Antara Solusi Dua Negara dan Pembebasan Palestina

Oleh: Dr. Musab Abu Arqoub, Anggota Kantor Media Hizbut Tahrir di Tanah Suci (Palestina)

Menteri Luar Negeri AS, Anthony Blinken berkata, “Prospek untuk solusi dua negara tampaknya masih jauh, tetapi kami berkomitmen untuk mengusahakannya. Segala sesuatu yang dapat menjauhkan kami darinya akan membahayakan keamanan jangka panjang (bagi Israel).”

Dengan pernyataan tersebut, Menteri Luar Negeri AS tidak memiliki tempat sama sekali untuk melakukan pengelabuan, karena solusi dua negara ini dapat menjamin kelangsungan entitas Yahudi, dan menguatkan pilar-pilarnya di Palestina.

Amerika sebagai negara nomor satu di dunia, melihat bahwa keberadaan entitas Yahudi adalah suatu hal yang penting baginya. Sebab mereka merupakan pondasi terdepan bagi Amerika untuk memerangi umat Islam. Bahkan Yahudi adalah pondasi terdepan untuk seluruh orang Barat dalam melakukan perang melawan Islam, peradaban, dan umatnya. Oleh karena itu, Amerika mendapati adanya urgensi keberadaan entitas Yahudi serta urgensi dukungan terhadapnya.

Untuk mendukung Israel dan menjadikan keberadaannya itu alami, maka harus mengintegrasikannya di dalam negara Islam dengan cara atau penyelesaian tertentu, yang mampu mendinginkan wilayah yang terbakar oleh perasaan umat Islam yang rindu akan pembebasan Tanah yang Diberkahi. Tidak ada satu pun formula yang menyihir dari Amerika atau Barat yang mampu menyelesaikan permasalahan ini dengan solusi efektif. Tidak ada solusi yang dapat memuaskan umat atau memenjarakan perasaannya—untuk selama-lamanya—di hadapan isu Palestina.

Isu Islam, umat Islam, wilayah strategis, penjajahan, dan sistem yang menjadi agen penjajahan tercampur-baur dalam isu Palestina ini. Penjajah tidak ingin mengambil resiko dengan adanya stabilitas isu Palestina, karena ketakutan terhadap kepentingannya di negara kami. Isu Palestina diinginkan Barat—dengan posisinya sebagai penjajah yang diketuai oleh Amerika—untuk tetap menjadi ladang untuknya, mereka menyerap kekayaan negara dan memperbudak rakyatnya.

Untuk menjamin hal itu, Barat berusaha menenangkan wilayah dan memadamkan api yang menyala di jiwa-jiwa umat—yang disebabkan oleh penjajahan terhadap tempat Isra Rasulullah—. Barat berusaha memadamkan api yang mengancam kedudukan antek mereka di negara-negara kaum muslimin. Maka perlu untuk menemukan solusi yang dapat mencabut sumbu yang menyala; yang mampu menjamin stabilitas agen kolonialisme dalam rezim yang berkuasa di negara kita, serta menjaga entitas Yahudi dan keberadaannya dalam batas-batas realitas.

Perlu juga untuk menemukan solusi yang terlihat setimpal dan adil, memberi rakyat Palestina sebuah negara, dan memberi entitas Yahudi itu sebuah negara. Dengan begitu perkara ini dapat diselesaikan. Perselisihan ini berakhir—seperti yang tertera di Arab Peace Initiative—dengan solusi yang dinamakan dengan “solusi dua negara”.

Solusi dua negara ini pada hakikatnya memberikan sebagian besar tanah Palestina kepada Yahudi, ditukar dengan entitas keamanan yang sangat kecil, yang fungsinya melindungi entitas Yahudi. Akan tetapi, meskipun Amerika mengadopsi solusi ini, entitas Yahudi selalu menghindarinya, dan berkeinginan untuk memperluas kedaulatannya atas seluruh Palestina.

Palestina merupakan tanah yang diberkahi, di mana Amerika menyadari kompleksitas realitas dan hubungannya dengan isu Islam itu sendiri. Amerika menyadari bahwa entitas Yahudi terlalu kecil untuk menghadapi umat Islam; untuk memperluas lebih dari yang telah ia lakukan; atau untuk berdiri menantang umat yang bersiap untuk menerkamnya.

Maka dengan solusi dua negara ini, Amerika berusaha untuk melindungi entitas Yahudi—sang perampas—, dan menjamin keamanan serta kepentingannya di wilayah tersebut. Amerika selalu berusaha untuk mengemukakan solusi ini, terlepas apakah dapat dicapai atau tidak; atau apakah ia memiliki realitas dan maksud nyata di lapangan atau tidak. Mengingat adanya perluasan permukiman dan penghancuran tanah yang dilakukan oleh Yahudi, sehingga tidak ada yang tersisa dari Palestina selain wilayah-wilayah yang tertutup pintu besi bagi pemukimnya.

Akan tetapi Amerika telah menetapkan akhir dari konflik ini—setidaknya secara teori—, seperti yang tertera dalam Arab Peace Initiative, yang mengungkapkan implementasi rezim boneka sebagaimana yang dinyatakan oleh Menteri Luar Negeri AS Blinken. Ia mengatakan secara eksplisit dan terang-terangan bahwa Amerika berusaha menjamin keamanan Israel melalui solusi dua negara, dan alat dalam mengimplementasikan solusi ini adalah para penguasa muslim.

Umat Islam yang mulia dengan sejarah kemenangannya itu, tidak melihat apa pun selain pembebasan Tanah Yang Diberkahi sebagai sebuah solusi yang diabadikan dalam sejarah. Ketika Tentara Salib menduduki Palestina, umat Islam langsung bergerak dan membebaskan tanah itu dari mereka, tidak ada satu pun yang terbesit mengambil jalan pengkhianatan dengan membagi tanah ini dengan Tentara Salib.

Pada masa itu, Salahuddin tidak bertemu dengan Paus untuk menetapkan solusi di mana Palestina akan dibagi (antara Tentara Salib dan umat Islam) dalam dua negara, sebaliknya, ia bertemu dengan mereka di Perang Hittin dan membinasakan mereka dari tanah kami (Palestina), serta mencabut kerajaan Tentara Salib di semua negara muslim.

Membebaskan Tanah yang Diberkahi dan mencabut entitas ini dari akar untuk selamanya adalah tanggung jawab dan tugas umat. Bangsa yang “hidup” akan bergerak secara militer untuk membebaskan tanah mereka. Eropa dan Rusia berperang untuk membebaskan tanah mereka dari pendudukan Nazi, dan seluruh Eropa bergerak secara militer dan mengerahkan pasukannya di hadapan Napoleon ketika ia ingin memperluas kekuasaan di Eropa.

Tetapi Amerika dan antek-anteknya (para penguasa pengkhianat) ingin negara Islam berdamai, menormalkan, dan berbagi tanah dengan entitas perampas ini! Sebuah entitas yang—ketika berinteraksi dengannya—mengungkapkan kontradiksi dan pengkhianatan yang menembus rezim dan penguasa di negara kita.

Pada saat Ukraina berperang di setiap jengkal dari tanah mereka demi mengeluarkan penjajahan Rusia dari tanah mereka, Barat mendukungnya dan memperkuat dengan uang dan senjata. Para penguasa muslim mengikuti Amerika dalam kebijakannya dan menyerukan keutuhan tanah Ukraina, sampai seluruh tanah mereka—termasuk di dalamnya Krimea— kembali.

Pada saat yang bersamaan, ketika membicarakan tentang Palestina, semuanya—termasuk pemimpin umat Islam—menginginkan agar kami berbagi tanah ini dengan penjajah perampas, dengan pembagian yang tidak adil melalui solusi dua negara.

Permintaan ini diulangi para penguasa muslim di setiap kesempatan, menandakan pengkhianatan rezim yang berkuasa di negeri kita dan kesetiaan mereka pada kepentingan Amerika dan entitas Yahudi.

Telah tiba waktunya untuk umat Islam memulihkan kedaulatan, kehendak, serta keputusan politiknya. Menumbangkan para penguasa pengkhianat dan mendirikan Daulah Khilafah yang sesuai dengan metode kenabian. Pada saat itu, pembebasan Palestina tidak akan mengambil dari umat ​​Islam kecuali satu jam dari satu harinya (hanya memerlukan waktu yang singkat, ed).

Umat kita kuat dan besar, entitas yang rapuh dan artifisial maupun penjajah pengecut tidak akan menghalangi jalannya. Akan tetapi umat dibelenggu oleh penguasa pengkhianat yang diperalat. Inilah waktunya bagi pemuda umat dan pasukannya untuk membunuh mereka, menghancurkan tahta mereka, dan melepaskan rantai yang membelenggu umat raksasa ini.

Catatan: Judul asli artikel ini adalah “Solusi Dua Negara adalah Rencana Amerika beserta Para Anteknya, dan Pembebasan Palestina adalah Solusi Bangsa dan Tentaranya”.

 

Diterjemahkan dari Surat Kabar Al-Rayah edisi 421, terbit pada Rabu, 20 Jumadilawal 1444 H/14 Desember 2022 M

Klik di sini untuk mengakses sumber 

Visits: 12

Tags

Bagikan tulisan ini

Tulisan menarik lainnya...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Category

Gabung Channel Telegram