Amerika “Menyiram Bensin ke Api” di Sekitar Rusia

Oleh: Prof. Abu Hamza Al-Khatwani

Amerika (AS) terus berusaha mengepung Rusia dengan “api”-nya untuk menekan dan menenggelamkan Rusia ke dalam kubangan lumpur perpolitikan yang akan menguras energinya, menghilangkan kekuatannya, menurunkan posisinya agar lebih tunduk pada hegemoni AS, dan menjadikannya negara regional yang terus melayani kepentingan AS.

Setelah menjerumuskan Rusia ke dalam perang yang berkepanjangan dan melelahkan di Ukraina, AS pun memaksa Rusia untuk mengambil tindakan yang dibenci publik, yakni melakukan mobilisasi parsial dengan merekrut 300 ribu tentara tambahan demi mencegah jatuhnya sistem militer tentara Rusia yang rusak akibat perang di Ukraina. Amerika ingin—setelah penjerumusan tersebut—Rusia tersibukkan dengan perang-perang sampingan yang dibuat-buat untuk menambah kelemahannya sehingga Amerika dapat mengambil wilayah yang dikuasai Rusia.

Azerbaijan—dengan dukungan Turki dan perlindungan AS—memicu perang baru dengan Armenia setelah Rusia menahannya tahun lalu. Pertengahan September lalu, Nancy Pelosi datang ke Yerevan (ibu kota Armenia) untuk menghasut rakyat Armenia melawan rakyat Azerbaijan, dan membuat pernyataan provokatif terhadap Turki dengan dugaan pembantaian bangsa Armenia lebih dari 100 tahun lalu.

AS dan Turki saling menabuh genderang perang antara keduanya, menaburkan debu-debu peperangan setiap kali situasi mulai meredup, kemudian menugaskan Rusia menjadi pihak “pemadam kebakaran” di sana.

Armenia mempermalukan Rusia dengan meminta melindunginya dari agresi Azerbaijan sesuai pakta pertahanan bersama di antara mereka. Namun, Rusia menolak permintaan itu dan hanya memastikan penghentian gencatan senjata sebelumnya di antara dua negara secara damai, serta menolak intervensi militer untuk membela Armenia karena ia tidak mampu melakukannya dalam situasi yang sulit.

Selanjutnya, Menteri Luar Negeri (Menlu) AS Antony Blinken mempertemukan Menlu Armenia dan Menlu Azerbaijan di sela-sela pertemuan PBB. AS pun memainkan perannya sebagai juru damai antara kedua pihak, meski pada faktanya ia sendirilah yang “menyiram bensin ke dalam api” dan menyulut api perang di antara keduanya.

“Kebakaran” besar lain yang terjadi di sekitar Rusia, kawasan Asia Tengah adalah bentrokan besar antara Kirgistan dan Tajikistan akibat sengketa lama mengenai perbatasan di Lembah Fergana, yang tidak mampu diselesaikan oleh Rusia secara mendasar di mana terdapat puluhan orang tewas di dalamnya.

Tidak diragukan lagi bahwa AS berperan dalam bentrokan tiba-tiba yang terjadi saat ini. Di belakang Rusia, AS terus berkomunikasi dengan pimpinan kedua negara tersebut dan mendesak keduanya untuk membangun pangkalan militer AS di kawasan mereka setelah AS hengkang dari Afganistan.

KTT Shanghai—dipimpin oleh Rusia dan Cina yang diadakan di Samarkand, Uzbekistan—juga telah gagal menyajikan konsep dalam memecahkan persoalan yang ada. KTT tersebut hanyalah panggung retorika yang hampa mengenai multipolaritas, yang juga gagal menyepakati solusi praktis terkait konflik yang terjadi.

Demikianlah kekacauan yang dibuat AS terhadap negara-negara yang bekerja sama dengannya. AS hanya peduli pada kepentingannya sendiri. Tidak ada yang dapat menghalanginya di dunia ini dan membinasakannya, kecuali Daulah Islam—yang akan tegak sebentar lagi atas izin Allah—yang akan melenyapkan kesombongan AS dan keabsurdannya.[]

Diterjemahkan dari Surat Kabar Al-Rayah edisi 410, terbit pada Rabu, 02 Rabiulawal 1444 H/28 September 2022 M

Klik di sini untuk mengakses sumber 

Visits: 6

Tags

Bagikan tulisan ini

Tulisan menarik lainnya...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Category

Gabung Channel Telegram