Ideologi Kapitalisme dan Kebusukannya atas Dunia (Bagian 1)

(Oleh : Muhammad Az-Zaila’i, Yaman)


Peradaban Barat masih terus mencengkeram dunia, sejak kelahirannya di Eropa pada abad ke 18, peradaban ini mampu menyingkirkan peradaban Islam dari posisinya sebagai peradaban terunggul, kemudian ia (peradaban Barat) mengejarnya (peradaban Islam) di negeri-negeri kaum muslimin hingga menggantikan posisinya setelah kemenangan secara militer diraih Barat atas kekhilafahan Utsmani pada perang dunia pertama. Kemudian, Inggris dan Perancis dua pemimpin Barat pada saat itu membuat strategi untuk menghilangkan peradaban Islam dan manifestasinya dalam kehidupan kaum muslimin serta mencegah peradaban tersebut kembali terwujud, yang saat ini keduanya (Inggris dan Perancis) dipimpin oleh Amerika dalam menjalankan strategi tersebut. Ide sosialisme dan proposisi globalnya berupa penghapusan penjajahan, perdamaian dunia, dan persatuan kelas pekerja, merupakan tantangan serius bagi peradaban barat, terutama setelah terpusat pada sistem negara-negara blok sosialis yang dipimpin oleh Rusia.

Tetapi sosialisme tidak mampu mengokohkan peradabannya sendiri, dan orang-orang terus menjalankan urusan mereka sesuai dengan kepercayaan agama mereka kecuali yang berkaitan dengan negara berjalan sesuai dengan ide sosialisme progresif. Ketika sosialisme runtuh diiringi dengan terpecah-belahnya Uni Soviet di akhir tahun 90-an, maka satu-satunya tantangan serius bagi Kapitalisme dan peradaban barat juga musnah; Dengan demikian peradaban barat beserta proposisi idenya seperti demokrasi, liberalisme, dan sistem kebebasan, berperan tunggal dalam mendominasi dunia. Saat ini tidak ditemukan peradaban manapun yang mampu menantang dan mengalahkan peradaban barat kecuali peradaban Islam, dan mengalahkan peradaban barat ini masih menjadi sebuah proyek di benak kaum muslimin, cita-cita berbagai partai dan kelompok yang terus berjuang untuk mewujudkannya. Maka, apakah kemenangan besar peradaban Barat atas dunia merupakan konsekuensi dari benarnya ideologi barat? Ataukah hanya kemenangan sementara yang disebabkan supremasi barat di bidang sains, teknologi dan berbagai penemuannya? Kami akan mencoba menjawabnya pada artikel ini.


Kapitalisme adalah sistem ekonomi yang lahir dari pemikiran menyeluruh tentang kehidupan, alam semesta, dan manusia. Untuk memahami dan menghukumi realitas kapitalisme, haruslah menguji ide yang melahirkannya, dialah sekulerisme yang berarti memisahkan agama dari kehidupan.


Aqidah ini distimulasi oleh Barat, khususnya Eropa, dan cukuplah dikatakan bahwa gagasan dasar ini rusak dan tidak sempurna karena ia bukanlah dihasilkan dari proses berfikir terhadap fakta alam semesta, manusia dan kehidupan serta hubungan sebelum dan sesudah kehidupan tersebut, meskipun ia memutuskan ketentuan tentang persepsi ini dan kaitannya dengan sebelum dan sesudahnya, hanya saja ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan prinsip dasar manusia, kehidupan dan alam semesta dihasilkan dari reaksi terhadap kesulitan hidup yang dialami Barat pada abad pertengahan, yang terwujud dalam konflik antara gereja dan sains, antara para pendeta yang mengklaim sebagai wakil Tuhan di bumi dan para intelektual yang mewakili kehidupan ilmiah yang terkait dengan aspek materi dari kehidupan. Objektifitas akal dari setiap pihak bukanlah penentu akhir dalam menyelesaikan konflik ini, alih-alih darah yang mengalir, dominasi teror, kediktatoran dan tirani gereja yang mewakili agama, rasa muak, marah, dan penindasan yang menghantarkan pada revolusi ilmuan dan intelektual, mendorong masalah ini diselesaikan dengan kompromi karena masing-masing pihak tidak mampu mengalahkan pihak lainnya, kompromi ini berupa pengakuan terhadap gereja yakni agama dengan pemisahannya dari kehidupan, yang kemudian melahirkan doktrin (serahkanlah pada kaisar apa yang seharusnya diserahkan pada kaisar dan kepada Tuhan apa seharusnya diserahkan pada Tuhan) yakni pengakuan terhadap kontradiksi dan kemustahilan menggabungkan antara keduanya, maka bagi mereka agama bertentangan dengan sains dan iman tidak sesuai dengan akal; karena yang pertama berhubungan dengan hal ghaib yang tidak mungkin dijangkau sedangkan yang kedua berhubungan dengan pengindraan dan fakta yang dapat diraba dan diindra, itulah sebabnya mereka membuat wilayah bagi masing-masing. Agama yang mengatur hubungan manusia dengan Penciptanya dan wilayahnya adalah gereja, sedangkan sains mengatur semua hubungan lainnya yang bidangnya adalah kehidupan dengan kapasitasnya. Dari sinilah muncul inkonsistensi dalam aqidah ini yang mencakup berbagai kontradiksi pada pemahaman mereka terkait ilmu dan agama, akal dan iman; karena itu adalah suatu hal yang mustahil menerima konsep sekulerisme yakni pemisahan agama dengan kehidupan, karena ia tidak dibangun berdasarkan akal melainkan berdasarkan kompromi atau jalan tengah, di dalamnya menerima adanya agama dengan kata lain mengakui adanya Pencipta dan hari perhitungan juga mengakui kehidupan materi ilmiah yang merupakan produk akal. Demikianlah kita dapati pada aqidah ini yang terakhir (pengakuan terhadap kehidupan bersifat materi dan ilmiah) membatalkan yang awal (pengakuan terhadap agama), oleh karena itu harus ia harus ditolak dan diingkari.


Akal merupakan alat untuk menilai berbagai fakta yang terjadi, dan akal inilah yang membedakan manusia dengan yang lainnya. Seseorang yang memandang fakta yang terindera yang mencakup alam, manusia, dan kehidupan, akan mendapati bahwasannya keberadaannya membutuhkan kepada selainnya. Karena ia bersifat terbatas, lemah, serba kurang, dan membutuhkan kepada yang lainnya. Ditambah keberadaan alam semesta, manusia & kehidupan tidak bisa berdiri sendiri melainkan butuh terhadap Pencipta yang bersifat azali dan wajibul wujud serta tunduk kepada aturan dan ketentuan-Nya. Dan untuk membuktikan aqidah ini, terdapat dalil ‘aqli dan kauny yang tak terbatas yang Allah sebarkan di sekitar makhluk, yang memastikan adanya hubungan deterministik antara alam, manusia, dan kehidupan dengan Pencipta seluruh alam semesta.


Dari pemaparan ini, kita dapati bahwa akal adalah sarana yang menghantarkan seseorang pada keimanan, dan bahwa pokok agama berasal dari pandangan akal terhadap alam semesta, manusia dan kehidupan. Sehingga jelaslah kebatilan konsep bahwa agama bertentangan dengan akal. Tentu ini berlaku dalam aqidah Nashrani, yang pemeluknya mengakui bahwa akal tidak mampu membuktikan keimanan mereka, karena keimanan mereka merupakan karunia yang Tuhan berikan ke dalam hati mereka, maka agama bagi mereka adalah sesuatu yang dapat dirasakan tapi tak dapat dipikirkan. Hanya saja ini tidak berlaku pada Islam yang menjadikan akal sebagai penilai & penghantar pada validitas & kebenaran aqidahnya.


Doktrin Aqidah Islam didasarkan pada pilar: beriman kepada keberadaan sang pencipta, dan bahwa Al-Qur’an berasal dari Allah, serta mengimani bahwa Muhammad adalah penutup para nabi dan rasul, serta apa yang dibawanya adalah dari Allah. Akal yang bersih dari hawa nafsu dan dari motif apapun kecuali aksioma akal, yang menilai validitas dan kesesuaian aqidah dengan fakta;


Di sini kita dapati bahwa Kapitalisme dibangun atas akidah yang rusak, dan tidak layak dijadikan sebagai kaidah berpikir yang membangun kehidupan manusia, terdapat kontradiksi & inkonsistensi yang sangat mencolok pada asalnya, dan segala yang dibangun atas kebatilan maka ia juga batil; oleh karena itu sistem kehidupannya batil dan tidak dapat mewujudkan kebahagiaan bagi manusia.


Mungkin sebuah perincian dapat memberikan contoh yang jelas tentang ketidaklayakkan kapitalisme bagi manusia, manusia mana pun; karena Kapitalisme sendiri tidak sesuai dengan fitrah manusia, tidak menentramkan hati dan tidak memuaskan akal manusia


Manusia dengan segala potensi yang dimilikinya berupa naluri-naluri dan kebutuhan jasmani (merupakan potensi hidup yang menuntut pemenuhan), telah dinodai oleh Kapitalisme terjadi penyimpangan akibat ideologi kapitalisme, karena ia telah mengeluarkan manusia dari bawah kekuasaan Allah dan pengaturan-Nya disaat yang sama ideologi ini tetap mengakui keberadaan-Nya, namun mengingkari adanya hubungan pengaturan dari Pencipta yang mengatur kehidupan manusia untuk memperbaiki kehidupannya. Ideologi ini mengakui keberadaan Allah sebagai pencipta, namun tidak ada urusan bagi-Nya dalam kehidupan kita, tidak ada hukum bagi semua perbuatan kita. Maka keberadaan Allah hanya sebatas sebagai pencipta, bukan menciptakan sekaligus memerintah.

Dan ini jelas bertentangan dengan firman Allah : “Ingatlah, segala penciptaan & urusan menjadi hak-Nya”. Maka jelas bahwa ideologi ini mengakui kebutuhan manusia terhadap Dzat Pencipta yang menciptakannya, namun mengingkari kebutuhan manusia terhadap Dzat Pengatur. Padahal itu yang dituntut oleh fitrahnya. Maka apa yang dipaksakan manusia untuk bergantung pada dirinya sendiri untuk mengetahui kemaslahatan dan kemanfatan, maka semua itu menjadikannya bersikap brutal. Segala obsesinya semata-mata hanya untuk memuaskan kenikmatan sesaat. Oleh karena itu, sikap egois dan individualis menjadi inti dari corak berpikirnya. Adanya keselarasan antara manusia yang semata-mata hanya mengejar kemanfaatan dengan asas ideologi kapitalisme ini, telah menunjukkan adanya penyimpangan fitrah yang dimiliki manusia berupa naluri-naluri yang merupakan unsur dari manusia itu sendiri, diluar lingkaran ego. Jika belum ada pemenuhan naluri tersebut dengan sempurna, maka akan mengakibatkan kesengsaraan dan kebinasaan manusia.


Terdapat beberapa naluri yang manusia mengorbankan diri untuk memenuhinya, ia (manusia) mengorbankan dirinya dengan ringan demi meninggikan panji agamanya dan kemenangan ideologinya, dan pengorbanan ini bagian dari manifestasi naluri beragama. Manusia juga berkorban dengan hartanya, waktu luangnya dan mungkin dirinya sendiri demi anak-anaknya, ini bagian dari manifestasi naluri kasih sayang; dengan demikian, jika manusia menjadikan dirinya sebagai pusat peredaran & hanya berputar di sekitarnya, maka ia akan sengsara, prinsip dasar sebuah ideologi yang benar adalah mewujudkan kebahagian bagi manusia.


Ini pada tingkat individu, adapun di tingkat dunia, Kapitalisme menjadikan hubungan antar negara dinilai berdasarkan manfaat, yang kuat menguasai yang lemah, dan menjadikan yang lemah tidak memiliki tempat di muka bumi; karena tiada satupun yang memikirkan nasib mereka dan bagaimana memenuhi kebutuhan mereka, mereka dianggap sebagai beban masyarakat, dan lebih baik untuk mati saja, inilah pandangan Kapitalisme yang tidak manusiawi, dan kolonialisme hanyalah fase akhir Kapitalisme, karena saat itulah negara-negara kuat berlomba untuk memperlemah negara yang sudah lemah untuk mengeksploitasi dan menghisap darahnya, dari sinilah terjadi perselisihan antar negara-negara penjajah, yang mengakibatkan pada peperangan yang menghancurkan. Dengan meninjau peperangan pada dua abad terakhir, kita dapati penyebabnya adalah perselisihan dalam kepentingan materi, perebutan sumber daya bangsa-bangsa dan eksploitasi segala yang mereka miliki.


Yang paling menonjol dari sistem ini adalah sistem ekonominya, yang bertujuan untuk memperbanyak modal di tengah masyarakat dengan cara apapun, tanpa adanya keterikatan dengan akhlak maupun nilai-nilai. Di waktu yang sama, ia memandang satu-satunya alat untuk distribusi kekayaan di tengah masyarakat adalah struktur harga. Perkara ini melahirkan banyak permasalahan lain di tengah masyarakat, menyiarkan malapetaka dan menghancurkan baik di dalam maupun di luar masyarakat kapitalisme; sebagaimana perusahaan-perusahaan besar dan bank-bank yang merampas harta masyarakat di bawah slogan kebebasan kepemilikan dan pengembangannya, serta profitabilitas dari kepemilikan. Monopoli harta yang dilakukan oleh para konglomerat tersebut menghasilkan kesenjangan sosial yang besar. Maka jadilah 1-2% dari masyarakat kapitalisme (para pemilik modal) menguasai 98% harta masyarakat, dan 2% sisa harta tersebut didistribusikan untuk 98% sisa masyarakat.


Adapun dari segi politik luar negeri, yang terjadi adalah penjajahan dan perang yang mengisap darah para penduduk yang lemah. Lebih dari itu, kriminalitas dan penyakit yang mematikan tersebar; seperti AIDS. Semua ini adalah hasil dari keterikatan akal manusia dengan asas manfaat dan materi (harta) belaka, tanpa adanya keterikatan akal dengan nilai-nilai dan akhlak. Maka jadilah penyakit AIDS tersebar secara menyeluruh di tengah masyarakat Barat, juga kriminalitas yang terjadi setiap detiknya di kota paling bergengsi di Barat, seperti New York dan sebagainya.


Dari sinilah muncul permasalahan-permasalahan dan krisis-krisis dalam sistem kapitalisme sejak awal kemunculan dan pembentukannya, krisis ini pun semakin membesar dan bertambah seiring menguat dan meluasnya sistem ini. Salah satu manifestasi dari krisis ini yang terjadi sejak awal kemunculannya di awal abad 19 adalah krisis upah dan jam kerja di Amerika, dimana kasus mogok kerja terus berlangsung lama hingga setelah krisis tersebut sampailah pada kompromi penetapan upah dan jam kerja, setelah itu mulailah krisis stagnansi besar-besaran di awal abad 20 tepatnya tahun 1929 M, disusul dengan krisis perang mematikan untuk menguasai pasar dan modal dimana perang dunia satu dan dua telah memakan lebih dari 20 juta jiwa, puluhan juta korban luka-luka dan cacat serta merebaknya kehancuran, kemusnahan, ketakutan dan penyakit psikis.

Berlanjutlah krisis perang panas (hot war) dan dingin (cold war) diantara negara-negara digdaya, dan berlangsunglah perlombaan adu senjata serta pemberian sokongan dana jutaan dolar pada adu senjata tersebut guna mencegah pihak lawan dari kemenangan mengamankan diri. Fase ini juga termasuk penjajahan militer di banyak negara di dunia demi mengabdi pada para pemilik modal dan perusahaan-perusahaan kapitalis. Kemudian terjadilah krisis terbaru di awal-awal abad 21 M yang ditandai dengan munculnya krisis hipotek dan menjalar cepat seperti api yang membakar jerami, krisis ini mengakibatkan kehancuran perekonomian dan kerugian besar-besaran senilai lebih dari 14 milyar dollar sejak awal krisis hingga tahun 2008 M, dan semakin bertambah kerugian tersebut ditahun 2011 M mencapai 60 milyar dollar, selain kehancuran perekonomian di lembaga-lembaga besar finansial, ditambah dengan mahalnya harga-harga, naiknya jumlah pengangguran serta penururan upah, pertambahan jumlah orang miskin dan orang yang terancam mati karena kelaparan.


Krisis ini masih menghantam disini dan disana, dan apinya terus berkobar disana-sini dan para pemimpin barat terus berupaya memadamkan kobaran api tersebut serta mengendalikannya. Namun, semua itu tidak berguna.
Kaidah yang digunakan oleh negara-negara barat terutama Amerika untuk mewujudkan kepentingannya : “tujuan membenarkan cara”. Untuk mewujudkan kepentingan dan kebusukkan politiknya Amerika menggunakan bantuan PBB yang dianggap sebagai salah satu alat politiknya. Contohnya adalah kebijakan Amerika di Timur Tengah, Suriah, Irak, Yaman, Afghanistan dan negara lainnya yang menyebabkan masyarakat timur-tengah terjatuh dalam lautan musibah besar.

Begitu juga dalam ekonominya, sistem kapitalisme membawa bencana besar, misalnya, menurut organisasi compassion international sekitar setengah dari penduduk bumi saat ini hidup hanya dengan 2,5 dolar atau kurang dari itu. Menurut laporan Credit Suisse bahwa 45,6% kekayaan dunia terpusat hanya pada 0,7% penduduk bumi yang memiliki aset kekayaan 116 triliun dolar. Dalam laporan terkait kekayaan orang terkaya di dunia, CEO Amazon, Jeff Bezos, mendapatkan 12 miliar dolar dalam sehari, setara dengan 500 juta dolar per-jam atau 8,333 juta dolar per-detik. Dengan demikian kekayaan Bezos sebesar 134 miliar dolar dan saham Amazon meningkat hingga 6,3% di Newyork Stock Exchange, harga per saham mencapai 12,1614 dolar menurut situs Bloomberg.

Adapun Forbes menunjukkan bahwa keuntungan Amazon mencapai 9 miliar dolar dalam dua hari, setelah saham Amazon naik 16% saja. Perlu diingat, bahwa Amazon saat ini sedang bernegosiasi untuk membeli perusahaan ‘Flipkart’ India untuk e-commerce dan telah menawarkan kepada pemiliknya sekitar 11 Miliar dan 600 juta dolar AS, dan bahwa 1% dari keuntungan Amazon tahun ini setara dengan anggaran kementrian kesehatan Etiopia.


Pada saat yang sama, jutaan orang hidup dalam kemiskinan, dan sangat menderita akibat banyaknya penyakit dan mati kelaparan. Menurut informasi PBB, pada tahun 2016, sekitar 155 juta anak pertumbuhannya terhambat. Setahun sebelumnya, 5,9 juta anak meninggal pada hari ketiga atau keempat kelahiran mereka. Mereka juga membawa fakta-fakta ini:Sekitar setengah dari populasi dunia, lebih dari 3 miliar orang hidup dengan kurang dari $ 2,5 per hari, dan lebih dari 1,3 miliar orang hidup dengan kurang dari $ 1,25 atau hidup dalam kemiskinan ekstrem.

Saat ini di dunia 1 miliar anak hidup dalam kemiskinan ekstrem. Menurut UNICEF, setiap hari nya 22.000 anak meninggal karena kemiskinan ekstrem.

Di dunia, 805 juta orang tidak memiliki cukup makanan untuk kebutuhan mereka. Lebih dari 750 juta orang tidak memiliki akses ke air bersih. Terlihat di tahun 2011 pada 165 juta anak-anak tidak mengalami pertumbuhan dan perkembangannya akibat kelaparan yang berkepanjangan.

2 juta anak-anak meninggal pertahunnya akibat Peradangan Paru-paru dan Diare. Anak-anak tersebut hidup dalam kemiskinan yang ekstrem dan tidak memiliki kemampuan untuk menjalani pengobatan.

Seperempat dari penduduk bumi yaitu sekitar 1,6 milyar orang hidup tanpa listrik.

Oxfam memperkirakan bahwa untuk memberantas kemiskinan ekstrim tersebut membutuhkan $60 milyar, yaitu kurang dari seperempat pendapatan 100 milyarder.


Selain itu, jumlah pengangguran telah meningkat, dan menurut ILO (International Labour Organization) angka pengangguran di Dunia pada tahun 2017 telah mencapai rekor tinggi yaitu 192,7 juta jiwa. Maka tidak diragukan lagi, bahwa hal ini merupakan bagian dari buah busuk penerapan sistem Kapitalisme.

Faktanya, sistem kapitalisme itu jahat, dan negara kolonial barat penjajah, yang dikepalai oleh Amerika juga jahat. Bahkan kejahatannya disaksikan oleh rakyatnya sendiri. Seorang produser Amerika terkenal -Michael moore- mengatakan bahwa Kapitalisme adalah sistem yang buruk yang tidak mungkin bisa diperbaiki, tetapi harus dihilangkan.

Sistem kapitalis adalah sistem yang kufur. Dan kekejaman pemimpin kekufuran ini, yaitu Amerika, sudah tidak terhitung jumlahnya. Hiroshima, Nagasaki, Timur Tengah, Irak, Afganistan, Suriah, Libya, Somalia, dan negara-negara lainnya adalah korban Amerika, yang daftar kejahatannya akan terus berlanjut untuk waktu yang lama. Sementara, Amerika telah dan masih melakukan penindasan terhadap seluruh umat manusia, telah dan masih melakukan pembunuhan terhadap manusia serta anak-anak mereka.


Seperti yang dilaporkan oleh Physicians for Social Responsibility [PSR] (mereka adalah organisasi yang bergerak melawan perang nuklir), bahwa setidaknya ada 1,2 juta jiwa yang meninggal dalam perang Amerika melawan Irak, Afganistan, Pakistan, dan Yaman saja dalam kurun waktu 12 tahun. Adapun laporan dari delegasi Sekretaris Jendral PBB, Stéphane Dujarric, mengatakan bahwa delapan ribu anak-anak telah terbunuh sepanjang tahun 2016 saja. Adalah pasti bahwa laporan tersebut bersumber dari informasi statistik resmi, namun faktanya, jumlah korban berkali-kali lipat secara eksponensial.


Beberapa tahun belakangan ini muncul globalisasi dan privatisasi, menjadikan yang kuat berhak untuk mengeksploitasi teknologi dan energi manusia, sumber daya alam, dan pasar di seluruh dunia, yang dilegalkan secara undang-undang, dan dikonfirmasi oleh perjanjian internasional seperti Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), yang bertugas untuk melindungi investasi ini dengan senjata, agar tidak ada yang berbalik menentang, menuntut deportasi, atau melemahkan otoritas pengeksploitasi.


Maka pertanyaan yang akan muncul dengan sendirinya adalah “mengapa ideologi ini masih tetap bertahan hingga saat ini?” dengan kata lain, tambalan paling penting apa yang mampu menopang ideologi yang dipandang sudah berakhir oleh orang-orang yang berfikir cemerlang? Inilah beberapa sebab yang menopang ideologi ini agar tetap berdiri dan terus berkelanjutan. (Bersambung ke part kedua)

Sumber : Al Waie Edisi 397, Rabi’ul Awwal 1441 H

Hits: 0

Tags

Bagikan tulisan ini

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code