Search
Close this search box.

Dengan atau Tanpa Gencatan Senjata, Agresi Terhadap Gaza akan Terus Berlanjut selama Umat dan Tentaranya Tidak Mengambil Tindakan

Perang Gaza kini telah memasuki bulan keenam dengan segala kebiadaban dan kejahatannya. Kebiadaban ini masih terus berjalan meskipun ada banyak raungan, tayangan dan pertunjukan berupa pembunuhan, pengungsian, kelaparan, kehancuran dan blokade yang ditampilkan di hadapan seluruh dunia karena adanya kesepakatan dan keterlibatan para penguasa boneka kaum Muslim dan para pemimpin Barat kriminal yang tidak sedikitpun ragu untuk mendukung entitas Yahudi, memberi bantuan senjata, peralatan, uang, dan makanan, serta mendukung mereka dalam rencana dan tujuan kriminalnya untuk melawan Gaza, rakyatnya, dan para mujahidnya. 

Selain itu, mereka membuat tipu daya dan konspirasi dengan harapan bahwa mereka akan mendapatkan lebih dari apa yang mereka terima melalui perang, pembunuhan, dan penghancuran.

Semua hal ini ditampilkan dalam sebuah adegan yang menggambarkan hukum rimba paling buruk di abad ke-21, abad demokrasi, kebebasan, hak asasi manusia juga abad berbagai kebohongan dan perubahan yang menipu. 

Sungguh, konsep-konsep yang dibawa HAM, komunitas internasional, DK PBB, dan PBB sejatinya telah menguap entah kemana, bahkan mencapai level tinta di atas kertas pun tidak. Hal itu dikarenakan mereka tidak melakukan apapun untuk menyelamatkan wajah mereka, menyembunyikan keburukan mereka, atau bahkan sekedar menghilangkan celaan dan cercaan dari diri mereka. 

AS, Inggris, Jerman, Prancis, dan negara-negara lain yang mencitrakan diri mereka sebagai dunianya kebebasan, ternyata justru dengan berani mengambil posisi sebagai pendukung dan penyokong kejahatan Yahudi, atau dengan malu-malu mereka mengutuk sebagian tragedi kemanusiaan, namun mengabaikan manifestasi kejahatan dan pembunuhan lainnya. 

Sikap mereka terhadap orang-orang Yahudi pada hakikatnya menyatakan, “Bunuhlah para mujahidin, musnahkan Gaza, hancurkan pepohonan dan bebatuan, namun jika memungkinkan, minimalkanlah adegan pembunuhan, melaparkan anak-anak dan perempuan. Namun, jika tidak memungkinkan, maka tidak masalah, karena hak-hak kalian lebih penting dari nyawa mereka.”

Adapun keputusan politik para pengisap darah entitas Yahudi dan AS adalah, bahwasanya gerakan Hamas harus dilenyapkan dari Jalur Gaza, seluruh mujahidin harus dibunuh, Gaza harus dibiarkan kosong dan tidak dibiarkan untuk mengancam entitas Yahudi di masa depan. 

Hal tersebut bertujuan agar Gaza menjadi seperti wilayah Tepi Barat, di mana pihak otoritas Palestina memberikan kontribusi yang signifikan dan serius untuk menjaga keamanan Yahudi dan perjuangan Yahudi.

Otoritas Palestina berjuang untuk bertahan hidup melalui proyek kota atau provinsi yang diperintah oleh orang-orang proyek investasi Palestina, namun pemerintahannya di bawah bayang-bayang dan kedaulatan entitas Yahudi.  

Surat kabar The Times of Israel melaporkan bahwa PM entitas Yahudi, Benjamin Netanyahu berencana untuk mempertahankan keberadaan entitas Yahudi di Jalur Gaza selama 10 tahun. Dan ini adalah jangka waktu yang dibutuhkan Yahudi untuk mengubah realitas Jalur Gaza agar serupa dengan realitas Tepi Barat. 

Surat kabar juga mengatakan, “Akan diterapkan adanya pelucutan senjata-senjata berat dari Jalur Gaza untuk kemudian ditempatkan di bawah kendali pihak oposisi Palestina yang sebagian bermusuhan. Hal ini mengingatkan kita pada otoritas Palestina dengan serangan dan operasi Israel yang tak ada habisnya terhadap pusat-pusat teroris di Jalur Gaza, penggerebekan yang dilakukan oleh tentara di Nablus dan Jenin, perobohan rumah-rumah teroris—jika rumah teroris dibangun kembali pada saat itu—, lalu penangkapan malam yang akan terus berlanjut di Khan Yunis dan Shuja’iya.”

Keputusan untuk melanjutkan perang hingga terowongan, mujahid, dan rudal terakhir telah diumumkan oleh pemimpin Yahudi dan AS, bahkan hal ini disampaikan ketika mereka berbicara mengenai gencatan senjata, kemanusiaan dan pertukaran tahanan.

Keputusan tersebut mempunyai maksud bahwa perang akan dilanjutkan hingga wilayah, penduduk, dan persenjataan di Gaza luluh lantak. 

PM entitas Yahudi, Netanyahu mengatakan kepada saluran CBS Amerika, “Jika kita mencapai kesepakatan, prosesnya mungkin akan sedikit tertunda, tetapi ia akan tetap diselesaikan.”

Karena para pemimpin Hamas menyadari rencana tersebut, dan bahwasanya gencatan senjata hanya akan bermanfaat bagi entitas Yahudi dan Amerika sebab hal tersebut memungkinkan mereka untuk melewati bulan Ramadhan yang berbahaya di negara-negara Muslim yang sedang memanas, serta memulihkan tawanan sebanyak mungkin sebelum kembali membunuh rakyat lainnya dalam invasi Rafah, maka Hamas bersikeras untuk gencatan senjata total dengan syarat penarikan pasukan dan berhentinya perang dalam jangka waktu tertentu. 

Tentunya permintaan ini bertentangan dengan rencana kriminal Yahudi dan AS, oleh karena itu, Presiden AS, Joe Biden menyatakan, “Hamas menginginkan gencatan senjata total karena mereka percaya bahwa mereka memiliki peluang lebih baik untuk tetap hidup.” 

Permintaan ini membuat AS dan Yahudi frustasi, sebab mereka tidak berhasil menipu Hamas agar menerima gencatan senjata. Kemudian Netanyahu mengancam lagi dengan mengatakan, “Israel akan melanjutkan serangannya terhadap Hamas juga kota Rafah di selatan Jalur Gaza, meskipun tekanan internasional meningkat.”

Namun, baik Hamas menerima tipuan gencatan senjata ataupun tidak, entitas Yahudi terpaksa harus mengurangi intensitas adegan pembunuhan dan tindakan kriminal terhadap warga Gaza selama bulan suci Ramadan, hal ini karena adanya tekanan dari AS yang takut dan khawatir akan terjadi hal-hal di luar kendali pada negeri-negeri muslim. 

AS dan Yahudi menyadari, bahwa satu percikan yang diluncurkan di negeri muslim manapun, sejatinya cukup untuk membalikkan kondisi. Sebab umat Islam akan kembali memulihkan kekuasaan mereka yang dirampas oleh penguasa boneka dan kolonialisme. Kemudian menggerakkan pasukannya menuju Gaza dan Masjid Al-Aqsa yang diberkati, untuk membebaskannya sembari meneriakkan takbir dan tahlil. Mereka menyadari bahwa hal itu sangat mudah, sangat mungkin, tidak mustahil, dan tidak lama lagi akan terjadi. 

Satu-satunya hal yang dapat membebaskan bangsa kami di Gaza atau menghentikan perang adalah, adanya negara yang menggerakkan tentaranya, atau keyakinan Yahudi dan AS bahwa hal itu akan segera terjadi, seperti yang tergambar pada pemasangan gerbang besi oleh orang-orang Yahudi di pintu masuk Masjid Al-Aqsa. 

Netanyahu tidak akan pernah mundur hingga rasa takut muncul di hadapannya, dan hal itu sudah sangat dekat.

Adapun berharap pada perselisihan perbedaan AS-Yahudi atau perselisihan antar Yahudi di dalam negeri adalah omong kosong yang tidak berpengaruh pada jalannya perang, pembunuhan, juga kejahatan.

Hal yang sama juga berlaku bagi komunitas internasional dan tekanan internasional. Dramatisasi perselisihan ini tidak lain hanyalah sebuah penipuan yang dilakukan oleh beberapa politisi dan tokoh media untuk menghabiskan waktu dan memberikan kesempatan penuh kepada orang-orang Yahudi dan AS guna melaksanakan rencana mereka hingga langkah terakhir.

Karena sejatinya, AS, Biden, Yahudi, dan Netanyahu sepakat untuk menghancurkan Gaza, membunuh mujahidin, dan menghentikan perlawanan yang ada.

Perbedaan pendapat di antara mereka hanya terdapat pada beberapa detail untuk mempertimbangkan opini publik global atau internal AS dan entitas Yahudi. 

Meskipun ada perbedaan pendapat di antara mereka mengenai waktu perang berikutnya, namun mereka sepakat mengenai perang, urgensi perang, dan urgensi kemenangan entitas Yahudi, khususnya kemenangan yang menghancurkan tubuh anak-anak, perempuan dan reruntuhan Gaza.

Hal seperti ini juga terjadi pada internal entitas Yahudi. Meskipun mereka berselisih, namun mereka semua sepakat mengenai urgensi perang, kemenangan melawan Gaza serta perlawanan mereka dan kesiapan untuk melakukan pengorbanan yang menyakitkan. 

Perselisihan media yang muncul di antara mereka pun bertujuan untuk mencapai tujuan tersebut. 

Contohnya sehari setelah perang, muncul berita mengenai pribadi Netanyahu, Lapid, Gantz, dan Gallant, juga hasil pemilu serta siapa yang akan kalah dan menang di kabinet berikutnya. 

Namun, berlanjutnya aktivitas perang, menghilangkan perlawanan, dan menghancurkan Gaza adalah sebuah perkara yang menjadi konsensus di antara semua partai Yahudi dan masyarakat Yahudi. 

Upaya untuk mendramatisir perselisihan dan menjadikannya sampai pada tingkat yang dapat menghentikan perang adalah sebuah ilusi, penipuan, dan buang-buang waktu agar mereka dapat mencapai apa yang diinginkan.

Hal yang sama juga berlaku pada apa yang disebut sebagai komunitas dan tekanan internasional, di mana ia hanyalah seikat ranting dan letupan-letupan yang terkadang sedikit mengganggu Yahudi. Namun, para pemimpin Yahudi tahu bahwasannya komunitas internasional tidak akan bertindak dan akan tetap diam. 

Mereka akan tetap aman dari tindakan internasional dan dari segala keributan selama lampu hijau dan perlindungan Amerika tetap ada dan tegak.

Gaza dan penduduknya, Palestina dan Aqsanya tidak memiliki apapun kecuali umat Islam, tentara kaum muslimin, serta para perwira dan komandan pasukan negara-negara muslim yang tulus. 

Jika mereka semua atau sebagiannya tidak bertindak, maka kekufuran dan pengikutnya telah memutuskan perkara dan menentukan keputusan jahatnya. 

Jiwa kesatria, Ramadan, dan Islam selayaknya dapat memotivasi umat Islam serta para perwira dan tentaranya untuk menolong saudara-saudara dan Aqsa mereka. [KZ/AZ] 

 

Ditulis oleh: Ir. Baher Saleh

(Anggota Tim Media Hizbut Tahrir Palestina)

 

Diterjemahkan dari Surat Kabar Al-Rayah edisi 486, terbit pada Rabu, 3 Ramadan 1445 H/13 Maret 2024 M

 

Klik di sini untuk mengakses sumber

Visits: 4

Tags

Bagikan tulisan ini

Tulisan menarik lainnya...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Category

Gabung Channel Telegram