bahkan digunakan untuk mengambil keuntungan dari Rusia dan AS dalam negosiasi yang sedang berlangsung antara rezim dan Kurdi.

Media untuk menekan Kurdi tidaklah banyak. Pada saat agen-agen pemerintah dan faksi-faksi mengerahkan segala macam tekanan ekonomi, keamanan, bahkan militer pada setiap loyalis revolusi dalam salah satu bentuk kontrarevolusi yang paling mengerikan, yang digunakan agen-agen ini untuk tunduk kepada kepentingan negara-negara sebagai imbalan atas kutukan dunia.

Akhir dari tekanan ini bukanlah aktivitas Komisi Tahrir al-Syam dari mengusir orang-orang yang berkuasa di Jabal al-Turkman dalam memenuhi keinginan Turki untuk menerapkan resolusi internasional. Yang terjadi selanjutnya dari penyerangan terhadap gerakan rakyat yang menolak—yang dilakukan komisi khususnya dalam perkara ini, yakni orang-orang melakukan aksi unjuk rasa di Bab al-Hawa di dekat perbatasan Turki untuk mengecam tindakan komisi itu, dan komisi itu pun menangkap sejumlah peserta aksi.

Yang terjadi di Syam secara umum, termasuk kawasan-kawasan independen di bagian utara, tidak terlalu berbeda antara satu sama lain. Sebab, yang mengelola isu Suriah adalah satu. Kelaparan dan kemiskinan dalam sepengetahuan mereka—yang memerangi revolusi dan berusaha membatalkan gerakan rakyat Syam—merupakan persyaratan dari solusi politik penyerahan diri yang wajib dibebankan pada mereka (rakyat Syam) melalui alat dan industri.

Situasi di wilayah rezim juga tidak berbeda, bahkan lebih buruk. Kaum muda memperebutkan layanan imigrasi dan paspor untuk bepergian dan melarikan diri dari “neraka Suriah” daripada menghadapinya dan keluar.

Adapun daerah revolusi bagian utara, amatlah rumit. Di dalamnya terkonsentrasi massa pemberontak yang perhatiannya makin bergejolak terhadap mereka yang bertanggung jawab dan tunduk pada perintah negara, bahkan dengan mengorbankan orang-orang dan kepentingan rakyat Syam.

Revolusi selalu melalui tahapan yang berbeda. Revolusi Syam adalah induk dari revolusi-revolusi tersebut. Di tangannyalah terjadi perubahan wajah kawasan dan dunia, jika mereka melakukan revolusi dengan berpikir “di luar kotak” dan berpikir di luar dari yang dimaksudkan untuk menyeret mereka sehingga tujuan para musuh dapat terbongkar nyata.

Oleh karenanya, hendaknya ada ambisi dan tekad yang bulat untuk menghancurkan hal-hal yang telah Barat rancang untuk mereka; pemuda-pemuda yang teguh pada rancangan strateginya; dan perancang strategi yang jujur untuk menghadapi makar musuh-musuhnya.

Salah satu prioritas pertama dari konfrontasi ini adalah untuk mengetahui kekuatan Anda dan kekuatan musuh Anda. Alhamdulillah, kami di Syam memiliki kekuatan materiel dan moral yang sangat besar. Lebih dari itu, kami memiliki kekuatan spiritual yang tidak musuh-musuh kami miliki yang merupakan penentu dalam setiap pertempuran. Siapa pun yang memilikinya insyaallah akan dimenangkan Allah.

Dalam sejarah kami yang besar dan agung, kami memiliki banyak banyak ibrah dan hikmah, “Barang siapa yang mengemban Islam, niscaya tidak akan terkalahkan walaupun orang-orang di bumi bersandar padanya.”

Revolusi Syam terjadi karena (izin) Allah dan bentuk perjuangan di jalan-Nya. Kami telah mempersembahkan para syuhada kami yang saleh dengan jiwa-jiwa yang rida dan pasrah kepada-Nya. Kami telah berjanji kepada-Nya untuk berjuang menyingkirkan tiran penguasa Syam dan menegakkan hukum Islam.

Hal itu hanya akan terjadi dengan melingkupi inkubator umat melalui kepemimpinan politik yang mengemban rancangan undang-undang Islam dan negaranya.

Dengan demikian, bagi kami para penduduk Syam, tidak ada penolong selain Allah karena barang siapa yang berpegang pada agama Allah, Allah tidak akan menelantarkannya.

Allah berfirman, “Sebenarnya Kami melemparkan yang hak (kebenaran) kepada yang batil (tidak benar) lalu yang hak itu menghancurkannya, seketika itu (yang batil) lenyap.” (QS Al-Anbiya: 18).

Allah membuat tipu daya untuk menolong siapa pun yang menolong agama dan syariat-Nya. Allah juga membuat tipu daya untuk menghancurkan musuh-musuhnya, yakni AS dan antek-anteknya. Allah berfirman, “Mereka membuat tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS Ali Imran: 54).

Tidak ada ketakutan bagi para penduduk Syam. Sebab, meskipun musuh mereka banyak dan cobaan mereka berat, Allah pasti menolong mereka dalam waktu dekat.

Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (QS Al-Hajj: 40).

Diterjemahkan dari Surat Kabar Ar-Rayah edisi 367, terbit pada Rabu, 5 Rabiulakhir 1443 H/10 November 2021 M

Klik di sini untuk mengakses sumber 

Hits: 6

Tags

Bagikan tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *