Aliansi Militer dan Perserikatan Kapitalis Lebih Lemah daripada Sarang Laba-laba

Oleh: Profesor Hamad Tabib, Bait Al-Maqdis

Realitas hubungan antarnegara, metode interaksi politik, perjanjian, perserikatan, kerja sama militer, politik, dan aliansi yang mengikuti atau berhubungan dengannya didasarkan pada mabda yang dianut oleh suatu negara. Pemikiran dan mabda menentukan sifat hubungan, perserikatan, dan aliansi.

Di negara Islam, hukum syariat yang menentukan sifat hubungan dan perjanjian, seni politik, dan metode-metode lainnya untuk membangun hubungan dengan negara lain. Maka negara Islam tidak membentuk aliansi militer dengan negara kafir untuk memerangi negara kafir lainnya karena syariat melarang itu, bahkan jika kemenangan akan dicapai dengan cara itu. Rasulullah saw. bersabda, “Jangan mencari cahaya dengan api orang-orang musyrik.” (Diriwayatkan oleh Imam Nasa’i dalam sunannya). Adapun makna api adalah kinayah dari kekuatan dan pertempuran dalam perang.

Sangat berbeda dengan negara-negara kapitalis yang didasarkan pada pemisahan agama dari kehidupan, juga kebebasan berpikir dan berhukum. Ia menjalankan kehidupan dan segala hubungannya atas dasar kepentingan dan manfaat, terlepas dari metode dan sarananya.

Negara-negara kapitalis melakukan hal-hal yang terkadang binatang liar pun enggan melakukannya, demi keuntungan dan kepentingan. Seperti yang dilakukan Amerika dalam PD II ketika mengembargo minyak di Jepang, secara perlahan ia memikatnya untuk menyerang Pearl Harbor pada 1941, dengan menarik mundur kapal induk dari pelabuhan hingga menggoda Jepang untuk menyerang dan berakibat pada tewasnya ribuan tentara Amerika di dalamnya, sehingga Roosevelt dapat memperoleh persetujuan kongres secara langsung untuk memasuki perang, setelah adanya penolakan pada kongres yang sebelumnya. Atau seperti yang terjadi pada pendudukan Irak dan Afganistan, serta alasan-alasan yang dikemukakan dalam Perang Bintang (US vs USSR; Uni Soviet, ed.), dsb.

Untuk menjawab pertanyaan ini, kami katakan bahwa tujuan dari diplomasi Amerika dengan sekutu melawan Rusia mencakup beberapa poin:

Pertama, mengancam negara mana pun yang masih ada pertimbangan untuk menyimpang dari kebijakan Amerika.

Kedua, mengirim pesan kuat ke Cina; bahwa jika didapati adanya pergerakan, dia akan diperlakukan seperti Rusia.

Pada dasarnya kepentingan yang menjadi landasan tindakan diplomasi dapat ditarik-ulur. Karena kepentingan tersebut tidak tetap dan tidak disandarkan pada pemikiran yang tetap. Maka negara yang mengikat perjanjian kepada suatu negara seperti Amerika, memiliki kemungkinan akan berbalik jika melihat adanya kepentingan yang lebih besar dari negara lain; demikian pula negara-negara lainnya.

Tarik ulur yang menjadikan sekutu berbalik melawan satu sama lain dan mengakibatkan kerugian besar tak terbatas pada perjanjian dan persekutuan negara-negara besar (seperti bergabungnya negara-negara Barat dalam NATO setelah PD II bersama Amerika melawan Pakta Warsawa dan Uni Soviet), diplomasi ini bahksn menjadi sasaran penipuan, tipu daya, dan eksploitasi negara-negara Barat secara ekonomi dan politik oleh pihak AS.

Maka dibangunlah kesepahaman dengan Uni Soviet, melalui kebijakan rekonsiliasi pada tahun 1961 yang ditandatangani Presiden Khruschev dan Kennedy. Dengan kebijakan tersebut, AS mampu membagi wilayah pengaruhnya di dunia serta memperluas pengaruhnya dengan mengorbankan negara-negara Eropa di Timur Tengah, Afrika, Asia Tenggara, Asia, bahkan di Eropa sendiri. Maka, aliansi tersebut sebenarnya merupakan penipuan yang dilakukan AS untuk meletakkan Eropa di bawahnya sebagai sayap dan mengeksploitasi ekonominya, kemudian memperluas wilayah-wilayah pengaruhnya di dunia dengan mengorbankan negara-negara yang bergabung dengan aliansi ini.

Pada awal abad ke-21, Amerika membentuk aliansi dari beberapa negara untuk melawan Irak. Ia dapat mengumpulkan sejumlah besar negara ini sebagai akibat dari politik tipu-tipu dan kedustaan. Aliansi militer ini pun terus berlangsung hinga beberapa tahun, baik melalui inspeksi, penetapan zona demiliterisasi, zona larangan terbang, dan sebagainya.

Meskipun begitu, aliansi ini mulai nampak hancur sedikit demi sedikit disebabkan tersingkapnya rencana politik serta makar-makarnya, hingga Amerika menciptakan peperangan dan dalih baru, yaitu perang melawan teror. Hanya saja kerumunan baru ini tidak seperti kerumunan pertama, di mana negara-negara sekutu menempatkan diplomasi ini di bawah kaca pembesar politik tarik-ulur.

Contoh lain adalah masalah embargo dan sanksi ekonomi terhadap Iran. Amerika telah menciptakan kebohongan baru, di antaranya:

  1. Iran mengancam sumur minyak dan situs-situs keagamaan di Mekah dan Madinah;
  2. Iran mengancam keamanan Israel.

Kebohongan tersebut digunakan untuk menyerang kebijakan beberapa negara, memeras negara lainnya, dan menjadikan Iran sumber intimidasi dan ancaman bagi Negara-negara Teluk. Aliansi yang disisipi oleh banyak kecurangan ini berlangsung selama bertahun-tahun. Satu waktu dengan memperketat sanksi, dan lain waktu melonggarkannya; demi menjebak Eropa melalui pembuatan kontrak komersial dengan Iran, kemudian berbalik melawan negara-negara ini dengan memperketat pengepungan, sehingga negara-negara ini mengalami kerugian miliaran dan tetap berada di bawah kontrol Amerika.

Inilah Amerika yang saat ini menyelenggarakan arah politik baru baru bagi Iran. Ia melancarkannya untuk mencabut sanksi atas Iran melalui penyelesaian politik yang menipu, yang bertujuan untuk memasukkan Iran ke dalam sistem politik kawasan dan membangun hubungan antara Iran dengan negara-negara kawasan tersebut—termasuk Israel—sebagai awal pengangkatan sanksi akhir bagi Iran.

Semua ini adalah bentuk pelayanan terhadap kepentingan Amerika di Perang Ukraina, juga untuk membentuk aliansi kerja sama yang membantu politik Amerika di kawasan militer, layaknya NATO dan aliansi lain seperti Aukus dan Quad. Serta untuk menciptakan politik baru yang wilayahnya jauh dari negara-negara Timur Tengah.

Setelah peninjauan ulang terkait fakta politik Barat dan diplomasi yang dijalankan atas pemikiran kepentingan pragmatis ini, terkhusus diplomasi Amerika, kita telah sampai pada pembahasan terakhir, yaitu “Sejauh apa Barat akan terus membentuk aliansi-aliansi baru melawan Rusia? Apakah kepentingan Barat akan terealisasi dengan Amerika?”

Ketiga, negara negara Eropa—terkhusus Prancis, Jerman, dan Inggris—tetap berada dalam lingkaran untuk melayani politik Amerika, dan menjaga mereka di bawah sayapnya dalam kebijakan pemerasan ekonomi, politik, dan militer yang sedang berlangsung.

Keempat, mempertahankan hegemoni global dan menetapkan rencana masa depan terhadap rencana apapun demi mendobrak penghalang hegemoni Amerika.

Ada beberapa perkara yang memungkinkan mempengaruhi kebijakan-kebijakan ini dengan Amerika dan sekutunya, juga dapat membuat sebagian negara menghindari aliansi tersebut seperti lamanya perang dengan Rusia yang mengakibatkan kerugian yang besar. Rusia melakukan tindakan diplomatik membuat negara negara Eropa lebih mengutamakan kepentingan mereka, seperti menurunkan harga minyak dan gas sebagai ganti harga Amerika yang terlalu tinggi. Rusia juga dapat melakukan ancaman atau godaan ekonomi, terutama karena memiliki kapasitas ekonomi yang besar dari segi energi, pangan, dan aspek komersial dari dan ke negaranya.

Kesimpulannya, kami katakan bahwa negara-negara tersebut didasarkan pada politik jahat yang bersumber dari pemikiran rendahan dan mengutamakan kepentingan masing-masing, bahkan pada kawan dan rakyatnya sekalipun—ketika melihat ada kemaslahatan di sana—.

Adapun satu-satunya sistem politik yang mampu mengelola urusan dunia dengan keadilan dan kesetaraan; serta menyebarkan keadilan, keamanan, dan integritas di seluruh dunia adalah politik yang bersumber dari tatanan Ilahi, yaitu dari agama Islam. Perkara-perkara inilah yang menjadi alasan untuk menetapkan garis-garis besar di hadapan umat manusia, untuk mengakhiri kejahatan-kejahatan tersebut dan mengikuti aturan Rabbani Sang Pemberi petunjuk. Di waktu yang sama juga menjadi pendorong bagi umat Islam untuk mengetahui nilai dan integritas agamanya, terlebih umat Islam yang melihat kebijakan negara-negara yang didasarkan pada penyimpangan.

Sungguh, inilah alasan bagi umat Islam untuk kembali, untuk menghancurkan sistem kapitalis yang jahat; menegakkan sistemnya berdasarkan pemikiran Islami dalam naungan negara yang menerapkannya (Islam) dan mengembannya sebagai risalah kebaikan ke seluruh penjuru dunia; serta untuk menyelamatkan umat manusia yang tersesat dan terzalimi.

Diterjemahkan dari Surat Kabar Al-Rayah edisi 408, terbit pada Rabu, 18 Safar 1444 H/14 September 2022 M

Klik di sini untuk mengakses sumber 

Hits: 1

Tags

Bagikan tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code